16 Tahun Berpisah dengan Keluarga, Saadiah Ditemukan di Kamp Pengungsi Rohingya

Kutupalong, Obsessionnews.com - Ibu Saadiah (45 tahun) akhirnya bisa berkomunikasi via video call dengan keluarganya di Sukabumi, Jawa Barat, setelah 16 tahun berpisah. Rasa haru menyelimutinya. Keluarganya pun mengetahui Saadiah masih hidup. Selama ini keluarga menganggap Saadiah sudah meninggal dunia lantaran tak pernah ada kabar darinya. Sejak tahun 1993, wanita kelahiran, Surade, Sukabumi, tahun 1972 ini bekerja di Arab Saudi sebagai tenaga kerja wanita. Di Sanalah ia bertemu dengan Tauhidul Alam, pria yang akhirnya menjadi suaminya. Dari pernikahan mereka, Saadiah dikaruniai 5 orang anak, masing-masing Abdulhanan Roni (17), Abdulhasnat Obi (15), Abdulwahid Sani (13), Sajedulhanan Eni (11), serta Maria Jahantupa (7). Nasibnya menjadi TKW di Arab Saudi ternyata tidak membawa keberuntungan baginya. Jangankan mengumpulkan uang dari hasil kerjanya, untuk menghidupi keluarganya saja pun susah. Akhirnya sang suami membawa pukang Saadiah bersama anak-anaknya ke Bangladesh. Sejak saat itulah ia kehilangan kontak dengan keluarganya di Indonesia. Nasibnya sama dengan saat di Arab Saudi. Tinggal selama bertahun-tahun di Bangladesh, tidak ada pilihan lain bagi Saadiah bersama suami dan anak-anaknya. Selain berhatan hidup dengan apa adanya mengingat sang suami tidak memiliki pekerjaaan tetap. Tinggal di sekitar wilayah Kutupalong, Cox’s Bazar, Bangladesh, nasib Saadiah tetap tidak berubah. Apalagi sejak suaminya meninggal dunia, Saadiah kesulitan menafkahi dan menyekolahkan anak-anaknya yang masih kecil. Di wilayah Kutupalong ini tinggal kurang lebih 900 ribu pengungsi Rohingya yang beberapa waktu lalu menjadi korban konflik horizontal di Rakhine, Myanmar. Mereka exodus besar-besaran demi menyelamatkan nyawa mereka dari amukan warga Myanmar di Rakhine. Pada suatu hari Saadiah mengetahui ada tim relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dari Indonesia yang membuka posko bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Rohingya. Maka ia berinisiatif mendatangi posko ACT yang terletak di Tengkali, Ukihya, Cox’s Bazar minta dipekerjakan sebagai tim relawan. Disilah, tim relawan ACT, kaget ternyata Saadiyah berasal dari Indonesia yang sudah terpisah lama dengan keluarganya. Tanpa pikir panjang, Saadiah pun dipekerjakan sebagai tim relawan yang tugasnya sebagai juru masak dan penerjemah, mengingat di wilayah ini tidak banyak warga lokal yang bisa berbahasa Inggris. Dengan senang hati Saadiah menerima pekerjaan itu demi menyekolahkan anak-anaknya dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. “Saya bilang ke tim ACT mau kerja di sini, karena gak punya uang. Anak-anak saya butuh biaya. Akhirnya saya dibolehkan kerja disini dan sekarang sudah 6 hari berjalan,” cerita Saadiah saat ditemui di posko ACT di Tengkali, Ukihya, Cox’s Bazar, Bangladesh, Kamis (21/12/2017). Tidak hanya di situ, tim ACT juga memfasilitasi Saadiyah berkomunikasi langsung dengan keluarganya yang ada di Indonesia. Tim ACT perwakilan Sukabumi menyambangi rumah keluarga Saadiah. Akhirnya rasa kangen itu terbayar sudah. Lewat video call Saadiah menyapa keluarganya dari kamp pengungsi ini. “Saya tidak pernah kontak. Setelah dibantu maka saya sudah kontak keluarga, sekarang sudah hampir tiap hari. Awalnya setelah video call keluarga dan saya pun nangis, karena sudah 16 tahun gak pernah berhubungan gak ada kabar. Alhamdulillah senang,” ungkap Saadiah. Kini Saadiah tinggal di dekat Kutupalong, Cox’s Bazar, bersama kelima anaknya, tanpa sang suami. Ia dibantu anak laki-laki tertuanya bekerja keras lagi. Walaupun sudah mendapat pekerjaaan yang sifatnya masih sementara, Saadiah ingin sekali pulang ke Indonesia. Satu atau dua bulan lamanya pun tidak masalah asalkan dia bisa bertatap muka langsung dengan keluarganya. Kalau pun hal itu terwujud, Saadiah tidak akan bisa lama di Indonesia, karena ia bersama anak-anaknya sudah menjadi warga negara Bangladesh. “Saya ingin sekali pulang ke Indonesia. Kalau bisa dibantu ACT buatkan paspor. Selamanya tinggal di sana gak bisa, karena anak-anak sudah warga negara sini, termasuk saya, kami sudah punya KTP sini,” ungkapnya. Saat ditemui di tempat yang sama, Rahadiansyah, koordinator SOS ACT Rohingya untuk Bangladesh, menceritakan awal mulanya tim ACT merasa empati setelah mendengar kisah hidup Ibu Saadiah yang sudah 16 tahun tak pernah tahu kabar keluarganya di Indonesia. Pihaknya pun sedang mengupayakan pembuatan paspor Saadiah supaya bisa pulang ke tanah air. Dan berencana mempekerjakan anak pertamanya sebagai penjaga gudang. “Kita berusaha untuk membantu penghidupan dan mempertemukan dia serta upayakan pulang ke Indonesia. Kita coba buatkan dokumen dan juga kita sedang upayakan untuk pekerjakan anaknya,” ujar Rahadiansyah. (Has)





























