Rabu, 17 Juli 19

Nikmati Sensasi ‘Nomadic Tourism’ di Glamping De’Loano

Nikmati Sensasi ‘Nomadic Tourism’ di Glamping De’Loano
* Menteri Pariwisata Arief Yahya meresmikan Glamping De’Loano sebagai bagian dari nomadic touris di Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Kamis (14/2/2019) petang. (Foto: Kemenpar)

Jakarta, Obsessionnews.com – Indonesia memiliki berbagai objek wisata yang mempesona. Sektor pariwisata salah satu andalan Indonesia untuk mendulang devisa sebesar-besarnya. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sebanyak 20 juta orang pada 2019. Untuk mencapai target tersebut Kemenpar gencar mempromosikan berbagai objek wisata di tanah air.

Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama wisatawan mancanegara. (Foto: Kemenpar)

Salah satu terobosan yang dilakukan Kemenpar adalah mengundang wisatawan untuk menikmati sensasi nomadic tourism di Glamping (Glamorous Camping) De’Loano dan Pasar Digital di Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Menteri Pariwisata Arief Yahya meresmikan Glamping De’Loano sebagai bagian dari nomadic touris, Kamis (14/2/2019) petang.

 

Baca juga:

Pesona Ala Raja Ampat di Bukit Tuamese

Puspayoga: Pariwisata Bisa Perkuat Keutuhan NKRI

Biaya Promosi Pariwisata Sekitar Rp 7 Triliun

Pariwisata Penghasil Devisa Terbesar di Indonesia

 

Glamping De Loano yang dilengkapi dengan amenitas nomadic berupa glamp camp, home pod, dan caravan kemudian menjadi salah satu wujud program strategis Kemenpar yang sedang mengembangkan 10 destinasi pariwisata prioritas.

 

Glamping De Loano dilengkapi dengan amenitas nomadic berupa glamp camp, home pod, dan caravan. (Foto: Kemenpar)

“Ini sebagai tahap awal dan akan menjadi proyek percontohan nomadic tourism yang sedang terus dikembangkan di empat destinasi prioritas; Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur. Glamping De’Loano ini bagian dari pendukung Borobudur,” kata Arief.

Ia mengapresiasi pengembangan Glamping De’Loano sebagai sinergi kerja sama antara Badan Otorita Borobudur (BOB) dengan Perum Perhutani. Pada tahap awal BOB menggunakan lahan seluas 1,3 hektare dari total keseluruhan lahan zona otorita sekitar 308 hektare untuk percontohan (show case) serta dalam rangka mengundang investor.

“Bisnis nomadic tourism banyak diminati investor karena karakter bisnis ini murah, cepat operasional, dan cepat kembali modal sesuai dengan karakter pasar potensial yang disasar yaitu para wisatawan milenial,” tutur Arief.

Dalam mengembangkan model bisnis ini juga ada konsep ekonomi berbagi atau sharing economy yang memberi keuntungan bagi semua pihak yang terlibat meliputi pemilik lahan, pengelola, dan masyarakat setempat.

Biaya Tidak Mahal

Sisi lain keunggulan bisnis nomadic tourism yakni hanya membutuhkan biaya yang tidak mahal dengan keuntungan yang diperoleh relatif singkat.

“Saya berani membuat tagline nomadic tourism yakni solusi sementara, sebagai solusi selamanya. Hal ini sudah terbukti dan sesuai dengan keadaan saat ini,” tandas Arief.

Seperti diketahui nomadic tourism menjadi kebutuhan wisatawan milenial sekaligus sebagai solusi dalam mengatasi keterbatas dalam membangun unsur 3A (Aktraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) di 10 destinasi pariwisata prioritas yang akan diwujudkan pada 2019 ini.

Untuk membangun fasilitas amenitas yang permanen seperti hotel berbintang, pengalaman di Nusa Dua Bali, membutuhkan waktu sekitar 15 tahun. Sedangkan dengan amenitas nomadik atau nomadic amenities (glamp camp, home pod, dan caravan) hanya sekitar dua tahun.

Begitu pula untuk membangun aksesibilitas wisata nomadik dikembangkan dengan moda transportasi seaplane mudah menghubungkan obyek-obyek wisata yang terbesar di 17.000 pulau di Tanah Air, sedangkan kalau membangun bandara membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun.

Potensi wisatawan milenial dunia yang berwisata sebagai backpacker atau wisatawan kelana di seluruh dunia mencapai 39,7 juta. Wisatawan ini terbagi dalam 3 kelompok besar yakni flashpacker atau digital nomad sekitar 5 juta orang, glampacker atau milenial nomad yang menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja sekitar 27 juta orang, dan luxpacker atau luxurious nomad yang mengembara di berbagai destinasi dunia yang instagramable sebanyak 7,7 juta orang. Para luxpacker lebih suka mengembara untuk melupakan hiruk-pikuk aktivitas dunia dan mereka lebih menyukai fasilitas amenitas glamping di kawasan wisata alam; danau, pegunungan, pantai, atau sungai.

Arief berharap Glamping De’Loano menjadi destinasi baru yang akan menambah daya tarik bagi destinasi wisata di kawasan Borobudur karena posisinya yang hanya berjarak 10 kilometer sebelah utara bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Proyek Percontohan

Direktur Utama Badan Otorita Borobudur (BOB) Indah Juanita menjelaskan, keberadaan Glamping De’Loano juga sebagai proyek percontohan yang dikembangkan oleh Badan Otorita di bawah Kemenpar diharapkan akan memberikan multiplier effect bagi masyarakat setempat.

“Glamping De’Loano adalah show case. Konsepnya kita buat percontohan masyarakat kemudian mengundang investor untuk berinvestasi,” kata Indah Juanita.

Glamping De’Loano menyiapkan 11 tenda eksklusif terdiri dari satu buah mushola dan 10 tenda inap (1 tenda VIP berkapasitas 4 orang dan 9 tenda berkapasitas 6 orang) total kapasitas inap mencapai 60 orang.

Menempati lahan 1,3 hektare di kawasan perbukitan yang berudara sejuk, di lokasi glamp camp tersebut dilengkapi sejumlah fasilitas antara lain tourism information semi outdoor restoran, outdoor cinema, cozy seating spot, toilet umum, dan spot-spot foto menarik atau instragramble banyak diminati wisatawan milenial.

Selain itu untuk meningkatkan peran masyarakat setempat, BOB menggandeng GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Purworejo membuat pasar digital di Desa Sedayu, yang berjarak 15 menit berjalan kaki dari lokasi glamp camp. Pasar Digital Sedayu tersebut menjual produk kerajinan dan kuliner yang dihasilkan oleh masyarakat setempat kepada wisatawan. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.