Menteri Luar Negeri RI Retno Priansari Marsudi

Tugas berat Indonesia di kancah internasional menjadi tanggung jawab Menteri Retno Marsudi. Di bawah kepemimpinan Retno, politik Luar Negeri Indonesia menjadi semakin menguat dan memiliki pengaruh besar. Ia mampu membawa Indonesia memainkan peran di pecaturan dunia. Politik luar negeri Indonesia dimainkannya secara tegas, Ia mampu menjembatani berbagai perbedaan dan konflik dunia serta menebarkan wajah damai Indonesia.
Pada saat terjadi konflik di Rakhine State Myanmar misalnya, Retno langsung melakukan “marathon diplomacy” sehingga situasi Rakhine State tidak memburuk dan hubungan Myanmar Bangladesh membaik. Diplomasi yg sama dia mainkan pada saat terjadi konflik Arab Saudi-Iran, isu Qatar dan kekerasan Israel di Masjid Al Aqsa. Atas desakan Retno, OKI melakukan Pertemuan Luar Biasa membahas konflik di Al Aqsa di Istanbul 1 Agustus 2017. https://www.youtube.com/watch?time_continue=25&v=fRKCz5_NOeM Retno juga sangat aktif dalam menangani isu ancaman terorisme. Atas inisiatif Retno, Pertemuan Trilateral - Indonesia -Malaysia dan Filipina telah dilakukan Juni 2017 untuk merespon situasi di Marawi City paska serangan teroris pada 23 Mei 2017. Indonesia sangat dihargai dunia karena pendekatan komprehensif dengan menyeimbangkan pendekatan soft power dan hard power. Retno juga aktif dalam ASEAN terutama dalam menjaga persatuan dan sentralitas ASEAN. Marwah ASEAN terus dijaga oleh diplomasi seorang Retno Marsudi. Saat ini, diplomasi Indonesia sedang aktif diarahkan untuk pencalonan Indonesia pada Dewan Keamanan PBB untuk periode 2019-2020. Satu hal lagi yang menjadi catatan politik luar negeri Indonesia adalah kepedulian tinggi dalam perlindungan terhadap warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri. Rekam jejak Retno Marsudi di bidang hubungan internasional tak perlu diragukan. Malang-melintang sejak 1986 sebagai seorang diplomat, ia begitu menikmati ‘dunianya’. Tak heran, dari jabatan yang diampunya seringkali mendulang prestasi. Salah satunya adalah anugerah tertinggi Ridder Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau dari Raja Belanda yang diterima di awal 2015. Retno dinilai telah berprestasi sangat luar biasa selama menjalankan tugasnya sebagai Duta Besar RI untuk Belanda. Termasuk atas jasa-jasanya meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Belanda untuk kepentingan rakyat kedua negara. Sebelumnya, saat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Norwegia, pada 2008, Retno juga mendapat anugerah Royal Norwegian Order of Merit Grand Officer. Diterima dari Raja Harald V atas prestasi maupun jasa-jasanya meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Norwegia. Retno adalah orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini. Dari dalam negeri, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pun mengapresiasinya dengan menganugerahi Hamengku Buwono IX Award, atas komitmen kuatnya untuk kepentingan kemanusiaan dan memajukan perdamaian dunia. Apresiasi tertinggi diterima dari Presiden RI Joko Widodo, saat ia dipilih menjadi Menteri Luar Negeri RI periode 2014-2019. Sebuah tugas yang tidak main-main, mengingat dipundaknya citra dan posisi Indonesia dipertaruhkan di kancah internasional. (Poy)Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017
Pada saat terjadi konflik di Rakhine State Myanmar misalnya, Retno langsung melakukan “marathon diplomacy” sehingga situasi Rakhine State tidak memburuk dan hubungan Myanmar Bangladesh membaik. Diplomasi yg sama dia mainkan pada saat terjadi konflik Arab Saudi-Iran, isu Qatar dan kekerasan Israel di Masjid Al Aqsa. Atas desakan Retno, OKI melakukan Pertemuan Luar Biasa membahas konflik di Al Aqsa di Istanbul 1 Agustus 2017. https://www.youtube.com/watch?time_continue=25&v=fRKCz5_NOeM Retno juga sangat aktif dalam menangani isu ancaman terorisme. Atas inisiatif Retno, Pertemuan Trilateral - Indonesia -Malaysia dan Filipina telah dilakukan Juni 2017 untuk merespon situasi di Marawi City paska serangan teroris pada 23 Mei 2017. Indonesia sangat dihargai dunia karena pendekatan komprehensif dengan menyeimbangkan pendekatan soft power dan hard power. Retno juga aktif dalam ASEAN terutama dalam menjaga persatuan dan sentralitas ASEAN. Marwah ASEAN terus dijaga oleh diplomasi seorang Retno Marsudi. Saat ini, diplomasi Indonesia sedang aktif diarahkan untuk pencalonan Indonesia pada Dewan Keamanan PBB untuk periode 2019-2020. Satu hal lagi yang menjadi catatan politik luar negeri Indonesia adalah kepedulian tinggi dalam perlindungan terhadap warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri. Rekam jejak Retno Marsudi di bidang hubungan internasional tak perlu diragukan. Malang-melintang sejak 1986 sebagai seorang diplomat, ia begitu menikmati ‘dunianya’. Tak heran, dari jabatan yang diampunya seringkali mendulang prestasi. Salah satunya adalah anugerah tertinggi Ridder Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau dari Raja Belanda yang diterima di awal 2015. Retno dinilai telah berprestasi sangat luar biasa selama menjalankan tugasnya sebagai Duta Besar RI untuk Belanda. Termasuk atas jasa-jasanya meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Belanda untuk kepentingan rakyat kedua negara. Sebelumnya, saat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Norwegia, pada 2008, Retno juga mendapat anugerah Royal Norwegian Order of Merit Grand Officer. Diterima dari Raja Harald V atas prestasi maupun jasa-jasanya meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Norwegia. Retno adalah orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini. Dari dalam negeri, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pun mengapresiasinya dengan menganugerahi Hamengku Buwono IX Award, atas komitmen kuatnya untuk kepentingan kemanusiaan dan memajukan perdamaian dunia. Apresiasi tertinggi diterima dari Presiden RI Joko Widodo, saat ia dipilih menjadi Menteri Luar Negeri RI periode 2014-2019. Sebuah tugas yang tidak main-main, mengingat dipundaknya citra dan posisi Indonesia dipertaruhkan di kancah internasional. (Poy)Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017 




























