Diteliti, 16 Juta Bibit Beras China yang Rusak Indonesia

Diteliti, 16 Juta Bibit Beras China yang Rusak Indonesia
Jakarta, Obsessionnews.com – Inilah pernyataan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo terkait temuan 16 juta bibit beras impor dari China yang merusak bibit padi di Indonesia. “Kementerian Pertanian sedang melakukan penelitian dan hasilnya perlu disosialisasikan. Jangan sampai meningkat pada hal-hal terorisme, untuk itu perlu kerjasama yang baik antara TNI dengan instansi terkait,” kata Panglima TNI menjawab wartawan usai membuka Seminar Sehari Ketahanan Kesehatan Global Dalam Perspektif Pertahanan Negara yang diikuti oleh 400 dokter TNI dan Sipil, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (9/11/2017). Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menambahkan, penting adanya crisis center pada tingkat nasional yang terdiri dari multi instansi seperti Dinas Perhubungan, Kepolisian, Imigrasi, Dinas Kesehatan dan TNI. “Dengan adanya crisis center diharapkan apabila terjadi hal-hal yang berbahaya pada suatu daerah maka dapat diambil langkah tegas dan tepat serta segera diinformasikan pada masyarakat untuk tidak mendekati tempat tersebut,” tandasnya. Panglima TNI menegaskan, Ketahanan Nasional menyangkut berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga aktualisasinya butuh kerjasama dan sinergitas lintas sektoral. Saat ini, ancaman global yang menimpa negara-negara di dunia termasuk Indonesia yang sering dikenal sebagai proxy war salah satunya menggunakan aspek kesehatan sebagai media untuk menghancurkan suatu negara melalui biocrime, bio warfare dan bioterorism. Ia memaparkan, untuk menghadapi berbagai ancaman khususnya bidang kesehatan, bahwa disetiap daerah ada aparat Babinsa sebagai ujung tombak TNI yang bertugas melakukan deteksi dini, cegah dini, temu cepat dan lapor cepat. Namun laporan hasil deteksi dini dari Babinsa perlu segera diambil langkah yang tepat yaitu bekerja sama dengan dokter dan tenaga kesehatan setempat. “Peran dokter menjadi agen pertahanan terdepan dalam melawan ancaman perang biologi maupun bioterorism sangat dibutuhkan,” tuturnya. (Red)