Rabu, 18 September 19

Mengungkap Sepak Terjang Para Mafia Bola

Mengungkap Sepak Terjang Para Mafia Bola
* Satgas Anti-Mafia Bola menangkap anggota Komisi Eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng di Bandara Halim Perdanakusuma. (Foto: inews.id)

Jakarta, Obsessionnews.com – Iklim kompetisi kulit bundar di Indonesia adalah hal klise dan bukan rahasia umum, namun dibiarkan begitu saja. Dua isu itu menjadi sorotan publik setelah beredar sejumlah video viral sebuah laga Liga 2 di mana pengambil tendangan penalti menembak bola melenceng jauh dari gawang lawan. Kabar ada pengaturan skor di laga itu pun berhembus kuat.

Soal ada indikasi pengaturan skor tersebut terjadi pada laga babak delapan besar Liga 2 2018 antara Aceh United Vs PS Mojokerto Putra. Muncul dugaan pengaturan skor pada laga yang berakhir untuk kemenangan Aceh United itu. Satu pemain PS Mojokerto Putra disorot karena sepakannya justru melebar karena dianggap sengaja tak memasukkan bola ke gawang Aceh United.

Kasus pengaturan skor juga diduga terjadi di laga PSS Sleman kontra Madura FC pada babak 8 besar Liga 2 2018. Kasus ini mencuat lewat pernyataan manajer Madura FC, Januar Herwanto. Januar menyebut anggota exco PSSI, Hidayat, meminta tim berjuluk Laskar Joko Tole tersebut mengalah dari PSS Sleman dengan iming-iming uang Rp 110 juta.

Dalam laga itu, Madura FC menelan kekalahan 0-1 dari tuan rumah PSS di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Gol semata wayang PSS dicetak oleh pemain Madura FC, Choirul, yang mencetak gol bunuh diri pada menit ke-83 serta diiringi berbagai kontroversi mulai dari pergantian wasit di tengah jalannya pertandingan, hingga offside pemain PSS Sleman pada proses terjadinya gol.

Program Mata Najwa lalu mengangkat isu ini dengan menghadirkan nara sumber antara lain anggota Komite Eksekutif PSSI Gusti Randa, mantan runner pengaturan skor Bambang Suryo, dan manajer Madura FC Januar Herwanto. Dalam acara Mata Najwa itu disiarkan langsung pada Rabu (29/11/2018) malam itu semakin membuka adanya kasus pengaturan skor dan mafia sepak bola. 

Tidak butuh waktu lama, Satuan Tugas (Satgas) Anti-Mafia Bola langsung menangkap tiga tersangka dugaan skandal pengaturan skor pertandingan sepakbola ajang Liga 2 dan Liga 3 2018. Ketiganya adalah anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Johar Lin Eng, mantan anggota Komisi Wasit, Priyanto (P) alias Mbah Pri dan anaknya Anik Yuni Artikasari (A) alias Tika.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono membeberkan peran ketiganya. Argo Yuwono menjelaskan bahwa Priyanto berperan untuk mencari wasit yang dapat ‘diatur’ dalam mengatur pertandingan. Dirinya bekerja sesuai arahan Johar Lin Eng.

“Dia (Johar) menyuruh komunikasi ke P. P mantan (anggota) Komisi Wasit. P tahu, artinya ada 35 wasit, jadi dia tahu, tidak semua wasit bisa diajak kompromi, tetapi (wasit) tertentu saja yang diajak sama dia,” kata Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (28/12/2018).

Biasanya, lanjut Argo, klub yang meminta bantuan Johar Ling Eng agar bisa menang dalam kompetisi. Kemudian Johar menginstruksikan pengurus klub untuk berkomunikasi dengan Priyanto agar bisa dicarikan wasit yang dapat diatur. “Jadi kalau klub sudah komunikasi dengan dia tinggal ditentukan wasitnya siapa,” paparnya.

Sementara Anik, kata dia, merupakan mantan wasit futsal yang berperan sebagai asisten dari pelapor mantan manager Persibara Banjarnegara Lasmi Indrayani. Di sana Anik bertugas mengumpulkan uang dari pelapor untuk dibagi-bagi kepada sejumlah pihak terkait dengan pengaturan skor dalam sebuah pertandingan.

“Dia (Anik) menerima juga uang dari pelapor, intinya setiap pertandingan mengeluarkan uang Rp100 juta sampai 200 juta. Dibagi yang terima si A, nanti dia dikirim ke P nanti ngirim ke J,” ungkapnya.

Operasi penangkapan berlanjut. Setelah menangkap Johar Lin Eng, Priyanto dan Anik Yuni Artikasari, Tim Satgas Anti-Mafia Bola kembali menangkap praktisi sepakbola yang diduga melakukan pengaturan skor Liga 3 Indonesia. Kali ini yang ditangkap yakni Dwi Riyanto alias Mbah Putih di Hotel New Saphire Yogyakarta, Jumat (28/12/2018) pukul 10.00 WIB. 

Penangkapan Mbah Putih didasarkan dari laporan Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah Lasmi Indaryani. Mbah Putih sendiri merupakan anggota nonaktif Komisi Disiplin PSSI yang diduga mengatur jalannya pertandingan Liga 3 Persibara Banjarnegara.

“Saat ini tersangka masuk pemeriksaan awal Tim Satgas Anti-Mafia Bola untuk didalami lagi, dikembangkan lagi, dalam rangka untuk mengungkap secara luas jaringan mafia sepakbola ini yang menggangu prestasi sepakbola Indonesia,” ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo.

Peran Mbah Putin masih dalam lingkaran skandal pengaturan skor yang dilakukan Tjan Lin Eng alias Johar yang berkutat di Liga 2 dan Liga 3. Mbah Putih diduga berperan sebagai penyandang dana dalam sindikat tersebut.

“Kalau peran tersangka, sama seperti kemarin tersangka TL. dia sebagai penyandang dana. Nanti didalami dulu. Itu terkait pengaturan skor di Liga 2 dan Liga 3. Itu pintu awal satgas masuk menelusuri dugaan pengaturan skor lebih luas,” jelas Dedi. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.