AS Terisolasi di Sidang DK PBB

AS Terisolasi di Sidang DK PBB
Amerika Serikat benar-benar sendiri dan terisolasi selama sidang darurat Dewan Keamanan PBB, menyusul pengakuan al-Quds sebagai Ibukota rezim Zionis Israel oleh Presiden Donald Trump. Pada pertemuan itu, semua 15 anggota tetap dan tidak tetap Dewan Keamanan mengkritik keras keputusan Presiden Amerika Serikat tentang masa depan al-Quds. Dalam sebuah langkah tak terduga, sekutu-sekutu politik AS di antara anggota Dewan Keamanan, termasuk Inggris, Perancis, Jerman, Swedia dan Italia, menentang pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke kota Quds. Selama ini tidak pernah terjadi di mana Washington benar-benar terisolasi ketika membahas sebuah isu penting global. Profesor Elena Suponina, Penasihat Ketua Institut Riset Strategis Rusia menekankan bahwa dunia menentang keputusan Trump mengenai al-Quds dan Amerika harus menyelaraskan tindakannya dengan negara-negara lain. AS sudah beberapa kali dikucilkan dunia sejak Trump berkuasa di Gedung Putih. Ketika Trump mengumumkan penarikan diri AS dari Perjanjian Iklim Paris, tidak ada negara yang mengikuti langkah Washington, dan negara-negara dunia menegaskan bahwa mereka akan mempertahankan perjanjian itu meskipun tanpa AS. Ketika AS menarik diri dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), negara-negara anggota mengatakan mereka akan mematuhi komitmen mereka untuk membangun zona perdagangan bebas tanpa Amerika, dan Cina langsung menyatakan kesiapan untuk memimpin TPP. Keputusan AS keluar dari UNESCO dengan dalih mendukung rezim Zionis, juga tidak menggoyahkan pendirian anggota lainnya, dan semakin membuktikan bahwa Washington tidak memiliki cukup kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain. Pengucilan ini juga terlihat dalam kaitannya dengan kesepakatan nuklir Iran dengan Kelompok 5+1. Trump mengancam akan menarik diri dari kesepakatan itu, namun hampir semua negara dan lembaga-lembaga berpengaruh di kancah internasional menekankan komitmen mereka untuk melanjutkan kesepakatan tersebut. Pendekatan ini menyebabkan Trump bersikap hati-hati dalam merealisasikan ancamannya untuk keluar dari kesepakatan nuklir. [caption id="attachment_222888" align="aligncenter" width="640"] Presiden AS Donald Trump[/caption] Sekarang mengenai topik yang berhubungan dengan Israel, AS benar-benar tidak punya teman dan sendirian. Sebanyak 15 resolusi Dewan Keamanan PBB menetapkan Quds sebagai daerah pendudukan dan keputusan Trump pada dasarnya adalah pelanggaran terhadap semua resolusi ini. Kubu nasionalis Amerika yang diwakili oleh Trump, sedang berusaha untuk memaksakan sebuah tatanan versi Washington tanpa melibatkan kemitraan internasional, termasuk sekutu politik-ekonomi Amerika. Namun, dunia di abad ke-21 tidak ditata oleh keputusan sepihak AS dan kemudian berharap semua negara mengikuti kemauan Washington. Dunia saat ini telah menunjukkan bahwa ia akan melanjutkan jalannya bahkan jika AS tertinggal sendirian. (ParsToday)