Memahami Realitas vs Realisme

Oleh: Prof. Fahmi Amhar REALITAS adalah menerima suatu kenyataan sebagai bagian dari qadha (Rencana Tuhan), yang sebagian sudah terjadi dan tidak bisa diubah, dan sebagian lain masih bisa diubah, dan Allah memerintahkan kita untuk mengubahnya, agar ke depan lebih baik. REALISME adalah menerima suatu kenyataan sebagai bagian dari qadha (Rencana Tuhan), yang kesemuanya sudah terjadi dan tidak bisa dan tidak perlu diubah. Pendek kata, semua yang sudah terjadi adalah yang terbaik dan harga mati. Contoh: 1. Mukidi adalah anak keluarga miskin yang pintar bernyanyi. Kalau Mukidi seorang penganut Realitas, maka hidup Mukidi tidak akan neko-neko, tidak akan minta pakai sepatu Nike, ngopi di Starbuck, dan nonton konser. Mukidi juga tidak maksa punya smartphone Samsung S7 dan pergi ke sekolah naik motor Ninja. Tapi boleh saja Mukidi berusaha keras agar keluar dari lingkaran kemiskinan itu. Dia rajin memulung barang yang masih bisa direcycle dari tempat sampah. Atau dia nyemir sepatu di depan hotel. Uang yang didapat sebagian dia tabung agar bisa beli smartphone second dan beli paket data, agar dia bisa membuat vlog di youtube, yang menunjukkan kemampuannya bernyanyi, dan ternyata di-like 1 juta orang, sehingga selain dapat penghasilan iklan dari youtube, dia mulai dilirik oleh industri hiburan. Kalau Mukidi seorang penganut Realisme, maka hidup Mukidi selain tidak neko-neko juga stagnan. Dia tetap menjalani hidupnya seperti keluarganya memberi contoh, jadi pemulung, sampai ketika dewasa juga menikah sesama pemulung, dan punya anak yang juga jadi pemulung ... 2. Negeri Kethoprak adalah negeri miskin, banyak utang, namun punya pejabat-pejabat yang goblok dan sombong, sedang rakyatnya ada yang ikutan globlok, namun juga ada yang pintar dan tidak sombong, walaupun jumlahnya sedikit. Rakyat yang pintar, biasanya penganut Realitas. Mereka mengakui bahwa Negeri Kethoprak adalah negerinya, dengan segala kekurangannya. Mereka tidak mengingkari taqdir, bahwa mereka lahir di sana, besar di sana, makan minum di sana. Tetapi mereka paham, bahwa Negeri Kethoprak itu bisa lebih baik dari itu. Karena itu mereka membuat gerakan pencerdasan, agar rakyatnya jadi pintar dan tidak sombong. Kalau rakyatnya pintar, nanti akan muncul pejabat-pejabat yang pintar, sehingga Negeri Kethoprak tidak akan miskin lagi. Rakyat yang goblok (dan sombong), biasanya penganut Realisme. Mereka berpikir, bahwa status Negeri Kethoprak saat ini adalah taqdir, status final, harga mati, tidak bisa dan tidak perlu diutik-utik lagi. Setiap gerakan pencerdasan akan dianggap melawan taqdir, melawan "kersaning Gusti", "radikal", jadi tidak boleh ada, harus dibubarkan, bahkan bila perlu dipidana. Nah, terserah Anda: mau pro Realitas atau pro Realisme ? #BelajarUslubFilsafat





























