Sabtu, 21 Mei 22

Pengaruh Tontonan ‘Hedon’ di TV Merusak Mental Pemuda

Pengaruh Tontonan ‘Hedon’ di TV Merusak Mental Pemuda

Jakarta, Obsessionnews – Pemuda sekarang sering dikonotasikan pada hal yang tidak baik. Pemuda saat ini sering dianggap pragmatis, menimbulkan konflik dan kegaduhan. Apalagi hujatan terhadap mereka yang aktif dalam kelembagaan organisasi kemahasiswaan. Bahkan, pemuda sekarang dianggap tidak memiliki kontribusi positif bagi kemajuan bangsa.

Namun Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (DPP IMM) Beni Pramula membantah penilaian bahwa pemuda sekarang pragmatis. “Pemuda yang mana, saya pikir nggak ya. Saya pikir itu oknum. Idealisme itu memang karya terakhir yang dimiliki pemuda, kalau idealisme itu sudah hilang bagaimana lagi harapan ke depan dalam keberlangsungan bangsa ini. Saya optimis pemuda Indonesia masih memiliki karakter,” ungkapnya akepada obsessionnews.com usai dialog interaktif lintas pimpinan organisasi bertema memperkuat sinergi pemuda di tengah kompetisi global, yang digelar di Wisma Kemenpora RI, Jakarta, Jumat (14/8/2015).

Beni Pramula

Menurut Beni, pemuda saat ini lebih baik memokuskan diri dalam menghadapi tantangan global. Sebab, kalau pemuda tidak bisa membendungnya, maka tentunya akan melahirkan disprestasi bagi pemuda. Perilaku hedonisme yang ditampilkan melalui layar kaca (televisi) sudah menjadi tontonan pemuda hari ini. “Sehingga banyak ditemukan pemuda Indonesia cenderung mengikuti gaya Barat hedon, hingga mempengaruhi mainset generasi muda saat ini,” tuturnya.

“Coba kita lihat tayangan-tayangan televisi saat ini, lebih nampak budaya Korea, atau budaya pop, makanya regulasi di ranah itu dibenahi agar membuat tayangan itu lebih selektif. Tujuannya agar dapat membendung generasi muda kita agar tidak teredupsi akar budaya-budaya asing itu. Meski demikian saya masih optimis masih banyak pemuda-pemuda Indonesia yang idealis dan nasionalis,” tandas Beni.

Selain itu Presiden Himpunan Mahasiswa Asia Afrika ini juga berharap kepada pemerintah melalui Komisi Penyiaran Indoneaia (KPI) untuk selalu mengontrol tayangan-tayangan stasiun televisi yang tidak mendidik. “Makanya perlu regulasi karena pemuda kita itu apa yang dilihat, apa yang ditonton itu, mereka jadikan teladan. Artinya pemerintah melalui KPI bisa memperingatkan kepada media massa agar memberikan tontonan untuk menjadi tuntunan. Sehingga pemuda kita tidak terpengaruh dengan gaya barat yang hedon itu,” pungkasnya.

Dialog interaktif lintas pimpinan organisasi dalam tema memperkuat sinergi pemuda ditengah kompetisi global, akan tayang disalah satu stasiun televisi nasional pada tanggal 18 Agustus 2015 nanti. Kegiatan ini melibatkan Kelembagan Organisasi Kepemudaan yang dikemas sebagai bentuk kepedulian Kemenpora dalam membangun pemuda lebih kompetitif menghadapi persaingan tantangan global. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.