Megawati Soekarnoputeri Tokoh Berpengaruh 2016

Megawati Soekarnoputeri Tokoh Berpengaruh 2016
Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017 yang bertajuk  “71 Tokoh Berpengaruh 2016” menempatkan Megawati Soekarnoputri  sebagai salah seorang tokoh yang berpengaruh. Sebagai satu-satunya pemimpin partai politik perempuan yang tetap eksis dan disegani saat ini, Megawati  tak hanya memiliki pengaruh besar di lingkaran Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), tapi juga di jagat perpolitikan nasional. Satu hal yang tak disangkal, sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan Megawati memiliki kharisma yang kuat. Putri sulung Bung Karno ini sukses mengantarkan PDI Perjuangan menjadi partai politik yang besar. Lewat kendaraan partai berlambang kepala banteng bermoncong putih ini pun Megawati berhasil menjadi Presiden RI periode 2001-2004. Selanjutnya partai ini juga berhasil mengantarkan seorang kadernya, Joko Widodo (Jokowi) menjadi Presiden RI periode 2014-2019. Perempuan bernama asli Dyah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri tak hanya mewarisi kharisma ayahnya, Bung Karno, tetapi juga menjadi simbol perjuangan. Jika Sukarno menjadi simbol perjuangan gigih melawan penjajah, Belanda dan Jepang, sekaligus bersama Mohammad Hatta menjadi proklamator Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, sedangkan Mega menjadi simbol perjuangan membela rakyat kecil seperti selalu dikatakan bahwa PDI Perjuangan adalah partai wong cilik. Mega terjun ke dunia politik dan  bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) tahun 1987. Pada masa pemerintahan Orba hanya terdapat tiga partai, yakni Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan PDI. Golkar mesin utama Orba. Partai beringin ini didirikan oleh Presiden Soeharto. Jenderal Besar ini juga duduk sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar. Oleh karena itu, Orba identik dengan Golkar dan Soeharto. Dalam enam kali pemilu di era Orba, yakni Pemilu 1971, Pemilu 1977,  Pemilu 1982, Pemilu 1987, Pemilu 1992, dan Pemilu 1997, Golkar selalu keluar sebagai pemenang. Sedangkan PPP dan PDI harus puas menduduki peringkat kedua dan ketiga. Perjalanan menjadi sosok pemimpin berpengaruh tidak dilewati Megawati dengan mudah. Karena terpilihnya ia menjadi ketua umum PDI Perjuangan harus dilalui lewat perjuangan, darah, dan air mata. Sampai kemudian pada Minggu 14 Februari 1999, PDI Perjuangan di deklarasikan dan dihadiri ratusan ribu orang.  Pada tahun itu juga PDI Perjuangan memenangkjan Pemilu. Kemudian pada Pemilu 2004 PDI Perjuangan menduduki peringkat kedua. Pada Pemilu 2009 PDI Perjuangan menempati posisi ketiga. Dan pada Pemilu 2014 PDI Perjuangan tampil sebagai jawara, sekaligus sukses mengantarkan Joko Widodo (Jokowi) menjadi Presiden RI periode 2014-2019. Mega memang identik dengan Ibu bagi kader PDI Perjuangan, karena mampu mengayomi dan menjembatani setiap persoalan yang terjadi di partai itu. Di bawah kepemimpinannya, Megawati mampu mengonsolidasikan partai tersebut. Terbukti ia selalu terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum tanpa tanding dan tanpa rival. Mega mampu merangkul perbedaan dan bisa menyatukan partai yang sedemikian plural, sehingga masih tetap utuh sampai saat ini. Kadernya berasal dari berbagai suku dan agama yang berbeda-beda, lengkap dari Sabang sampai Merauke. Pastilah seorang Mega adalah orang yang mempunyai toleransi yang sangat besar. Namun di sisi lain, ia adalah perempuan yang ‘keras’ dalam artian ‘keras’  mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran, konstitusi, ideologi, dan nasionalisme. Begitu juga di partai, ia sangat tegas mempertahankan nilai-nilai yang telah digariskan oleh partainya. Hal itu bisa dilihat dalam banyak hal. Misalkan dalam soal penentuan bakal calon kepala daerah yang akan dicalonkan partainya. Karena itulah, pasca Kongres PDI Perjuangan di Bali selesai dan Mega kembali memimpin PDI Perjuangan, maka tak ada seorang pun kader yang berani melawan dan akan membuat kongres tandingan seperti di Golkar dan PPP yang harus berkonflik dan mencari celah untuk saling menyerang. PDI Perjuangan sejak dipimpin Mega, praktis tak pernah ada riak-riak yang membuat PDI Perjuangan bubar. Pengaruh Mega sebagai king maker di PDI Perjuangan membuat Partai ini makin bersinar untuk setidaknya hingga satu periode kepemimpinan Mega ke depan. (Arief Sofiyanto).