Kamis, 26 Mei 22

Octopus Ubah Sampah Jadi Produk yang Bernilai Jual

Octopus Ubah Sampah Jadi Produk yang Bernilai Jual
* Siti Solihat (kanan), pelestari Octopus. (Foto: ist)

Jakarta, obsessionnews.com – Seperti yang kita ketahui pandemi Covid-19 yang melanda global telah memporakporandakan banyak sektor bisnis di Indonesia. Sebagian terpuruk bahkan gulung tikar, sehingga menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan.  Penggunaan sampah di masa pandemi pun meningkat, terutama sampah plastik akibat meningkatnya belanja online.

 

Baca juga:

Aplikasi Octopus Atasi Masalah Sampah

Magnet Bisa Atasi Polusi Sampah Plastik

Jamur Pemakan Plastik Bisa Atasi Masalah Sampah

 

 

Survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia  (LIPI) pada 20 April – 5 Mei 2020 menyebutkan aktivitas belanja online masyarakat meningkat hingga 62% selama pandemi, di mana hingga 96% dari total jumlah paket menggunakan selotip, pembungkus plastik, dan bubble wrap. Hal ini juga meningkatkan masalah sampah, yang biasanya berujung di tempat pembuangan akhir (TPA).

Kini telah hadir Octopus, sebuah platform ekonomi sirkular yang membantu produsen melacak dan mengumpulkan produk bekas konsumsi, baik yang dapat didaur ulang maupun yang tidak dapat didaur ulang. Octopus hadir memberikan solusi kedua masalah tersebut, masalah sampah sekaligus masalah pengangguran. Octopus menyediakan aplikasi untuk membantu mengatasi masalah sampah, yang memungkinkan pengguna/konsumen mengirimkan kemasan bekas pakai untuk didaur ulang menjadi produk yang bernilai jual.

Bukan hanya membantu mengatasi masalah sampah, namun Octopus juga menawarkan peluang kerja bagi dengan bergabung menjadi pelestari (kolektor sampah). Co-Founder Octopus Hamish Daud menuturkan, Octopus bukan saja menyediakan lapangan kerja bagi mereka yang terkena PHK, namun juga bagi pelestari untuk memperbaiki hidupnya dengan sistem kerja yang lebih baik.

Kisah Pelestari Sukses

Salah satu contoh kisah nyata dari pelestari yang telah bergabung dengan Octopus adalah Siti Solihat (30 tahun), yang kini menjadi penopang ekonomi keluarga sejak bergabung menjadi pelestari enam bulan silam, dengan niat membantu memperbaiki ekonomi keluarga.

“Tidak sengaja saya melihat postingan Bapak Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) tentang Octopus pada April 2021, dan akhirnya saya coba mengikuti menjadi pelestari. Alhamdulillah, Octopus memang sarana untuk mendaur ulang botol-botol yang bisa didaur ulang, makanya saya tertarik bergabung,” ujar Siti yang sejak kecil terbiasa melihat perjuangan sang ayah, pengambil sampah dari rumah ke rumah dan harus memilah antara barang yang bisa didaur ulang dan yang tidak.

Penghasilan Siti kini 10 kali lipat dari pekerjaan sebelumnya sebagai pembersih kamar kos.

Hal yang sama dialami Egi Dwijaya (21 tahun), yang asal Kiaracondong, Bandung, Jabar, yang sebelumnya menjadi pemulung sejak 2014. Egi juga mengenal Octopus dari postingan Ridwan Kamil di akun Instagram.

 

Egi Dwijaya (kiri), pelestari Octopus. (Foto: ist)

 

 

“Awal mula mengenal Octopus dari story Instagram Pak Gubernur Ridwan Kamil. Dari situ saya tertarik karena selain menambah penghasilan, juga ikut berkontribusi untuk lingkungan,” ujar Egi yang memutuskan bergabung menjadi pelestari Octopus pada April 2021.

Ia mengemukakan, menjadi pelestari memiliki kelebihan, di antaranya jam kerja fleksibel, dia juga punya tujuan yang jelas untuk mendapatkan sampah daur ulang dari user.

“Yang bikin senang barang yang tidak laku di pengepul, justru di Octopus diterima, seperti kemasan sachet dan popok bekas,” ucapnya.

Egi mengakui, sejak bergabung menjadi pelestari pendapatan yang dia peroleh meningkat.

“Saat jadi pemulung rata-rata pendapatan Rp1,5 juta per bulan. Bergabung jadi pelestari Octopus, saya bisa dapat Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan,” tandasnya.

Penghasilan itu bisa dia sisihkan untuk kebutuhan pribadi sekaligus membantu perekonomian keluarga.

“Bisa bantu-bantu biaya dua adik yang masih sekolah SMP dan pesantren. Saya bisa ikut meringankan beban orang tua,” tutur Egi yang tamatan SD. “Saya ingin adik-adik saya maju dan lebih baik.”

Bagi Egi sampah menjadi sarana untuk hidup dan sumber penghasilan.

“Sampah menurut kebanyakan orang memang dianggap limbah, tapi menurut saya sampah adalah emas. Saya bisa hidup dari hasil penjualan sampah dan tidak malu melakukan pekerjaan ini. Saya ingin berkontribusi untuk kebersihan lingkungan, khususnya di Kota Bandung,” tegas Egi yang berniat mengajak teman sesama pemulung bergabung menjadi pelestari Octopus. (Ita)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.