Arti Perjuangan dari FPI

Oleh : Fahmi MS Kartari - Jakarta Sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ada pemberitaan tentang tindakkan yang dianggap di luar hukum oleh beberapa anggota Front Pembela Islam (FPI) terhadap lokasi di Jakarta yang menawarkan kemaksiatan pada warga. Saat itu terjadi pro dan kontra terhadap Ormas Islam ini. Bahkan saat saya mendengar siaran di radio, ada suatu diskusi tentang pendapat masyarakat terhadap FPI. Ada banyak yang ngotot agar dibubarkan tapi banyak pula yang melihatnya lebih jernih dan masuk akal. Seorang penelepon dalam diskusi itu juga berpendapat bahwa jika sebuah organisasi melakukan tindakan di luar hukum, maka bukan organisasinya yang dibubarkan melainkan para personelnya yang lebih baik dibina. Menurutnya jika tindakan di luar hukum misalnya dilakukan oleh anggota kepolisian, maka tidak bijak jika institusinya yang dibubarkan. Artinya, masyarakat membutuhkan kepolisian sebagai penegak hukum dan Umat Islam yang berpandangan luas membutuhkan FPI sebagai organisasi yang sebetulnya membantu pemerintah dalam memberantas kemaksiatan yang merusak moral. Masih dalam menyikapi tindakan FPI, disaat yang bersamaan, saya berteman dengan beberapa non Muslim, mereka rupanya cukup peka dan gusar terhadap kiprah FPI dan berpendapat bahwa daripada sikap keislaman seorang anggota FPI, masih lebih baik sikap keislaman saya. Mendengar itu saya tidak menanggapi karena dalam hati kecil saya, kondisi zaman seperti sekarang tentu banyak yang mengais rezeki dengan cara tidak bermoral dan tindakkan FPI sejauh yang saya lihat dengan logika terbalik dari sudut pandang media arus utama, sudah tepat selama itu sesuai dengan ajaran Islam. Kalaupun ada yang kurang ya wajar saja karena sebagai organisasi yang terus berkembang, pasti ada kurang dan lebihnya. Sekian tahun bergulir, kiprah FPI mungkin tetap eksis hanya saja frekuensi pemberitaannya tidak seramai pandangan negatifnya. Saya sudah menyadarinya, sebab dikala media kalangan Muslim memberitakan kiprah positifnya, media arus utama ini tidak melakukan hal serupa. Artinya, sudah begitu lama bahwa media arus utama berada dalam rancangan yang "hati-hati" terhadap citra baik Islam dan Umatnya. Bagi FPI sendiri hal-hal negatif dari perspektif media dan masyarakat adalah suatu risiko yang sudah diperhitungkan dan siap dihadapi. Saya fikir awalnya kiprah pembelaan mereka terhadap Islam hanya sebatas pada hal-hal menengah saja tapi ternyata momentum yang lebih besar betul-betul datang saat seorang Habib Rizieq Shihab menjadi ikon perjuangan Umat Islam yang menuntut keadilan hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai penista ayat suci Al-Qur'an yang berimbas pula pada kekalahan di Pilgub DKI dan vonis hukuman sebagai terdakwa. Saat Aksi Bela Islam pertama di bulan Oktober, saya masih belum menyadari segalanya, belum bereaksi terhadap penistaan ayat suci Al-Qur'an, tetapi aksi berikutnya di bulan November saat 411, saya pertamakalinya melihat Habib Rizieq Shihab berdiri di mobil komando sambil dikelilingi oleh Laskar Pembela Islam yang berlari dan bergandengan tangan, kami pun bergerak bersama-sama sebagai pembela Islam. Dari jarak itu saya berfikir, suatu hari FPI dan Imam Besarnya akan menghadapi tantangan yang lebih hebat dari biasanya. Berita miring, fitnah dan pemecah belah terhadap organisasi hingga pembubarannya akan mereka hadapi. Begitu pun yang sempat saya tulis dalam artikel yang mengulas tentang 411 bahwa bukan lagi kekuatan skala nasional disatu pihak yang akan melumpuhkan FPI tetapi kekuatan dunia akan merancang ulang untuk melanjutkan program penghancuran Umat Islam yang selama ini mereka kira sudah lemah dan siap dihancurkan dengan satu kali pukul. Kekuatan dunia? Bukankah itu sesuatu yang logis mengingat tanah air Indonesia adalah ladang kaya yang sedang menjadi rebutan blok-blok dunia dengan berbagai latar belakang kekuatan ideologinya dan Islam sebagai penghambat ketamakkan mereka, harus dihancurkan. FPI pun diserang, Umat Islam memang terbelah pandangannya dan sebagian bahkan bersama barisan non Muslim tertentu, turut menghujatnya padahal ada dari non Muslim itu yang mengarahkan keburukkan kepada Islam sebagai agama. Ada laskar-laskar yang dinilai negatif, ada laskar yang didiskreditkan