MUI: Aung San Suu Kyi Layak Dihukum Mati

Jakarta, Obsessionnews.com - Tentara dan bangsa Myanmar telah membantai kaum Muslim Rohingya di Myanmar secara kejad dan biadab di luar perikemanusiaan. Di Negara yang mayoritas dihuni kaum Budha itu, ribuan muslim dan perempuan serta anak-anak disiksa dan bahkan dibunuh secara sadis. Dipotong-potong kakinya, tangannya pelan-pelan dalam keadaan masih hidup, disobek perutnya, lalu dipotong kepalanya, dan ada yang dibakar hidup-hidup. Untuk itu, dunia wajib menghukum rezim pemerintah Myanmar pimpinan Aung San Suu Kyi atas kebiadaban sistematis terhadap warga muslim minoritas Rohingya. Sedangkan Indonesia sebagai negara mayoritas Islam terbesar dunia harus jadi pelopor sanksi internasional atas Myanmar. “Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, harus jadi pelopor agar PBB mengirim pasukannya ke Myanmar, dan segera mencabut hadiah nobel serta menghukum mati An San Su Kyi pemimpin Myanmar saat ini,” tegas Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anton Digdoyo, Kamis (31/8/2017). Anton juga mendesak pencabutan Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi yang dulunya sebagai pejuang HAM dan kini menjadi pemimpin Myanmar. "Cabut Nobel Perdamaian dan hukum mati Aung San Suu Kyi pemimpin Myanmar saat ini!" seru Pengurus MUI. "Begitu kejamnya bangsa Myanmar. Tapi, Dubes Indonesia untuk Myanmar konon masih bilang Myanmar paling toleran. Atas dasar apa dia bicara begitu? Aneh," ungkap Anton. Ia mengungkapkan, kekejaman militer Myanmar terhadap etnis Rohingya sudah berulangkali terjadi sehingga menimbulkan gelombang pengungsian besar-besaran ke Bangladesh dan negara-negara lain di Asia. Banyak sekali di antara pengungsi yang wafat dalam perjalanan karena menggunakan perahu kecil dan bekal seadanya ke lautan lepas. "Bukan hanya tuntut hadiah nobelnya (Suu Kyi) dicabut, tapi juga minta dihukum mati atas kejahatan kemanusiaan tak terperi di abad 21 ini. Dan saya harap negara-negara Asean keluarkan Myanmar dari kelompok Asean," tegas Anton. Anton menyebutkan, kebiadaban Myanmar kepada umat Islam yang minoritas tersebut sudah berulangkali, sampai menimbulkan gelombang pengungsi besar-besaran. Selain ribuan umat muslim Rohingya tewas dibantai, ribuan dari mereka juga tewas dilaut karena kapal yang mengangkut mereka banyak yang karam. Dunia marah dengan Aun San Su Ky karena begitu bengis setelah berkuasa. Dunia bukan hanya menuntut hadiah nobelnya dicabut, tapi juga meminta ia dihukum mati atas kejahatan kemanusian tersebut. (Red)





























