Iran Tidak akan Tertipu AS

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif di akun twitternya menulis, bangsa Iran tidak akan tertipu permainan Amerika dan ungkapan solidaritas palsu. Zarif Kamis (26/10) di akun twitternya menulis, AS di tahun 1953 mengubah pemerintahan di Iran dan sejak tahun 1979 berusaha keras mengulang aksinya tersebut. Iran tidak akan terperangkap tipu daya dan permainan Amerika, tegas Zarif. Zarif menjelaskan, kepalsuan ungkapan solidaritas terhadap bangsa Iran terlihat jelas dengan sikap Presiden AS Donald Trump mengubah nama Teluk Persia, menyebut bangsa Iran sebagai teroris dan melarang kunjungan mereka ke Amerika. Menlu Iran di cuitannya di twitter menulis, AS harus melepaskan klaim palsu berdiri di samping bangsa Iran, rakyat Iran memilih presidennya dengan partisipasi lebih dari 73 persen mereka yang berhak memilih. Bandingkan hal ini dengan presiden AS! Cuitan Zarif mengisyaratkan partisipasi warga Amerika di pemilu presiden terbaru negara ini hanya sekitar 60 persen. Menjelang pengambilan voting draf yang diajukan dua senator kubu Republik di Kongres AS untuk menambah sanksi anti Iran, Menlu AS Rex Tillerson mengklaim, "Konfrontasi kami bukan dengan rakyat Iran, friksi Kami dengan rezim Revolusi." Statemen menlu AS ini dirilis ketika Washington senantiasa mendukung berbagai kelompok teroris dan anti revolusi, mendukung agresi rezim Ba'ath Irak ke Iran, menjatuhkan sanksi zalim dan menebar konspirasi dengan dalih melawan arus Revolusi Islam. Tapi seluruh upaya Washington tersebut gagal.
Kebohongan HAM dari Politik AS dan Kroninya Mencegah sebuah bangsa menikmati hak-haknya dengan alasan politik, bertentangan dengan piagam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan ketentuan kemanusiaan. Sekretaris Komisi Hak Asasi Manusia Lembaga Yudikatif Iran, Mohammad Javad Larijani, dalam wawancaranya dengan IRIB, Selasa malam (24/10/2017), mengatakan, para pengklaim pembela HAM termasuk Amerika Serikat, memiliki rapor sangat buruk dalam hal ini karena tangan mereka telah terlumuri darah rakyat Yaman, Bahrain, Irak dan Suriah. Tujuan-tujuan HAM tidak dapat dicapai di bawah bayang-bayang standar ganda hak asasi manusia. HAM akan bermanfaat dalam meningkatkan nilai-nilai prinsipil kemanusiaan seperti keadilan dan kesetaraan, jika praktik standar ganda dan permainan politik dihindari. Amerika Serikat sedang berbicara soal hak asasi manusia di saat Washington mengolok-olok esensi utama HAM dan bahkan menentukan persyaratan dalam keanggotaannya di lembaga-lembaga HAM. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson beberapa waktu terakhir dalam hal ini mengatakan, "… Dewan HAM PBB adalah salah satu lembaga yang kami ada di dalamnya, akan tetapi ada hubungan jelas antara berlanjutnya partisipasi AS di Dewan ini dan perilakunya terhadap Israel." Robert Fantina, analis HAM Amerika Serikat dalam wawancaranya dengan IRIB pada 3 Juli lalu, menyinggung kontradiksi luas dalam politik Amerika Serikat dalam memperjuangkan HAM dan mengatakan, HAM Amerika Serikat berhubungan langsung dengan pendapatan minyak dan kepentingan finansial, oleh karena itu HAM akan berarti jika kepentingan finansial AS terpenuhi. Peneliti Amerika Serikat ini juga mengatakan, lembaga-lembaga internasional karena kekhawatiran pemutusan dukungan dana dan sanksi dari AS, mereka bungkam di hadapan kejahatan rezim Zionis dan rezim Al Saud di Suriah, Yaman dan Palestina. Oleh karena itu, negara-negara yang mendapat dukungan Amerika Serikat dengan mudah dapat berbuat kejahatan dan tanpa merasa khawatir akan terjebak masalah. Rania Khalek, penulis dan analis Amerika Serikat dalam laman Twitternya menyinggung serangan brutal Arab Saudi terhadap rakyat tertindas Yaman dan menyebutkan, di Yaman setiap jam, seorang warga meninggal