Empat Faktor Elektabilitas Golkar Terus Menurun

Jakarta, Obsessionnews.com - Berdasarkan tim kajian elektabilitas DPP Partai Golkar disimpulkan, bahwa partai berlambang Pohon Beringin ini elektabilitasnya semakin menurun dalam dua tahun terakhir. Setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan Partai Golkar ditinggal suaranya oleh masyarakat. Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar DPR Ridwan Hisjam mengatakan, empat faktor itu adalah pertama, dimulai dengan adanya konflik berkepanjangan antara Golkar kubu Agung Laksono dan Golkar kubu Aburizal Bakrie. Kedua, lemahnya konsolidasi di internal partai. Ketiga, Golkar menjadi salah satu partai yang mendukung Pansus Hak Angket KPK. "Keempat tidak dipungkiri adalah adanya kasus e-KTP yang melibatkan banyak tersangka, termasuk dari Golkar," ujar Ridwan saat ditemui pada acara Hari Batik Nasional di Malang, Senin (2/10/2017). Menurut Ridwan DPP mencermati bahwa dari berbagai persoalan tersebut rakyat tidak senang dengan kebijakan Partai Golkar. Misalnya terkait dukungan terhadap Pansus Hak Angket KPK. Meski DPR menilai KPK perlu dilakukan pengawasan, agar tugas dan kinerjanya sesuai dengan prosedur. Tapi tetap masyarakat banyak yang menolak. "Kalau kita baca kan kehendak rakyat minta KPK didukung. Tapi DPR melihat fenomenanya KPK ini super body, sehingga DPR perlu melakukan pengkajian dan pengawasan, cuman momentnya kurang pas," terangnya. Momen yang dimaksud adalah Pansus Hak Angket KPK ini berbarengan dengan kasus korupsi e-KTP yang diduga melibatkan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto. Dengan mendukung Pansus, maka Golkar dinilai oleh masyarakat melakukan manuver untuk membebaskan Setya Novanto dengan berbagai cara. "Momennya tidak tepat, karena opini masyarakat mengarah untuk mengamankan KPK agar e-KTP ini bisa ditutup," jelasnya. Rekomendasi dari tim kajian elektabilitas Partai Golkar lanjut Ridwan akan dibahas lebih lanjut di dalam rapat pleno. Tentunya kata dia, Golkar sebagai representasi suara rakyat akan mendengar dan mempertimbangkan masukkan dan kritikan dari semua pihak. (Albar)





























