Salibu Jarwo Super Tingkatkan Indeks Pertanaman Lahan Tadah Hujan

Salibu Jarwo Super Tingkatkan Indeks Pertanaman Lahan Tadah Hujan
Mengayuh peluang di tengah kondisi keterbatasan air, petani Gapoktan Sri Waluyo Tani mencoba menerapkan Salibu Jarwo Super dalam budidaya padi sambil menunggu hadirnya curah hujan yang cukup untuk memulai musim tanam pertama. Petani berharap masih bisa mendapatkan hasil panen padi pada jeda antar musim tanam sekitar 2 (dua) bulan ini. Uniknya, hasil panen ini dapat diperoleh tanpa petani perlu melakukan pengolahan lahan, persemaian, dan pindah tanam yang membutuhkan banyak waktu, biaya, dan tenaga kerja sebagaimana umumnya bercocok tanam padi. Rata-rata petani mengolah lahan sekitar 1 – 2 minggu per hektar untuk membersihkan, mencangkul/mentraktor, membajak, menggaru,dan mendiamkan lahannya sampai siap pindah tanam dengan biaya cukup besar untuk sewa traktor, bahan bakar dan tenaga kerja. Persemaian membutuhkan waktu sekitar 14 – 21 hari, dan memerlukan waktu 2 – 3 hari untuk pencabutan bibit dan pindah tanam, juga membutuhkan biaya pembelian benih dan tenaga kerja yang tidak sedikit. Waktu yang panjang, tenaga kerja dan biaya-biaya yang banyak tersebut tidak perlu dikeluarkan dengan teknik budidaya Salibu Jarwo Super yang diperkenalkan oleh Tim Peneliti KP4S Salibu Jarwo Super kerja sama Universitas Jenderal Soedirman dengan Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian RI. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa penanaman padi dengan teknik budidaya salibu jarwo super ini merupakan terobosan teknologi yang dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) lahan marjinal tadah hujan pada kondisi terbatas air dengan penghematan waktu, biaya, dan tenaga kerja. Hal ini terungkap dalam rangkaian acara Panen Jarwo Super Inpago Unsoed 1, Pencanangan Salibu Jarwo Super dan menjadi pembuka diskusi Focus Group Discussion Kaji Terap Teknologi Salibu Jarwo Super untuk Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) pada Lahan Marginal Tadah Hujan yang dilaksanakan hari, Selasa, 05 September 2017 di lahan percobaan dan Balai Desa Karangtengah Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. [caption id="attachment_208552" align="aligncenter" width="640"] Pencanangan Salibu Jarwo Super[/caption] Acara tersebut dihadiri oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah Dr.Ir.Anisur Rosyad,M.S., LPPM Unsoed, Kabid tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, Koordinator BPP Kec. Kemangkon, Kab, Purbalingga, Ketua dan Pengurus Gapoktan Sri Waluyo Tani, serta tim peneliti dari Unsoed dan Balitbangtan. Tim Peneliti Program Kerjasama Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Pertanian Strategis (KP4S), Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ini diketuai oleh Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D. beranggotakan peneliti Balitbangtan Dr.Ir.Wiratno,M.Env.Mgt. dan peneliti UNSOED Dr.Ir. Noor Farid,M.Si., Dyah Susanti,S.P.,M.P., dan Agus Riyanto,S.P.,M.Si. Prof. Totok Agung merupakan Direktur Program Pascasarjana Unsoed yang telah menghasilkan padi varietas unggul padi gogo aromatik dan padi protein tinggi, serta mengembangkan teknologi terintegrasi Salibu jarwo Super, Superbodi serta budidaya padi terintegrasi tanaman perkebunan. Teknologi Salibu Jarwo Super merupakan penyempurnaan teknologi Salibu yang telah dikembangkan oleh Balitbangtan, dilakukan dengan memadukan konsep Jarwo Super dengan Salibu. Yakni, produksi padi yang dilakukan dengan menumbuhkan kembali tunas rumpun padi yang sebelumnya dibudidayakan secara Jarwo Super secara intensif dengan melibatkan pupuk hayati, biodekomposer, pengendaliah hama-penyakit terpadu serta mekanisasi. Komponen teknologi utama yang dihadirkan dalam kaji terap ini di antaranya penggunaan varietas unggul padi yang toleran kekeringan, berdaya hasil tinggi, memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta responsif terhadap teknik budidaya salibu dan pupuk organik. Beberapa varietas padi yang potensial untuk dibudidayakan secara salibu di antaranya adalah Inpago Unsoed 1 yang telah terbukti mampu berproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan padi Mekongga yang ditanam secara tanam pindah pada pertanian terpadu di Desa Gandrungmanis Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. [caption id="attachment_208554" align="aligncenter" width="640"] Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D., Dr.Ir.Wiratno,M.Env.Mgt.