dunia karena terjangkit wabah, dan sebab dari penyebaran wabah di Yaman adalah bombardir terhadap Yaman dan blokade oleh Arab Saudi yang didukung Amerika Serikat. Di saat, Arab Saudi telah dikenal sebagai sumber ekstrimisme dan terorisme di dunia, namun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru mengikuti tarian pedang bersama Raja Arab Saudi. Tidak diragukan lagi bahwa, memerah profit dari negara-negara Arab kaya minyak, lebih utama bagi Amerika Serikat dan Inggris ketimbang masalah hak asasi anusia. Musuh terburuk HAM dan aktivis HAM di dunia adalah pemanfaatan isu ini untuk tujuan-tujuan politik. Ini adalah strategi yang digunakan rezim-rezim adidaya seperti Amerika Serikat untuk menekan atau bahkan menyerang negara lain. (ParsToday)
Kebohongan HAM dari Politik AS dan Kroninya Mencegah sebuah bangsa menikmati hak-haknya dengan alasan politik, bertentangan dengan piagam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan ketentuan kemanusiaan. Sekretaris Komisi Hak Asasi Manusia Lembaga Yudikatif Iran, Mohammad Javad Larijani, dalam wawancaranya dengan IRIB, Selasa malam (24/10/2017), mengatakan, para pengklaim pembela HAM termasuk Amerika Serikat, memiliki rapor sangat buruk dalam hal ini karena tangan mereka telah terlumuri darah rakyat Yaman, Bahrain, Irak dan Suriah. Tujuan-tujuan HAM tidak dapat dicapai di bawah bayang-bayang standar ganda hak asasi manusia. HAM akan bermanfaat dalam meningkatkan nilai-nilai prinsipil kemanusiaan seperti keadilan dan kesetaraan, jika praktik standar ganda dan permainan politik dihindari. Amerika Serikat sedang berbicara soal hak asasi manusia di saat Washington mengolok-olok esensi utama HAM dan bahkan menentukan persyaratan dalam keanggotaannya di lembaga-lembaga HAM. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson beberapa waktu terakhir dalam hal ini mengatakan, "… Dewan HAM PBB adalah salah satu lembaga yang kami ada di dalamnya, akan tetapi ada hubungan jelas antara berlanjutnya partisipasi AS di Dewan ini dan perilakunya terhadap Israel." Robert Fantina, analis HAM Amerika Serikat dalam wawancaranya dengan IRIB pada 3 Juli lalu, menyinggung kontradiksi luas dalam politik Amerika Serikat dalam memperjuangkan HAM dan mengatakan, HAM Amerika Serikat berhubungan langsung dengan pendapatan minyak dan kepentingan finansial, oleh karena itu HAM akan berarti jika kepentingan finansial AS terpenuhi. Peneliti Amerika Serikat ini juga mengatakan, lembaga-lembaga internasional karena kekhawatiran pemutusan dukungan dana dan sanksi dari AS, mereka bungkam di hadapan kejahatan rezim Zionis dan rezim Al Saud di Suriah, Yaman dan Palestina. Oleh karena itu, negara-negara yang mendapat dukungan Amerika Serikat dengan mudah dapat berbuat kejahatan dan tanpa merasa khawatir akan terjebak masalah. Rania Khalek, penulis dan analis Amerika Serikat dalam laman Twitternya menyinggung serangan brutal Arab Saudi terhadap rakyat tertindas Yaman dan menyebutkan, di Yaman setiap jam, seorang warga meninggal dunia karena terjangkit wabah, dan sebab dari penyebaran wabah di Yaman adalah bombardir terhadap Yaman dan blokade oleh Arab Saudi yang didukung Amerika Serikat. Di saat, Arab Saudi telah dikenal sebagai sumber ekstrimisme dan terorisme di dunia, namun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru mengikuti tarian pedang bersama Raja Arab Saudi. Tidak diragukan lagi bahwa, memerah profit dari negara-negara Arab kaya minyak, lebih utama bagi Amerika Serikat dan Inggris ketimbang masalah hak asasi anusia. Musuh terburuk HAM dan aktivis HAM di dunia adalah pemanfaatan isu ini untuk tujuan-tujuan politik. Ini adalah strategi yang digunakan rezim-rezim adidaya seperti Amerika Serikat untuk menekan atau bahkan menyerang negara lain. (ParsToday) 




























