Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo

Peran Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sangat berpengaruh dalam menggerakan pasukan atau alat pertahanan negara. Karena itu tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah salah satu tugas berat yang diembannya sebagai Panglima TNI.
Pria yang pernah menjadi Komandan Kodiklat TNI-AD, Pangdam V/Brawijaya dan Gubernur Akmil ini resmi menjabat sejak 8 Juli 2015. Kariernya naik ke puncak komando institusi TNI dari posisi Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30. https://www.youtube.com/watch?time_continue=25&v=fRKCz5_NOeM Tak lama setelah menjabat Panglima TNI, Gatot segera mengidentifikasi salah satu masalah yang dihadapi prajurit TNI selama ini, yakni perkara kesejahteraan. Pada 2016 lalu, ia berhasil meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI dalam bentuk pemberian gaji ke-13, ke-14 serta tunjangan kinerja ke-13. Meski berada di puncak pimpinan Angkatan Darat saat menjabat KSAD, Gatot tak segan turun dan bersama-sama anak buahnya di lapangan. Di antaranya keterlibatan TNI AD yang terjun langsung untuk membangun rumah murah, perbaikan jalan rusak, membersihkan sungai dan pantai. Ia bahkan ikut turun ke sawah membantu petani menanam padi. Jenderal Gatot pun bukan prajurit karbitan. Ia tiba pada kursi pucuk pimpinan karena kinerja dan capaian-capaian lainnya. Bahkan Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Haris Azhar, menilai Gatot tidak memiliki catatan pelanggaran HAM, suatu momok yang biasanya dilekatkan para pegiat HAM kepada petinggi militer. Sukses Polri yang didukung TNI dalam menumpas gerombolan teroris pimpinan Santoso di Poso, Sulawesi Tengah, juga bisa dimasukkan dalam daftar prestasi Gatot. Belum lagi operasi pembebasan sandera yang beberapa waktu lalu dilakukan oleh unit khusus TNI, juga berhasil membawa pulang dengan selamat semua sandera asal Indonesia yang ditahan oleh pihak ekstrimis di Filipina. Berkat TNI yang sangat efektif dalam penumpasan teroris, Presiden Filipina Rodrigo Duterte dilansir dari Reuters via Nusantara, secara terbuka kepada media mengungkapkan pada Juni 2017 lalu, jika memang dirinya punya pilihan, ia tidak akan memilih bantuan dari AS, melainkan ia akan memilih TNI untuk bisa menyelesaikan masalah teroris di Marawi. Mengantisipasi pergerakan kelompok radikal ISIS atau Negara Islam Irak dan Suriah dari Marawi masuk ke Indonesia, Jenderal Gatot mengatakan TNI yang pertama kali mengerahkan kapal-kapal perang untuk berpatroli di sepanjang laut mulai dari Maluku Utara sampai ke Sulawesi Tengah. “Kemudian di Tarakan (Kalimantan Utara) juga dikerahkan kapal perang, kami juga bekerja sama dangan angkatan Filipina dan Malaysia”. TNI juga mengerahkan operasi intelijen mulai dari Maluku Utara, Morotai kemudian pulau-pulau terluar sampai ke wilayah Sulawesi. “Dari Tarakan juga dikerahkan pasukan untuk menjaga pantai dan pelabuhan ‘tikus’. Tentu juga bekerja sama dengan kepolisian dan seluruh komponen masyarakat,” ujarnya. Panglima TNI berpesan, bangsa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Potensi itu bukan tidak mungkin menjadi petaka bagi bangsa ini. Karena itu semua harus waspada. “Jangan sampai negeri ini jadi kancah konflik antar-agama dan internal kaum muslimim. Indonesia sangat diinginkan untuk diperebutkan. Jadi kita harus waspada,” pungkasnya. (Gia)Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017
Pria yang pernah menjadi Komandan Kodiklat TNI-AD, Pangdam V/Brawijaya dan Gubernur Akmil ini resmi menjabat sejak 8 Juli 2015. Kariernya naik ke puncak komando institusi TNI dari posisi Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30. https://www.youtube.com/watch?time_continue=25&v=fRKCz5_NOeM Tak lama setelah menjabat Panglima TNI, Gatot segera mengidentifikasi salah satu masalah yang dihadapi prajurit TNI selama ini, yakni perkara kesejahteraan. Pada 2016 lalu, ia berhasil meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI dalam bentuk pemberian gaji ke-13, ke-14 serta tunjangan kinerja ke-13. Meski berada di puncak pimpinan Angkatan Darat saat menjabat KSAD, Gatot tak segan turun dan bersama-sama anak buahnya di lapangan. Di antaranya keterlibatan TNI AD yang terjun langsung untuk membangun rumah murah, perbaikan jalan rusak, membersihkan sungai dan pantai. Ia bahkan ikut turun ke sawah membantu petani menanam padi. Jenderal Gatot pun bukan prajurit karbitan. Ia tiba pada kursi pucuk pimpinan karena kinerja dan capaian-capaian lainnya. Bahkan Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Haris Azhar, menilai Gatot tidak memiliki catatan pelanggaran HAM, suatu momok yang biasanya dilekatkan para pegiat HAM kepada petinggi militer. Sukses Polri yang didukung TNI dalam menumpas gerombolan teroris pimpinan Santoso di Poso, Sulawesi Tengah, juga bisa dimasukkan dalam daftar prestasi Gatot. Belum lagi operasi pembebasan sandera yang beberapa waktu lalu dilakukan oleh unit khusus TNI, juga berhasil membawa pulang dengan selamat semua sandera asal Indonesia yang ditahan oleh pihak ekstrimis di Filipina. Berkat TNI yang sangat efektif dalam penumpasan teroris, Presiden Filipina Rodrigo Duterte dilansir dari Reuters via Nusantara, secara terbuka kepada media mengungkapkan pada Juni 2017 lalu, jika memang dirinya punya pilihan, ia tidak akan memilih bantuan dari AS, melainkan ia akan memilih TNI untuk bisa menyelesaikan masalah teroris di Marawi. Mengantisipasi pergerakan kelompok radikal ISIS atau Negara Islam Irak dan Suriah dari Marawi masuk ke Indonesia, Jenderal Gatot mengatakan TNI yang pertama kali mengerahkan kapal-kapal perang untuk berpatroli di sepanjang laut mulai dari Maluku Utara sampai ke Sulawesi Tengah. “Kemudian di Tarakan (Kalimantan Utara) juga dikerahkan kapal perang, kami juga bekerja sama dangan angkatan Filipina dan Malaysia”. TNI juga mengerahkan operasi intelijen mulai dari Maluku Utara, Morotai kemudian pulau-pulau terluar sampai ke wilayah Sulawesi. “Dari Tarakan juga dikerahkan pasukan untuk menjaga pantai dan pelabuhan ‘tikus’. Tentu juga bekerja sama dengan kepolisian dan seluruh komponen masyarakat,” ujarnya. Panglima TNI berpesan, bangsa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Potensi itu bukan tidak mungkin menjadi petaka bagi bangsa ini. Karena itu semua harus waspada. “Jangan sampai negeri ini jadi kancah konflik antar-agama dan internal kaum muslimim. Indonesia sangat diinginkan untuk diperebutkan. Jadi kita harus waspada,” pungkasnya. (Gia)Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017




























