Jumat, 21 Juni 19

Peluang Prabowo Menangkan Gugatan Pilpres Tipis

Peluang Prabowo Menangkan Gugatan Pilpres Tipis
* BPN Prabowo-Sandi mengajukan gugatan ke MK. (Foto: Netral)

Jakarta, Obsessionnews.com – Banyak pihak yang pesimis Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bisa memenangkan hasil sengketa hasil Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK). Pasalnya bukti yang diajukan BPN masih sangat minim, yakni hanya berupa 37 lembar kertas berisi link berita.

 

Baca juga:

Luhut Sebut Kunci Pertemuan dengan Jokowi ada di Prabowo

Mustofa Nahra, Relawan Prabowo-Sandi Jadi Tersangka Hoax Rusuh 22 Mei

Gugat ke MK, BPN Tuntut Jokowi Didiskualifikasi dan Tetapkan Prabowo Presiden

 

Pakar hukum tata negara Feri Amsari juga menilai harapan BPN memenangkan gugatan sangat tipis. Terlebih alat bukti yang disajikan hanya sebatas penunjang saja, bukan alat bukti yang mampu mempengaruhi hasil atau alat bukti yang bisa membuktikan telah terjadi kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).

“Harapannya tipis, tapi kalau bisa memenangkan berarti ajaib. Harus ada bukti pendukungnya,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (28/5/2019).

Rasanya bagi dia cukup sulit untuk membuktikan kecurangan suara yang selisihnya sekitar 17 juta suara. Menurutnya suara itu bukan jumlah yang kecil. Terlebih dari 51 bukti gugatan sengketa Pilpres 2019 ke MK, sebagian dari bukti gugatan itu berasal dari tautan berita.

Berdasarkan berkas permohonan PHPU, setidaknya ada 35 tautan berita yang dilampirkan oleh Tim Kuasa Hukum Prabowo – Sandiaga. Tautan itu didapat dari 14 media massa dalam jaringan (daring) alias online. Tautan berita itu terdapat dalam bukti bernomor P-12 dan P-14 hingga P-46.

Ketua Konstitusi dan Demokrasi (KoDe) Inisiatif Veri Junaidi menilai berbagai tautan berita media massa daring yang dilampirkan tim kuasa kukum Prabowo-Sandiaga belum cukup kuat untuk membuktikan dugaan pelanggaran secara terstuktur, sistematis, dan masif. Alasannya, tautan berita media massa daring hanyalah alat bukti sekunder.

Menurut Veri, tim kuasa hukum Prabowo – Sandiaga seharusnya juga melampirkan bukti primer yang mengacu pada hasil pengawasan dan pengakuan saksi-saksi. “Menurut saya itu belum masuk pada bukti utama yang memang harusnya disampaikan ke mahkamah,” ujar Veri di kantornya, Minggu (26/5).

Ia mengatakan untuk membuktikan pelanggaran yang TSM seperti yang dituduhkan, memerlukan bukti lain yang lebih meyakinkan. Misalnya bukti primer berupa hasil pengawasan saksi di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Veri mengatakan untuk digolongkan sebagai kecurangan TSM yang mempengaruhi hasil pemilu, perlu dibuktikan adanya instruksi dari lembaga atau instansi tertentu. Dan bila pun ada masih perlu dibuktikan apakah instruksi itu dijalankan atau tidak. Bentuknya pun, kata dia, harus ditelusuri seperti apa.

“Setiap kasus itu (harus dihitung) berapa besar dia berdampak terhadap hasil pemilunya.” Sehingga kalau diakumulasi seluruh Indonesia akan tampak lebih dari 17 juta. “Begitu lah cara kerja TSM, enggak bisa Garut, Papua, tapi tidak ada keterhubungan.”

Kendati banyak pihak yang meragukan kubunya bisa memenangkan sengketa pilpres, Direktur Hukum dan Advokasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo – Sandiaga, Sufmi Dasco Ahmad menilai masih ada celah bagi kubunya untuk menang.

Dia optimistis hakim-hakim konstitusi dapat obyektif. Dasco juga meyakini apa yang mereka ajukan dapat meyakinkan hakim dan memenuhi syarat untuk dikabulkan. “Bagi kami hal ini patut dicoba, karena celah hukum sekecil apa pun kami harus manfaatkan apalagi peluangnya ada kalau menurut kami,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.