Mobil Terbang Diharapkan Jadi Solusi Atasi Kemacetan

Mobil Terbang Diharapkan Jadi Solusi Atasi Kemacetan
Jakarta, Obsessionnews.com - Sejumlah perusahaan otomotif terkemuka di dunia, antara lain Toyota, Airbus, dan Audi, membuat mobil terbang. Bahkan beberapa mobil terbang itu telah siap dipasarkan di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Sementara beberapa lainnya masih dalam bentuk prototipe yang nantinya akan lebih disempurnakan lagi teknologinya. Kehadiran mobil terbang ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan. Bagi yang penasaran apa saja mobil terbang tercanggih di dunia saat ini, maka langsung saja simak informasinya berikut ini: AeroMobil Perusahaan kondang asal Slovakia, AeroMobil, telah berhasil mewujudkan impian banyak orang menciptakan kendaraan masa depan paling ideal, yakni mobil terbang.  Menariknya, kendaraan revolusioner tersebut dapat segera dipesan dan jatuh ke tangan konsumen pada 2020 ini. Mobil ini memiliki dimensi: panjang 5,9 meter;lebar 2,2 meter;dan tinggi 1,5 meter. Sedangkan dimensi pesawat panjang 5,8 meter;lebar 8,8 meter;tinggi 1,4 meter, dan berat maksimal untuk take off adalah 960 kg. Sementara power mobil terbang ini menggunakan mesin custom 2.0 turbocharged 4 silinder boxer dengan sistem pembakaran internal (ICE), menggunakan sistem penggerak roda depan listrik terpadu yang menggabungkan diferensial elektronik, untuk versi mobil dapat memuntahkan tenaga hingga 110 bhp dengan E Motors kembar. Sedangkan untuk versi pesawat mampu memuntahkan tenaga 300 bhp dengan turbocharged ICE (Euro 6). Sementara untuk jangkauan operasi, yakni versi mobil ini butuh bahan bakar 4,2 liter setiap 100 km. Sedangkan, untuk versi pesawat 750 km dengan kapasitas tangki bahan bakar 90 liter (RON 95). Kalau dilihat dari performance, top speed mobil ini mencapai 160 km per jam, akselerasi 0-100 km per jam butuh 10 detik. Sedangkan, top speed versi pesawat 360 km per jam. Untuk safety mobil ini dibekali Airframe Parachute System, Occupant Restraint Systems – Airbags, Pyrotechnic Load limiting seat belts, Integral Carbon Fiber Structure & Occupant cell, dan Autonomous Flight via current autopilot technology (optional). Sementara untuk berubah dari mobil menjadi pesawat butuh waktu kurang dari tiga menit. Dengan menggunakan roda ukuran ban depan: 165 / 65 / R15 on 15jx6 rim dan ban belakang: 145 / 65 / R15 on 15jx4.5 rim. Halaman selanjutnyaPop.Up Next Pop.Up Next sendiri adalah penyempurnaan dari versi sebelumnya, yakni Pop.Up yang ditampilkan dalam sebuah pameran pada tahun 2017 lalu. Pengembangan yang dilakukan terlihat pada tampilan interiornya yang dirancang ulang. Frame tempat duduk juga diganti dengan alumunium agar mengurangi bobot. Selain itu aerodinamikanya juga didesain ulang untuk menekan konsumsi daya dan meningkatkan kinerjanya. Pada prinsipnya Pop.Up Next terdiri dari tiga bagian utama, pertama berupa ‘kapsul’ yang bisa menampung dua orang penumpang dewasa yang dibuat menggunakan rangka monokok berbahan serat karbon yang ringan dan kuat. Kedua berupa ‘modul darat’ yang beroda empat dan dilengkapi dua motor listrik. Terakhir, ‘modul udara’ berupa drone multi-copter yang dilengkapi delapan motor listrik. Wahana kawin silang mobil dengan drone multi-copter ini berfungsi secara otonom penuh, baik saat menjadi wahana darat maupun wahana terbang. Ketika berfungsi sebagai mobil dalam kota (city car) dan terjebak di tengah kemacetan, sang pengguna dapat segera mengontak atau memanggil sistem modul udara yang akan dikerahkan oleh stasiun terdekat. Berfungsi sebagai city car, modul darat Pop. Up Next dilengkapi motor listrik bertenaga 60 kW (80 hp) yang bisa melaju hingga 100 km/jam yang mengandalkan baterai sebesar 15 kWh untuk jarak tempuh sejauh 130 km. Sebagai drone modul udara ditenagai