Selasa, 15 Oktober 19

Pengamat: Sikap OSO Rugikan Hanura

Pengamat: Sikap OSO Rugikan Hanura
* Ketua Umum Hanura Oesman Sapta (Foto DPD RI)

Jakarta, Obsessionnews.com – Sikap Ketua Umum Partai Hanura yang juga Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Oesman Sapta Odang (OSO) yang memaksa Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memasukkan namanya dalam daftar calon anggota DPD dinilai akan merugikan elektabilitas Hanura.

Hal itu dikatakan pengamat politik dari Charta Politika Yunarto Wijaya. Ia mengatakan, OSO adalah figur utama di Partai Hanura karena posisinya sebagai Ketua Umum. Maka sudah seharusnya OSO harus bisa bersikap lebih bijak dalam menghadapi polemik ini, bukan malah melawan.

 

Baca juga: 

OSO: Rakyat Cinta Jokowi

Komitmen KPU Melawan Kehendak OSO

27 DPD Partai Hanura Tak Percaya pada Oesman Sapta

Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Oesman Sapta Odang

 

Yunarto menyebut jika polemik tidak segera diredam, maka bisa berujung tidak lolosnya perwakilan partai Hanura ke DPR di Pileg 2019. Perseturuan OSO dengan KPU diyakini akan menggerus suara Hanura di DPR.

“Dengan posisi internal dan figur partai yang sedang dalam sentimen negatif, ditambah kejadian ini ya semakin parah. Sehingga dalam masa Pileg dan Pilpres 2019, posisi Hanura makin terpuruk dan berpotensi tidak lolos ambang batas 4 persen,” kata Yunarto, di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Yunarto bahkan menyebut konflik OSO dengan KPU akan menambah jurang degaradisi suara Hanura yang menipis. Pasalnya, tanpa ada konflik OSO Hanura memiliki masalah besar selama satu tahun terakhir ini di internal partai. Artinya, infrastruktur partai memang sudah mengalami kejatuhan.

“Maka dari itu, survei dari lembaga survei juga menempatkan Hanura tidak pernah lolos dari ambang batas. Bahkan sering dikatakan sebagai partai satu koma atau nol koma,” paparnya.

Menurut dia, sebuah partai mungkin masih bisa menjadi besar walaupun tidak memiliki infrastruktur yang kuat. Asalkan syaratnya ada aspek ketokohan yang bisa menyatukan. “Nah ini problemnya seakan-akan OSO ini malah dianggap menjadi salah satu sumber perpecahan juga di internal partai,” tutur Yunarto.

Adapun jika merujuk hasil survei Charta Politika per Januari 2019, elektabilitas Hanura untuk Pileg 2019 masih 0,6 persen. Sedangkan kedekatan masyarakat dengan partai politiknya sendiri masih 0,5 persen.

 

Baca juga:

Asri Anas Minta MA Cabut Keputusan Melantik Oesman Sapta

Alasan MA Lantik Oesman Sapta Sebagai Ketua DPD

GKR Hemas Tolak Terpilihnya Oesman Sapta Jadi Ketua DPD

 

Diketahui, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memerintahkan KPU untuk memasukkan OSO dalam daftar calon tetap (DCT) anggota DPD dalam Pemilu 2019.

Namun, dalam putusan Bawaslu, OSO tetap harus mundur sebagai pengurus Partai Hanura jika kembali lolos sebagai anggota DPD periode 2019-2024.

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) juga sebelumnya telah mengeluarkan putusan atas gugatan yang dilayangkan OSO.

Putusan tersebut memerintahkan KPU mencabut SK DCT anggota DPD yang tidak memuat nama OSO. Majelis Hakim juga meminta KPU menerbitkan DCT baru dengan mencantumkan nama OSO di dalamnya.

Tetapi, meskipun ada keputusan PTUN maupun Bawaslu, KPU tetap tidak memasukan nama OSO ke DCT anggota DPD Pemilu 2019.

KPU akan memasukan nama OSO ke DCT sepanjang yang bersangkutan mundur dari ketua umum Partai Hanura, paling lambat 22 Januari 2019.

KPU tak bergeming dengan perlawanan OSO. Sebab mereka berpegang pada putusan MK No. 30/PUU-XVI/2018 yang melarang ketua umum partai politik rangkap jabatan sebagai anggota DPD.

Sayangnya OSO tetap tidak terima, melalui melalui masa yang digerakan. Mereka mencoba menekan KPU dengan berulang kali melalukan unjuk rasa. Bahkan terakhir masa pendukung OSO bentrok dengan polisi. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.