Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X
Selama hampir 19 tahun, ia sukses memimpin Yogyakarta. Meski jabatan yang diemban sama dengan kepala daerah provinsi lainnya, namun dengan jabatan kulturalnya sebagai Raja ‘kerajaan’ peninggalan Majapahit, membuat Sri Sultan Hamengkubuwono X memiliki pengaruh kuat. Beragam prestasi ditorehkannya, tahun ini Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menobatkan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai provinsi dengan perencanaan pembangunan terbaik 2017. Penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara itu diterima langsung oleh Sultan pada April lalu. DIY mengalahkan DKI Jakarta yang menjadi provinsi perencana pembangunan terbaik kedua dan Sumatera Selatan sebagai provinsi perencana pembangunan terbaik di urutan tiga. “Dengan penghargaan ini berarti DIY sudah tiga tahun berturut-turut menerima penghargaan (sebagai provinsi perencanaan pembangunan terbaik) ini,” ujar Sultan. https://www.youtube.com/watch?time_continue=25&v=fRKCz5_NOeM Sang Ngarso Dalem juga dikukuhkan sebagai Wali Budaya Pangan Nusantara oleh Masyarakat Peduli Pangan Nusantara di Bangsal Sri Manganti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pengukuhan dilakukan dengan penyerahan wayang Dewa Wisnu sebagai simbol kemakmuran dan miniatur lumbung pangan nusantara kepada Sultan yang juga Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Masyarakat Peduli Pangan Nusantara, sebuah komunitas pemerhati pangan nusantara, menilai Sri Sultan Hamengku Buwono X mempunyai komitmen tinggi dan pengaruh kuat di dalam melestarikan budaya nasional. Sultan juga berhasil membangun persaudaraan secara tulus dengan semua raja-raja di nusantara dan mempunyai peran strategis dan konsistensi tinggi di dalam mengembangkan pangan lokal. Sultan juga sukses menjadikan Yogyakarta sebagai lumbungnya pendidikan dan sebagai negeri tak goyah bencana. Sebagai Raja dari sebuah kerajaan yang memiliki otoritas di bidang pemerintahan, lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada ini berperan besar menyatukan berbagai macam suku dibawah naungan Pancasila, serta memeluk perkembangan zaman, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai adat. Contoh sangat menonjol, di mana banyak masyarakat berbeda warna kulit dan bahasa menimba ilmu di Yogyakarta. Pria bernama asli Bendara Raden Mas Herjuno Darpito ini memang getol menyuarakan pentingnya kejujuran di kalangan pelajar. Pendidikan di Yogyakarta memiliki visi center of excellent. Belum berhenti di situ saja, Sultan juga memimpin Yogyakarta hingga menyabet kembali penghargaan Ki Hajar 2014 dengan kategori Kebijakan Terbaik dalam Pendayagunaan TIK untuk Pendidikan. Tahun berikutnya Yogya juga menerima anugerah Ki Hajar dalam kategori kebijakan dan program tingkat utama. Julukan sebagai Negeri Tak Goyah Bencana lagaknya pantas disematkan kepada Yogyakarta. Semenjak berkuasa, ia selalu mendampingi rakyatnya melewati masa-masa sulit menghadapi gemuruh Gunung Merapi. Dengan taktis, Sultan langsung menginstruksikan rehabilitasi dan rekonstruksi, paska Merapi meletus. Sekurang-kurangnya Rp 1 triliun digelontorkan pemerintah Yogya guna memulihkan kondisi terdampak Merapi seperti semula. Hanya butuh dua tahun, pemerintah provinsi telah memulihkan kondisi seperti sedia kala. Pemerintah daerah berhasil membangun 173.000 rumah bagi korban gempa. Dunia internasional berdecak kagum melihat cepatnya proses pemulihan Yogyakarta. World Bank mengakui proses rekonstruksi salah satu yang tercepat di dunia. (Gia)Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017.