Indonesia dan Malaysia Perlukah Berseteru?

Jakarta, Obsessionnews.com - Indonesia dan Malaysia merupakan negara tetangga dekat. Kedua negara yang acap sekali disebut serumpun ini beberapa kali terlibat konflik. Padahal, potensi kerjasama kedua negara ini sangat besar.Dalam dunia pendidikan kedua negara saling menjalin penukaran pelajar tiap tahunnya. Bidang ekonomi terlihat banyaknya para investor Malaysia yang berinvestasi di Indonesia. Di Malaysia, banyak sekali ditempatkannya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja seperti sebagai petugas medis, pekerja bangunan, pembantu rumah tangga dan tenaga profesional lainnya.Perserteruan Malaysia dan Indonesia pertama kali mencuat pada tahun 1963. Kemarahan Presiden RI Pertama Soekarno tatkala demonstran Malaysia menginjak-nginjak foto Soekarno dan lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Sehingga militer Indonesia menyerang Semenanjung Malaysia. Insiden ini terkenal dengan sebutan Ganyang Malaysia.Pada tahun 2002, hubungan kedua negara sempat memburuk ketika kepulauan Sipadan dan Ligitan diklaim oleh Malaysia sebagai wilayahnya. Berdasarkan keputusan Mahkamah Internasional (MI) di Den Haag, Belanda bahwa Sipadan dan Ligitan merupakan wilayah Malaysia.Tak hanya itu, pada tahun 2005 Indonesia dan Malaysia bersengketa lagi. Ini tentang batas wilayah dan kepemilikan Ambalat. Akhirnya Ambalat diakui sebagai milik Indonesia. Selanjutnya pada tahun 2007 Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayang-Sayange miliki provinsi Maluku.Lagi-lagi pada tahun 2011 ada tiga persolan membuat hubungan kedua negara memburuk, yakni pertama bulan April, tertangkapnya nelayan Malaysia di wilayah perbatasan. Kedua bulan Oktober, adanya penolakkan warga Indonesia atas didirikannya Museum Kerinci di Malaysia. Padahal museum ini didirikan atas kerjasama pemerintah kabupaten Kerinci dan Malaysia.Ketiga, pada Oktober, Komisi I DPR RI menemukan adanya perubahan tapal batas negara di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yaitu Camar Bulan & Tanjung Datu. Gambar Bendera Indonesia TerbalikBeberapa tahun terakhir Indonesia dan Malaysia terlihat menjalin hubungan yang harmonis. Namun sayang, seusai perhelatan pembukaan Sea Games 2017 di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, Sabtu (19/8/2017) menyisakan kedukaan bagi Indonesia.Ajang olahraga bergengsi ini meninggalkan catatan merah, dengan memuat gambar terbalik bendera merah putih menjadi putih merah di buku panduan Sea Games. Perlukah bersiteru?Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia meminta pemerintah Malaysia meminta maaf terhadap Indonesia."Pembukaan #SEAgame2017 yg bagus tapi tercederai dg keteledoran fatal yg amat menyakitkan. Bendera kita....Merah Putih. Astaghfirullaah," tulis Imam dalam Twitter pribadinya @ @imam_nahrawi.Selanjutnya, Presiden Joko Widodo mengungkapkan hal yang sama. Mantan Walikota Solo ini setuju bahwa pemerintah Malaysia harus minta maaf karena ini menyangkut kebanggaan, nasionalisme dari bangsa Indonesia.Akhirnya, pemerintah Malaysia melalui Menteri Belia dan Sukan Malaysia, Khairy Jamaluddin, melakukan pertemuan dengan Menpora di Hotel Shangrilla, Kuala Lumpur, Minggu (20/8). Khairy mengungkapkan permintaan maafnya terhadap Indonesia.Selain itu, Menteri Luar Negeri Malaysia, Dato Sri Anifah Haji Aman juga turut merilis permohonan maaf tertulis kepada Pemerintah Indonesia atas insiden terbaliknya bendera Indonesia ini.Presiden Jokowi menerima permintaan maaf tersebut dan menghimbau masyarakat Indonesia tidak memperbesar maslah tersebut.“Kita sangat menyesalkan kejadian itu. Tidak usah dibesar-besarkan,” ujar Jokowi. Anggota DPR Jangan Miskin Wawasan InternasionalPeneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap mengaku setuju dengan Jokowi atas keputusannya memaafkan dan tidak mempersoalkan permasalah gambar warna terbalik bendera Indonesia. [caption id="attachment_205566" align="alignleft" width="600"]
Peneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap.[/caption] Berikut pernyataan alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986 ini kepada Obsessionnews.com, Senin (21/8) :Saya mempunyai pandangan yang sama dengan Jokowi. Kita boleh kecewa atas keteledoran petugas percetakan hingga terjadi peletakan atau layout Bendera Indonesia terbalik.Secara hubungan diplomatis Indonesia dan Malaysia sudah tepat. Protes sebagian rakyat Indonesia, terutama di tanah Jawa, sudah dijawab oleh Pemerintah Malaysia langsung kepada Pemerintah Indonesia melalui masing-masing Menpora.Presiden Jokowi menerima permintaan maaf itu dan menghimbau rakyat Indonesia untuk tidak membesar-besarkan. Kasus bendera ini sungguh kasus incident, bukan rekayasa politik.Saya melihat, justru sebagian aktivis anti Jokowi menggebu-gebu agar Jokowi bertindak keras terhadap Malaysia dengan dalih "martabat negara".Mereka tidak paham, justru hanya kasus kecil dalam pergaulan internasional ini jika dibalas dengan tindakan keras bisa buat konflik terbuka dengan Malaysia.Jika konflik terbuka, memangnya kepentingan Indonesia kian terpenuhi? Perlu kita pahami, posisi Malaysia sangat beda dengan Indonesia.Malaysia punya pakta militer dan keamanan dengan negara Inggris, Australia dan negara-negara eropa lain.Kita kalau konflik militer dengan Malaysia, harus berhadapan juga dengan negara-negara lain. Malaysia tidak sendirian kayak Indonesia kalau konflik militer.Anehnya, para anggota DPR RI meminta delegasi olahraga Indonesia ditarik pulang dari Malaysia. Sikap ini jelas miskin wawasan internasional. Hanya soal salah letak bendera di buku, sampai mau menghilangkan kebahagian delegasi olahraga Indonesia.Kalau delegasi Indonesia, apakah negara-negara persemakmuran tidak akan membalas saat pelaksanaan Asian Games di DKI dan Palembang tahun depan (2018)? Para anggota DPR ini sungguh sekedar pencitraan seakan punya sikap nasionalisme tinggi.Kita sangat menyelesaikan kejadian seperti itu. Tapi tidak perlu dibesar-besarkankan lah. (Popi)
Peneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap.[/caption] Berikut pernyataan alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986 ini kepada Obsessionnews.com, Senin (21/8) :Saya mempunyai pandangan yang sama dengan Jokowi. Kita boleh kecewa atas keteledoran petugas percetakan hingga terjadi peletakan atau layout Bendera Indonesia terbalik.Secara hubungan diplomatis Indonesia dan Malaysia sudah tepat. Protes sebagian rakyat Indonesia, terutama di tanah Jawa, sudah dijawab oleh Pemerintah Malaysia langsung kepada Pemerintah Indonesia melalui masing-masing Menpora.Presiden Jokowi menerima permintaan maaf itu dan menghimbau rakyat Indonesia untuk tidak membesar-besarkan. Kasus bendera ini sungguh kasus incident, bukan rekayasa politik.Saya melihat, justru sebagian aktivis anti Jokowi menggebu-gebu agar Jokowi bertindak keras terhadap Malaysia dengan dalih "martabat negara".Mereka tidak paham, justru hanya kasus kecil dalam pergaulan internasional ini jika dibalas dengan tindakan keras bisa buat konflik terbuka dengan Malaysia.Jika konflik terbuka, memangnya kepentingan Indonesia kian terpenuhi? Perlu kita pahami, posisi Malaysia sangat beda dengan Indonesia.Malaysia punya pakta militer dan keamanan dengan negara Inggris, Australia dan negara-negara eropa lain.Kita kalau konflik militer dengan Malaysia, harus berhadapan juga dengan negara-negara lain. Malaysia tidak sendirian kayak Indonesia kalau konflik militer.Anehnya, para anggota DPR RI meminta delegasi olahraga Indonesia ditarik pulang dari Malaysia. Sikap ini jelas miskin wawasan internasional. Hanya soal salah letak bendera di buku, sampai mau menghilangkan kebahagian delegasi olahraga Indonesia.Kalau delegasi Indonesia, apakah negara-negara persemakmuran tidak akan membalas saat pelaksanaan Asian Games di DKI dan Palembang tahun depan (2018)? Para anggota DPR ini sungguh sekedar pencitraan seakan punya sikap nasionalisme tinggi.Kita sangat menyelesaikan kejadian seperti itu. Tapi tidak perlu dibesar-besarkankan lah. (Popi) 




























