Sabtu, 14 Desember 19

Pelaku Industri Jepang Berharap Adanya Perbaikan Upah Pekerja di Indonesia

Pelaku Industri Jepang Berharap Adanya Perbaikan Upah Pekerja di Indonesia
* Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kiri). (Foto: Kemenperin)

Jakarta, Obsessionnews.com – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengaku menyerap banyak masukan dari pelaku industri Jepang yang berminat berinvestasi di Indonesia.

“Kami ingin mengeksplorasi dan mengetahui berbagai tantangan apa saja yang ditemukan oleh industri di lapangan,” kata Agus melalui keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

 

Baca juga:

Menperin Agus Gumiwang: Jepang Akan Berinvestasi di Indonesia Rp 40 Triliun

Agus Gumiwang: Industri Masih Jadi Penggerak Utama Ekonomi Nasional

Jurus Menperin Agus Gumiwang Dongkrak Daya Saing Industri Nasional

 

Kemarin, Senin (18/11), Agus melakukan one on one meeting secara maraton dengan delapan korporasi asal Negeri Sakura di Tokyo, Jepang.

Apabila disimpulkan belanja masalah yang diperolehnya dari para investor tersebut, Agus menilai tidak tidak terlalu banyak yang menganggu kegiatan investasi mereka di Indonesia. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian antara lain mengenai pasokan bahan baku, upah pekerja, dan regulasi.

“Misalnya seperti Asahimas Group yang meminta diperhatikan suplai gas sebagai bahan baku, atau paling tidak harga gas industri tidak naik lagi,” tutur Agus.

Untuk merespons tentang harga gas industri, dia menegaskan pihaknya terus berkoordinasi di tingkat lintas kementerian, seperti dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Apalagi sekarang sudah ada aturan dari Menteri ESDM untuk menunda kenaikan harga gas dengan jangka waktu yang tidak ditentukan,” jelasnya.

Agus menambahkan, para pelaku industri Jepang menilai bahwa peraturan Pemerintah Indonesia mengenai harga gas industri sudah cukup baik.

Sedangkan mengenai upah, pelaku industri Jepang berharap adanya perbaikan upah pekerja di Tanah Air. Untuk itu Agus berkomitmen untuk melihat kembali sistem pengupahan yang berlaku saat ini.

“Kami akan lakukan pendekatan sektoral, tidak hanya pendekatan wilayah saja. Industri yang menghasilkan devisa atau padat tenaga kerja perlu kita beri treatment khusus,” tandasnya. (arh) 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.