Tingkatkan Ekonomi dan Swasembada Pangan Melalui Integrasi Padi – Kelapa

Sulawesi Utara merupakan salah satu sentra kelapa di Indonesia. Mata pencaharian penduduk banyak yang bertumpu pada hasil kelapa, sehingga berkurangnya produktivitas pohon-pohon kelapa yang telah melewati masa produktifnya sangat berpengaruh terhadap pendapatan dan tingkat ekonomi masyarakat. Revitalisasi perkebunan kelapa melalui peremajaan menggunakan varietas unggul kelapa dalam ataupun genjah menjadi kebutuhan mutlak untuk membangun keberlanjutan produksi kelapa di daerah tersebut. Peremajaan perkebunan kelapa menyebabkan tidak adanya pendapatan bagi petani/perusahaan perkebunan kelapa selama tahun-tahun pertama investasi dari hasil kelapa. Di sisi lain, di negeri nyiur melambai ini penanaman padi diantara tegakan kelapa merupakan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun. Padi gogo yang ditanam sekali dalam satu tahun setidaknya mampu memberi penghidupan bagi petani. Dalam kaitannya dengan revitalisasi perkebunan kelapa ini, maka pengembangan teknologi terintegrasi padi – kelapa merupakan salah satu strategi yang efisien dalam upaya mempertahankan diperolehnya pendapatan bagi para petani kelapa ataupun perusahaan berbasis kelapa, sekaligus mendukung penyediaan beras di daerah-daerah sentra kelapa. [caption id="attachment_204645" align="aligncenter" width="640"]
Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D. di Menado[/caption] Selama ini masyarakat setempat telah membudidayakan berbagai tanaman pangan di antara pokok kelapa, termasuk salah satunya padi gogo lokal yang memiliki daya hasil rendah dan umurnya dalam, sekitar 5 - 6 bulan. Tersedianya varietas unggul padi gogo yang berdaya hasil tinggi dan memiliki kualitas tanak yang tinggi menjadi sangat penting menihat besarnya potensi pengembangan padi gogo sebagai tanaman sela kelapa. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah merupakan perguruan tinggi yang pertama kali menghasilkan varietas unggul baru padi yang dilepas sebagai varietas unggul nasional dan mendapatkan pengakuan atas hak kekayaan intelektual berupa hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dan saat ini Unsoed telah menghasilkan 9 (sembilan) varietas/galur unggul padi. Varietas atau galur tersebut adalah padi gogo aromatik INPAGO UNSOED 1, INPAGO JSPGA 136, INPAGO JSPGA 9, padi toleran salinitas INPARI UNSOED 79 AGRITAN, padi kandungan Fe tinggi INPAGO PARIMAS, serta padi protein tinggi UNSOED PK 7 dan UNSOED PK 15. [caption id="attachment_204647" align="aligncenter" width="640"]
Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D. di Menado[/caption] Padi gogo aromatik Inpago Unsoed 1 sangat prospektif dikembangkan di lahan kering sebagai tanaman sela di antara tegakan kelapa. Keunggulan padi ini adalah toleran kering, hasilnya tinggi di lahan kering (potensi 7,42t/ha, padi gogo lain potensi hasilnya 5 - 6 t/ha), aromanya wangi, dan rasanya pulen. Ketahanannya terhadap kekeringan menjadikan Inpago Unsoed 1 tetap mampu berproduksi tinggi di lahan-lahan marginal dengan ketersediaan air yang terbatas, termasuk lahan kering perkebunan kelapa. Jika dibandingkan dengan varietas lain untuk lahan kering atau tadah hujan, produksi Inpago Unsoed 1 lebih tinggi terutama ketika ditambah pupuk hayati secara berimbang. Karena Inpago Unsoed 1 merupakan hasil persilangan padi gogo (Poso) dan padi sawah (Mentikwangi), daya hasil Inpago Unsoed 1 jauh lebih tinggi lagi jika ditanam di lahan sawah, dapat mencapai 10,5t/ha bahkan 13,3t/ha. Ketahanannya terhadap penyakit blas ras 133 dan agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 yang merupakan hama-penyakit utama padi gogo menjadikan stabilitas hasilnya tinggi ditanam di berbagai wilayah Indonesia. Saat ini, Inpago Unsoed 1 telah ditanam di 26 provinsi di Indonesia, diantaranya telah berkembang di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Maluku hingga Papua. Focus Group Discussion dengan tema *Pengembangan Integrasi Kelapa dan Padi untuk Kesejahteraan Petani* diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Samratulangi (UNSRAT) bekerja sama dengan PT. Dujung Sejahtera Bersama dan Tim Klaster Inovasi Kelapa UNSRAT bertempat di Hotel Four Points Manado pada hari Selasa, 15 Agustus 2017. [caption id="attachment_204648" align="aligncenter" width="640"]
Manado-1- Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D. di Menado[/caption] Prof Ir Totok Agung Dwi Haryanto MP PhD (Direktur Program Pascasarjana dan pemulia padi Unsoed yang hadir bersama tim Ir Mustaufik MP (Gula Center Unsoed) dan Dyah Susanti SP MP (Pusat Penelitian Padi dan Kedelai LPPM Unsoed) bertindak sebagai Key Note Speaker dalam FGD tersebut menyampaikan urgensi menghidupkan kembali kejayaan integrasi padi – kelapa di negeri nyiur melambai ini dalam strategi peningkatan ekonomi, daya saing, dan pencapaian swasembada pangan berkelanjutan di Sulawesi Timur yang merupakan salah satu sentra kelapa terbesar di Indonesia. Revitalisasi integrasi padi – kelapa perlu menempatkan teknologi inovasi sebagai komponen penting selain sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk mendapatkan peningkatan produksi yang berkelanjutan, dengan tetap berpegang pada kearifan lokal. Sinergi berbagai pihak merupakan kunci dari keberhasilan strategi ini. Kerja sama perguruan tinggi, pemerintah kabupaten, industri, dan kelompok masyarakat termasuk Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI) serta pihak-pihak terkait dalam pengembangan teknologi terintegrasi padi – kelapa akan mendukung pengembangan agroindustri berbasis integrasi padi – kelapa, dan selaras dengan program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan, daya saing bangsa dan membangun ketahanan nasional. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kembali berkiprah nyata melalui penyediaan dan diseminasi teknologi dalam membangun pertanian Indonesia. Maju terus pantang mundur, tak kenal menyerah. (Red)
Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D. di Menado[/caption] Selama ini masyarakat setempat telah membudidayakan berbagai tanaman pangan di antara pokok kelapa, termasuk salah satunya padi gogo lokal yang memiliki daya hasil rendah dan umurnya dalam, sekitar 5 - 6 bulan. Tersedianya varietas unggul padi gogo yang berdaya hasil tinggi dan memiliki kualitas tanak yang tinggi menjadi sangat penting menihat besarnya potensi pengembangan padi gogo sebagai tanaman sela kelapa. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah merupakan perguruan tinggi yang pertama kali menghasilkan varietas unggul baru padi yang dilepas sebagai varietas unggul nasional dan mendapatkan pengakuan atas hak kekayaan intelektual berupa hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dan saat ini Unsoed telah menghasilkan 9 (sembilan) varietas/galur unggul padi. Varietas atau galur tersebut adalah padi gogo aromatik INPAGO UNSOED 1, INPAGO JSPGA 136, INPAGO JSPGA 9, padi toleran salinitas INPARI UNSOED 79 AGRITAN, padi kandungan Fe tinggi INPAGO PARIMAS, serta padi protein tinggi UNSOED PK 7 dan UNSOED PK 15. [caption id="attachment_204647" align="aligncenter" width="640"]
Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D. di Menado[/caption] Padi gogo aromatik Inpago Unsoed 1 sangat prospektif dikembangkan di lahan kering sebagai tanaman sela di antara tegakan kelapa. Keunggulan padi ini adalah toleran kering, hasilnya tinggi di lahan kering (potensi 7,42t/ha, padi gogo lain potensi hasilnya 5 - 6 t/ha), aromanya wangi, dan rasanya pulen. Ketahanannya terhadap kekeringan menjadikan Inpago Unsoed 1 tetap mampu berproduksi tinggi di lahan-lahan marginal dengan ketersediaan air yang terbatas, termasuk lahan kering perkebunan kelapa. Jika dibandingkan dengan varietas lain untuk lahan kering atau tadah hujan, produksi Inpago Unsoed 1 lebih tinggi terutama ketika ditambah pupuk hayati secara berimbang. Karena Inpago Unsoed 1 merupakan hasil persilangan padi gogo (Poso) dan padi sawah (Mentikwangi), daya hasil Inpago Unsoed 1 jauh lebih tinggi lagi jika ditanam di lahan sawah, dapat mencapai 10,5t/ha bahkan 13,3t/ha. Ketahanannya terhadap penyakit blas ras 133 dan agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 yang merupakan hama-penyakit utama padi gogo menjadikan stabilitas hasilnya tinggi ditanam di berbagai wilayah Indonesia. Saat ini, Inpago Unsoed 1 telah ditanam di 26 provinsi di Indonesia, diantaranya telah berkembang di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Maluku hingga Papua. Focus Group Discussion dengan tema *Pengembangan Integrasi Kelapa dan Padi untuk Kesejahteraan Petani* diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Samratulangi (UNSRAT) bekerja sama dengan PT. Dujung Sejahtera Bersama dan Tim Klaster Inovasi Kelapa UNSRAT bertempat di Hotel Four Points Manado pada hari Selasa, 15 Agustus 2017. [caption id="attachment_204648" align="aligncenter" width="640"]
Manado-1- Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D. di Menado[/caption] Prof Ir Totok Agung Dwi Haryanto MP PhD (Direktur Program Pascasarjana dan pemulia padi Unsoed yang hadir bersama tim Ir Mustaufik MP (Gula Center Unsoed) dan Dyah Susanti SP MP (Pusat Penelitian Padi dan Kedelai LPPM Unsoed) bertindak sebagai Key Note Speaker dalam FGD tersebut menyampaikan urgensi menghidupkan kembali kejayaan integrasi padi – kelapa di negeri nyiur melambai ini dalam strategi peningkatan ekonomi, daya saing, dan pencapaian swasembada pangan berkelanjutan di Sulawesi Timur yang merupakan salah satu sentra kelapa terbesar di Indonesia. Revitalisasi integrasi padi – kelapa perlu menempatkan teknologi inovasi sebagai komponen penting selain sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk mendapatkan peningkatan produksi yang berkelanjutan, dengan tetap berpegang pada kearifan lokal. Sinergi berbagai pihak merupakan kunci dari keberhasilan strategi ini. Kerja sama perguruan tinggi, pemerintah kabupaten, industri, dan kelompok masyarakat termasuk Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI) serta pihak-pihak terkait dalam pengembangan teknologi terintegrasi padi – kelapa akan mendukung pengembangan agroindustri berbasis integrasi padi – kelapa, dan selaras dengan program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan, daya saing bangsa dan membangun ketahanan nasional. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kembali berkiprah nyata melalui penyediaan dan diseminasi teknologi dalam membangun pertanian Indonesia. Maju terus pantang mundur, tak kenal menyerah. (Red) 




