oleh anggota Polisi karena bertato dan bahkan yang lebih besar lagi seorang Imam Besarnya difitnah melakukan percakapan mesum yang mudah dibaca sebagai suatu pola fitnah yang terlalu dangkal sebab jangankan seorang Habib, Nabi Muhammad pun sudah berani dihina secara tidak pantas. Begitulah Umat Islam yang rasional memandangnya dan justeru karena itu kian banyak yang membela dan menggaungkan "Kami Bersama HRS" dan meskipun rindu teramat berat, tapi meminta sang Imam Besar tetap berada di Arab Saudi sebagai sebuah siasat. FPI, suka atau tidak suka adalah penantang kekuatan dunia yang nyata, sebagaimanapun orang-orang memandang negatif pada kiprah dan penampilannya, tapi tetap telah berhasil menjadi penantang dunia dengan jumlah pengerahan massa yang terbesar sepanjang sejarah yang dilakukan dalam wadah organisasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia pada 212 yang fenomenal itu dalam kelanjutan aksi damai yang menuntut keadilan. Tanggal 19 Agustus 2017, Front Pembela Islam menyelenggarakan Milad ke-19 yang arti politiknya penting. Kali inilah sepanjang usia organisasi dihadapkan pada situasi yang penuh ancaman, diisukan akan dibubarkan oleh pemerintah yang mengacu pada Perppu No.2 Tahun 2017. Kata "dibubarkan" menjadi ancaman yang seolah mematikan! Benarkah demikian? Tidak, sekalipun secara organisasi dan hukum FPI dibubarkan tapi secara spirit sudah terlanjur hidup di hati para pejuang-pejuang Islam baik sebagai peserta aksi damai maupun para pendukungnya. Ketika FPI dimatikan sebagai cara melumpuhkan Umat Islam, maka ketika itu pula Umat Islam menjadi kian hidup. Jika Umat Islam dilemahkan dengan pembubaran ormas, dengan kata-kata anti Pancasila, anti NKRI, intoleran, radikal dan stigma negatif lainnya maka Umat Islam tidak akan membiarkannya, mereka sudah sadar rasanya tersakiti dan tidak mungkin tertidur lelap ketika rasa sakitnya kian parah. FPI dengan segala kekurangan dan kelebihannya nyatanya menghadapi segalanya yang teramat berat. Allah yang memberikan tantangan sekelas dunia dan bukankah itu berarti FPI sudah pada tingkat yang tinggi dan berpeluang meraih pencapaian lebih tinggi lagi dengan ujian yang lebih berat? Andai tidak ada penistaan ayat suci Al-Qur'an, andai seorang presiden dapat berlaku adil terhadap kasus penistaan agama, andai pemerintahan sekarang tidak berupaya membungkam Umat Islam dengan Perppu No.2 Tahun 2017, andai politik pecah belah dan adu domba tidak dijalankan, andai seorang ketua umum partai politik tidak menyebut "ideologi tertutup", andai seorang politikus tidak menyerukan pembunuhan lebih dulu, andai seorang ulama liberal tidak menjadi corong dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyinggung Umat Islam, andai aparat tidak mengkriminalisasi Ulama, andai sebagian dari para pendukung pemerintah tidak menghina Allah, Nabi Muhammad dan Islam, maka menurut saya kekuatan dunia yang tamak itu sudah bisa menang mudah sejak sekarang ini karena sesungguhnya sebagian besar Umat Islam sedang lelap dalam tidurnya yang dibuai dengan budaya perusak, materialisme dan kenikmatan duniawi lainnya yang berabad-abad dibangun oleh mereka yang menghendaki kehancuran Islam. Sebagai Umat Islam, saya berterima kasih atas kiprah Habib Rizieq Shihab dan Front Pembela Islam yang telah mengenalkan pada Umat Islam di Indonesia apa artinya memperjuangkan Islam, apa rasanya meninggalkan Al-Qur'an, apa rasanya menelantarkan masjid, apa rasanya berjauhan dengan Ulama, apa rasanya lupa bahwa Allah itu ada dan berkuasa atas segala sesuatu, bagaimana rasanya dengan sentilan itu kita kembali pada keimanan dan ketaqwaan serta merasakan seruan takbir yang menggetarkan hati ini namun terasa nikmat. Dari perjuangan ini pula kita sadar bahwa politik dan Islam tidak bisa dipisahkan dan kita bercita-cita agar pemimpin yang beriman dan bertaqwa dapat terpilih dan membawa kebaikan atas negeri ini. Front Pembela Islam dan Habib Rizieq Shihab telah diperlakukan terlalu buruk oleh musuh-musuh Allah, tapi itu suatu konsekuensi perjuangan, sejarahnya sudah terlalu banyak sejak Islam lahir. Biarlah sejauh apa mereka memeranginya yang pasti kalian sebagai ikon perjuangan kian hidup di hati kami, para pembela dan penegak Islam! Jakarta, 20 Agustus 2017





























