Senin, 14 Oktober 19

Raih Gelar Doktor dengan Biaya Sendiri, Anak Pengayuh Becak Ini Catat IPK Sempurna

Raih Gelar Doktor dengan Biaya Sendiri, Anak Pengayuh Becak Ini Catat IPK Sempurna
* Lailatul Qomariyah, anak seorang pengayuh becak asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur. (Foto: medsos)

Surabaya, Obsessionnews.com – Ketidakmampuan secara ekonomi tak lantas membuat seseorang meraih prestasi dalam dunia pendidikan. Itulah yang dialami oleh Lailatul Qomariyah, anak seorang pengayuh becak asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung Lailatul atau yang akrab disapa Laila ini mampu menyelesaikan kuliah S3-nya di usia 27 tahun dengan IPK sempurna yakni 4.0.

Laila merupakan Anak sulung dari pasangan Saningrat (43) dan Rusmiati (40). Ayahnya bekerja sebagai pengayuh becak, sedangkan Ibunya bekerja sebagai buruh tani. Meski penghasilan kedua orang tuanya tidak bisa membiayainya kuliah, alumnus S-1 Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Semarang ini tetap sanggup menyelesaikan studi doktoral (S-3) tanpa bergantung kepada kedua orang tuanya.

Laila berhasil menyelesaikan gelar doktor dari Departemen Teknik Kimia ITS. Dalam meraih gelarnya tersebut, Laila berjuang mencari uang sendiri agar bisa melanjutkan kuliah dan menghidupi dirinya. Perempuan yang sehari-hari menggunakan sepeda ontel ini mengaku, dirinya ingin menyelesaikan pendidikan hingga S3 tersebut, karena ingin mengubah nasib keluarganya. 

Di sela-sela studinya, meskipun memperoleh beasiswa, ia juga mencari tambahan penghasilan melalui profesi guru les privat. Ia mengajar murid tingkat SMP dan SMA di sekitar wilayah kampus ITS.

Laila merupakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang masuk ITS melalui jalur prestasi. Ia meneruskan pendidikannya dengan beasiswa dari program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), beasiswa program percepatan pendidikan yang diberikan kepada lulusan sarjana yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang Doktor dengan masa pendidikan selama empat tahun.

Laila telah melakoni rutinitas sebagai pengajar les privat sejak ia duduk di bangku program sarjana. Pelajaran yang diajarkan variatif, mulai dari matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris, dan pelajaran umum lainnya. Ia melakukannya tersebut demi tercukupinya kebutuhan sehari-hari gadis ini.

“Dalam Alquran disebutkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa usaha dari kaum tersebut,” tutur Gadis kelahiran Pamekasan, 16 Agustus 1992 ini di laman ITS mengutip salah satu ayat AQuran yang mendorongnya untuk belajar hingga S3.

Buah kerja keras yang dilakoni Laila tidak dapat dipandang sebelah mata. Tercatat, melalui topik disertasinya, ia berhasil menyelesaikan program doktoral dengan IPK 4.0. Sebuah prestasi tersendiri bagi mahasiswi yang rutin meneliti ini. Di samping itu, agar seluruh aktivitasnya yang padat dapat terlakoni semua, ia harus tahan tidur hanya empat jam dalam sehari.

Laila mengaku bahwa dirinya sangat ingin untuk terus berkontribusi bagi ITS selepas kelulusannya. Dirinya merasa berat meninggalkan ITS dan dosen-dosen dan karyawannya yang telah membantu Laila mewujudkan impian. Tidak sedikit pula dosen yang meminta kepada Laila agar tetap bertahan melanjutkan penelitian atau mengajar di ITS.

“Aku sudah menemukan semacam chemistrydi ITS, jadi meskipun banyak tawaran dari luar, saya tetap sangat ingin melanjutkan pengabdian saya di kampus perjuangan ini,” ujar Laila penuh antusias membicarakan peluangnya untuk bekerja di ITS. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.