delapan motor listrik untuk mengerakkan rotornya. Modul ini dapat terbang sejauh 50 km dengan dua awak atau 100 km tanpa penumpang (kosong). Modul ini juga dilengkapi muatan baterai 70 kWh dengan kecepatan maksimum 540 km/jam. [gallery link="file" columns="1" size="full" ids="316509"] Terrafugia Mobil Terrafugia merupakan salah satu mobil terbang yang dibuat oleh perusahaan yang berasal dari Amerika Serikat. Mobil ini sudah pernah muncul pada tahun 2009 dalam bentuk prototipe. Namun, sayangnya kemunculan mobil ini mengalami masalah produksi, riset, dan perizinan. Dari segi desainnya mobil yang bisa terbang ini mirip sebuah pesawat antariksa. Terrafugia diklaim bisa meraih speed sampai 200 mph. Sebelumnya diwartakan, Terrafugia siap meluncurkan mobil terbang pertamanya bernama Transition yang bisa segera dibeli dan dikirim pada 2019 silam. Pengiriman pertama dilakukan untuk konsumen asal Amerika Serikat. Transition punya atap yang bisa dilipat, dengan waktu konversi dari mobil ke pesawat terbang yang hanya butuh waktu di bawah 1 menit. Mobil terbang dua penumpang ini pakai mesin bensin 4 silinder dengan turbocharger, yang mampu membawanya terbang hingga kecepatan setara 160 km/jam sejauh 640 km di ketinggian 10.000 kaki. Soal harga, Terrafugia Transition ini ditawarkan mulai dari USD279.000 atau setara Rp4 miliar-an. Halaman selanjutnya [gallery link="file" columns="1" size="full" ids="316510"] Cormorant Sebuah perusahaan teknologi Israel berhasil mengembangkan mobil terbang. Kendaraan futuristik ini bernama Cormorant yang mampu mengangkut beban 500 kg dan terbang 185 km per jam. Cormorant telah menyelesaikan uji penerbangan otomatis pertamanya pada bulan November 2019 lalu dan diprediksi akan diluncurkan pada tahun 2020. Mobil ini diperkirakan akan dijual seharga $14 juta (Rp186 miliar). Pengembang Urban Aeronautics percaya bahwa mobil terbang ini bisa mengevakuasi orang-orang dari area perang, serta memberikan akses yang aman bagi pasukan militer. Rafi Yoeli, Founder dan CEO Urban Aeronautics mengatakan bahwa Cormorant lebih aman daripada helikopter karena bisa terbang di antara bangunan dan di bawah kabel listrik tanpa risiko. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dirampungkan perusahaan sebelum kendaraan otonom ini menyentuh pasar. Terlebih lagi, Cormorant belum memenuhi standar Federal Aviation Administration dan tes pada bulan November masih menunjukkan masalah kecil.   Toyota SkyDrive Perusahaan otomotif asal Jepang, Toyota, tampak serius dalam memproduksi mobil terbang. Mereka berencana menciptakan SkyDrive, mobil terbang terkecil di dunia. Rencananya, Toyota akan memperkenalkan SkyDrive pada ajang Olimpiade Tokyo tahun 2020. Peluncuran mobil terbang ini juga merupakan kampanye olimpiade yang bakal digelar di negeri sakura. SkyDrive memiliki ukuran yang amat mungil. Mobil terbang ini hanya akan bisa menampung satu orang saja. Panjang mobil ini 2,9 meter, lebar 1,3 meter, dan tinggi 1,1 meter. Hal ini menjadikan SkyDrive sebagai mobil terbang terkecil di dunia. SkyDrive memiliki tiga roda. Dua roda berada di belakang dan satu roda berada di depan. Ada empat baling-baling yang berada di tiap sudut mobil ini. Toyota berinvestasi hingga sekitar 40 juta yen atau sekitar Rp4,6 miliar ke grup Cartivator (perusahaan pengembang mobil terbang) yang beroperasi di luar kota Toyota di pusat Jepang. Toyota dan perusahaan grup tersebut telah menyetujui untuk mendukung proyek tersebut dengan harapan bisa membangun prototipe mobilnya pada 2018. Proyek mobil terbang SkyDrive juga menjadi upaya Toyota untuk mengejar ketertinggalan dalam hal produksi mobil listrik. Beberapa waktu lalu Toyota mengungkapkan keresahannya terkait ketertinggalan perusahaan dalam hal mobil listrik, sehingga menyebabkan kerugian besar. (Men's Obsession/Kapoy/red)