Disebut Terlibat Panama Papers, Luhut: "Saya Gak Tahu"

Jakarta, Obsessionnews - Menteri Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Luhut Binsar Pandjaitan membantah terlibat di Mayfair Internasional Ltd, salah satu perusahaan cangkang yang disebut dalam Panama Papers, dokumen firma hukum asal Panama Mossack Fonseca, yang melayani jasa pembuatan perusahaan cangkang. "Saya tidak pernah terlibat di dalam itu dan saya tidak tahu itu Mayfair itu," ujar Luhut kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Senin (25/4/2016). Berdasarkan investigasi, Luhut tercatat sebagai Direktur Mayfair International Ltd yang terdaftar di Seychelles –negara kepulauan di lepas pantai timur Afrika, Samudra Hindia– pada 2006. Namun, Luhut menduga Mayfair Internasional dibuat tanpa sepengetahuannya. Ia merasa tak pernah menandatangani berkas apapun terkait perusahaan itu. "Saya gak tahu, itu alamat rumah saya aja dibikin salah di situ. Alamat rumah saya dibilang di Mega Kuningan 11. Saya bukan di Mega Kuningan 11," katanya. Luhut mengatakan tak pernah berkhianat terhadap negara. Ia menegaskan selalu taat membayar pajak dan melaporkan semua harta kekayaannya melalui LHKPN yang ia serahkan ke PPATK. "Saya tidak pernah berkeinginan sedikit pun untuk tidak membayar pajak. Saya salah satu pembayar pajak setia. Dan itu nilai-nilai yang menurut saya penting," tandasnya. Saham Mayfair dilaporkan dimiliki oleh PT Buana Inti Energi dan PT Persada Inti Energi. PT Buana memegang 40 ribu lembar saham Mayfair, sedangkan PT Persada mengantongi 10 ribu lembar saham Mayfair. Tiap lembar saham bernilai US$1. PT Buana Inti Energi ialah salah satu anak perusahaan PT Toba Sejahtra yang didirikan pada 2004 oleh Luhut. Perusahaan ini memiliki empat bisnis inti, yakni batu bara, minyak gas, pembangkit listrik, dan agrikultur. Menurut situs resmi Toba Bara Sejahtra yang juga merupakan salah satu anak perusahaan PT Toba Sejahtera, Luhut sampai saat ini tetap menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan yang pernah dipimpin oleh putranya itu. Sementara PT Persada Inti Energi merupakan anggota konsorsium yang memenangi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap 2 di Bengkayang, Kalimantan Barat, senilai sekitar Rp630 miliar. Namun pembangunan PLTU itu kini terbengkalai. Luhut mengakui bahwa PT Toba Sejahtra betul perusahaan miliknya. Namun, tidak untuk PT Persada Inti Energi, dan PT Buana Inti Energi. "Toba Sejahtra memang perusahaan saya. Persada itu saya tidak tahu," sebut mantan Kepala Staf Kepresidenan itu. (Has)





