[/caption] Inpago Unsoed 1 yang dirakit oleh Prof.Dr.Ir.Suwarto,M.S dan Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D. ini memiliki ketahanan terhadap kekeringan, daya hasil yang tinggi di lahan kering maupun di lahan sawah, tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan blas leher batang ras 133, responsif organik, serta memiliki daya regenerasi lebih dari 95%, sehinggga potensi hasil jika dibudidayakan secara salibu dapat mendekati hasilnya pada saat dibudidayakan secara tanam pindah. Galur padi protein tinggi yang dihasilkan oleh peneliti Unsoed juga sebelumnya terbukti memliki daya regenerasi tinggi, sehingga mampu berproduksi tinggi jika dibudidayakan secara salibu. Varietas unggul padi lain yang juga potensial dikembangkan secara salibu di antaranya adalah Inpari 24 dan Inpari 32 yang dihasilkan oleh Balitbangtan. Penggunaan varietas unggul padi dan galur padi protein tinggi yang dihasilkan oleh UNSOED dan Balitbangtan ini menjadi materi dasar kaji terap Salibu Jarwo Super yang dilaksanakan di Desa Karangtengah, Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga, ditambah varietas Situbagendit yang banyak ditanam oleh petani setempat sebagai pembanding. Dyah Susanti SP MP (Sekretaris Pusat Penelitian Tanaman Padi dan Kedelai LPPM UNSOED) memaparkan, komponen teknologi utama yang diaplikasikan dalam Salibu Jarwo Super ini adalah Bioprotector dan mekanisasi. Biopretector merupakan bopestisida nabati hasil penelitian Dr.Ir.Wiratno,M.Env.Mgt, peneliti Balitbangtan yang saat ini menjabat sebagai Kepala Balai Penelitian rempah dan Obat (Balittro), Bogor. Perlindungan tanaman, jelas Dyah Susanti, merupakan hal yang sangat penting dalam budidaya Salibu Jarwo Super, karena mensyaratkan kondisi tanaman padi yang sehat untuk dapat ditumbuhkan kembali tunasnya untuk pertanaman berikutnya. [caption id="attachment_208560" align="aligncenter" width="640"] Lahan Marginal Tadah Hujan[/caption] Ia menegaskan, pengendalian hama dan penyakit tanaman menggunakan biopestisida bioprotector inovasi Dr.Ir.Wiratno,M.Env.Mgt yang juga merupakan alumnus Fakultas Pertanian Unsoed angkatan 1985 ini telah terbukti mampu mencegah, mengendalikan, dan meningkatkan ketahanan tanaman padi yang dibudidayakan secara Jarwo Super, sehingga terjaga kesehatannya untuk dapat dilanjutkan ke budidaya secara Salibu Jarwo Super. Menurut Dyah Susanti, pada kondisi serangan hama wereng batang coklat besar-besaran di Kabupaten Purbalingga, petani Desa Karangtengah yang mengaplikasikan Biopreotector tetap bisa panen dengan penurunan hasil yang tidak terlalu besar, kurang dari 30%. "Tanpa penggunaan Bioprotector, petani di sekitar lokasi percobaan kehilangan hasil 50% hingga 90%, bahkan ada yang mengalami gagal panen. Mekanisasi merupakan salah satu komponen teknologi yang ditujukan untuk mempercepat dan mengurangi biaya tenaga kerja,” tuturnya. Di akhir acara, Dyah Susanti memberikan data-data hasil acara Panen Jarwo Super Inpago Unsoed 1 pada hari Selasa, 05 September 2017 di lahan percobaan dan Balai Desa Karangtengah Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sebagai berikut : Provitas Jarwo Super : Inpari 32 dengan bioprotector 8,9 ton/ha, Inpari 32 tanpa bioprotector 6,16 ton/ha, Inpago Unsoed 1 dengan Bioprotector 9,4 ton/ha, Inpago Unsoed 1 tanpa Bioprotector 7,896ton /ha. Berdasarkan data tersebut, terbukti bahwa Bioprotector mampu meningkatkan produksi padi yang dibudidayakan secara Jarwo Super. Varietas Inpari 32 meningkat produksinya sebesar 44,48%, sedangkan produksi Inpago Unsoed 1 meningkat 18,83%. Jarwo Super Inpago Unsoed 1 yang diaplikasi Bioprotector berdasarkan hasil kaji terap mencapai produksi tertinggi yaitu 9,4 ton/ha, jauh lebih tinggi dibandingkan rerata produksi varirtas lain pada musim tanam April-September di Desa Karangtengah yang hanya berkisar 7 ton/ha. [caption id="attachment_208562" align="aligncenter" width="267"] Lahan Marginal Tadah Hujan[/caption] Tingginya produksi Inpago Unsoed 1 yang diaplikasi Bioprotector ini disebabkan karena kemampuannya menekan kehilangan hasil akibat serangan hama wereng batang coklat yang bersifat ganda. Penyebab pertama ketahanannya terhadap wereng batang coklat biotipe 1 yang bersifat genetis, dan yang kedua, ketahanan yang diperoleh dari Bioprotector. Di akhir acara Focus Group Discussion, salah satu alat mesin pertanian yang dikenalkan pada program Pencanangan Salibu Jarwo Super adalah alat panen yang dapat memangkas rumpun padi hingga ke bagian bawah, yang merupakan modifikasi dari alat pemotong rumput, yang diserahterimakan oleh Dekan Fakultas Pertanian Unsoed Dr.Ir.Anisur Rosyad,M.S. kepada Gapoktan Sri Waluyo Tani dalam acara pencanangan Salibu Jarwo Super. Menurut Dyah Susanti SP MP, penerapan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam menghadapi kendala produksi pertanian melalui kerja sama perguruan tinggi dan lembaga penelitian diharapkan mampu membangun sinergi dalam pembangunan pertanian Indonesia. Acara Panen Jarwo Super Inpago Unsoed 1 dan Pencanangan Salibu Jarwo Super dilakukan Selasa (5/9/2017), di lahan percobaan kaji terap Desa Karangtengah Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dan dilanjutkan Focus Group Discussion Kaji Terap Teknologi Salibu Jarwo Super untuk Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) pada Lahan Marginal Tadah Hujan di Balai Desa Desa Karangtengah Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. (Red)