Director of Samsonite Indonesia, Ratih Darmawan Gianda

Memilih bekerja di perusahaan yang masih belum besar dan terlibat dalam proses panjang membesarkannya menjadi keasyikan tersendiri bagi seorang Ratih.
Saat tahun 1992 Ratih Darmawan Gianda bergabung dengan PT Mitra Adiperkasa (MAP) Tbk, perusahaan ini masih terbilang kecil dengan nama awal Mitra Prima. Namun, dengan prediksi kelak perusahaan ini akan berkembang besar, dia pun tak tergiur untuk hengkang ke perusahaan lain. “Saya diberi keleluasaan untuk berkreativitas dan ini merupakan tantangan menarik, karena saya bisa mempraktekkan ilmu yang saya dapat sewaktu kuliah. Setelah sekitar tiga tahun memegang corporate sales produk golf yang saat itu masih awam, saya kemudian ditantang untuk menangani bidang operasional. Padahal saat itu, saya masih belum bisa main golf,” ujarnya berterus terang. Dari hanya menangani tiga brand akhirnya berkembang sampai 20 merek. Setelah 12 tahun dan MAP kemudian go public, dia ditawari tugas baru sebagai group head investor relations. Padahal Ratih tidak memiliki pengalaman di bidang ini, namun karena paham mengenai dunia finance, senang riset, dan analisis, dia pun tak bisa menolaknya. “Perusahaan MAP kemudian untuk pertama kalinya melakukan joint venture dengan Samsonite. Lagi-lagi karena tidak ada pilihan lain, saya akhirnya ditunjuk sebagai leader untuk menangani posisi sebagai direktur di sini,” lanjutnya seraya tersenyum. Tahun lalu menurutnya merupakan masa yang cukup menantang bagi bisnis Samsonite. Namun, dia tetap merasa bersyukur ekonomi saat ini mulai membaik. Seiring dengan nilai tukar rupiah yang cukup stabil, begitu pun pertumbuhan ekonominya dengan nilai inflasi yang rendah. Sehingga berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat dan juga untuk bisnis koper maupun tas. Dia menerangkan, “Apalagi Samsonite, bukan merupakan mono brand sudah ada varian lainnya seperti Samsonite Red, Tumi, American Tourister, Hartman, High Siera, Lipault, dan Kamiliant. Sehingga pangsa pasarnya semakin luas, dengan target market dari anak anak sampai dewasa.” Untuk bisnis koper, travelling memang sudah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat sekarang ini. Dengan adanya berbagai koper dan tas di bawah Samsonite untuk segala umur, maka di semester satu ini Ratih berkata bisnis perusahaannya tumbuh positif dan semoga terus meningkat sampai akhir tahun. Ditanya mengenai adakah persiapan yang dia lakukan untuk masa tua nanti, seraya tersenyum dia menanggapi, “Masa tua adalah sesuatu yang alami. Jadi, tidak ada persiapan khusus. Saya hanya harus terus menyempatkan diri berolah raga, makan sehat, dan minum vitamin. Lalu, paling penting juga adalah mengurangi stres, meskipun susah dihindari. Saya tetap ingin terus beraktivitas seperti menjadi konsultan ritel, melakukan kegiatan sosial, dan keliling dunia, supaya nanti tidak cepat pikun.” (Naskah: Elly Simanjuntak, Foto: Edwin Budiarso) Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2017. https://youtu.be/h2GT0WcnH8Y
Saat tahun 1992 Ratih Darmawan Gianda bergabung dengan PT Mitra Adiperkasa (MAP) Tbk, perusahaan ini masih terbilang kecil dengan nama awal Mitra Prima. Namun, dengan prediksi kelak perusahaan ini akan berkembang besar, dia pun tak tergiur untuk hengkang ke perusahaan lain. “Saya diberi keleluasaan untuk berkreativitas dan ini merupakan tantangan menarik, karena saya bisa mempraktekkan ilmu yang saya dapat sewaktu kuliah. Setelah sekitar tiga tahun memegang corporate sales produk golf yang saat itu masih awam, saya kemudian ditantang untuk menangani bidang operasional. Padahal saat itu, saya masih belum bisa main golf,” ujarnya berterus terang. Dari hanya menangani tiga brand akhirnya berkembang sampai 20 merek. Setelah 12 tahun dan MAP kemudian go public, dia ditawari tugas baru sebagai group head investor relations. Padahal Ratih tidak memiliki pengalaman di bidang ini, namun karena paham mengenai dunia finance, senang riset, dan analisis, dia pun tak bisa menolaknya. “Perusahaan MAP kemudian untuk pertama kalinya melakukan joint venture dengan Samsonite. Lagi-lagi karena tidak ada pilihan lain, saya akhirnya ditunjuk sebagai leader untuk menangani posisi sebagai direktur di sini,” lanjutnya seraya tersenyum. Tahun lalu menurutnya merupakan masa yang cukup menantang bagi bisnis Samsonite. Namun, dia tetap merasa bersyukur ekonomi saat ini mulai membaik. Seiring dengan nilai tukar rupiah yang cukup stabil, begitu pun pertumbuhan ekonominya dengan nilai inflasi yang rendah. Sehingga berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat dan juga untuk bisnis koper maupun tas. Dia menerangkan, “Apalagi Samsonite, bukan merupakan mono brand sudah ada varian lainnya seperti Samsonite Red, Tumi, American Tourister, Hartman, High Siera, Lipault, dan Kamiliant. Sehingga pangsa pasarnya semakin luas, dengan target market dari anak anak sampai dewasa.” Untuk bisnis koper, travelling memang sudah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat sekarang ini. Dengan adanya berbagai koper dan tas di bawah Samsonite untuk segala umur, maka di semester satu ini Ratih berkata bisnis perusahaannya tumbuh positif dan semoga terus meningkat sampai akhir tahun. Ditanya mengenai adakah persiapan yang dia lakukan untuk masa tua nanti, seraya tersenyum dia menanggapi, “Masa tua adalah sesuatu yang alami. Jadi, tidak ada persiapan khusus. Saya hanya harus terus menyempatkan diri berolah raga, makan sehat, dan minum vitamin. Lalu, paling penting juga adalah mengurangi stres, meskipun susah dihindari. Saya tetap ingin terus beraktivitas seperti menjadi konsultan ritel, melakukan kegiatan sosial, dan keliling dunia, supaya nanti tidak cepat pikun.” (Naskah: Elly Simanjuntak, Foto: Edwin Budiarso) Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2017. https://youtu.be/h2GT0WcnH8Y 




























