Jumat, 24 Januari 20

Mahasiswa Demo Ditembak Saat HUT Partai Komunis China

Mahasiswa Demo Ditembak Saat HUT Partai Komunis China
* Pengunjuk rasa bentrok dengan aparat. (BBC)

Seorang demonstran ditembak dengan peluru tajam di tengah protes ribuan orang di Hong Kong, Selasa (1/10), usai parade HUT ke-70 Republik Rakyat China (RRC) sekaligus Partai Komunis China.

Seperti pembantaian ribuan mahasiswa demo di Tianamen dulu, nampaknya komunis totaliter memang kejam! Kini, mahasiswa demo di Hong Kong dianggap melanggar larangan unjuk rasa dalam peringatan 70 tahun kekuasaan Komunis di China. Inilah untuk pertama kalinya peluru tajam menghantam demonstran sejak unjuk rasa dimulai Juni lalu.

Kepala kepolisian di Hong Kong, Stephen Lo, mengatakan ini adalah “salah satu dari hari-hari paling keji dan kacau di Hong Kong”.

Demonstran yang ditembak bernama Tsang Chi-kin, seorang remaja berusia 18 tahun. Salah satu dari enam peluru tajam yang ditembakkan polisi mengenai dadanya.

Rekaman video penembakan Tsang Chi-kin, yang menyerang seorang polisi menggunakan tiang, disebarkan daring.

“Dada saya sakit, saya perlu ke rumah sakit,” kata Tsang, yang ditahan setelah ditembak. Pemerintah Hong Kong menyatakan dia kini dalam kondisi stabil.

Stephen Lo menegaskan penembakan menggunakan peluru tajam “beralasan dan sah secara hukum” lantaran polisi yang menembak meyangka nyawanya dan rekan-rekannya dalam ancaman.

Ditanya mengapa penembakan dilakukan dari jarak dekat, Lo berkata: “Dia [polisi yang menembak] tidak memutuskan jarak antara dirinya dan si penyerang.”

Bentrokan terjadi antara demonstran dan aparat yang diwarnai gas air mata dan bom molotov, menyebabkan paling tidak 104 orang dirawat di rumah sakit dan 180 lainnya ditahan. Lo berkilah bahwa sebanyak 25 polisi mengalami cedera.

Protes yang berlangsung hampir empat bulan di Hong Kong menantang visi Presiden Xi Jinping tentang kesatuan nasional.

Sebelumnya di Hong Kong, bendera China dinaikkan dalam upacara khusus dengan penjagaan ketat untuk sektiar 12.000 undangan yang menyaksikan tayangan langsung di pusat konperensi.

Dalam hari yang digambarkan pengunjuk rasa sebagai “hari sedih”, orang turun ke sejumlah tempat di Hong Kong dan menutup jalan-jalan.

Demonstran melempar balik gas air mata ke arah petugas dalam protes di Hong Kong. (BBC)

 

Jurnalis asal Indonesia luka berat
Sebelumnya, pada Minggu (29/9), Veby Indah, seorang jurnalis dari media Suara berbahasa Indonesia di Hong Kong telah terluka parah terkena proyektil senapan gentel berpeluru kaliber 12 gauge. Polisi Hong Kong dituduh telah menembakkan proyektil tersebut.

Pada saat itu Veby sedang meliput unjuk rasa di Hong Kong. Dia berada di posisi di jembatan pejalan kaki yang menghubungkan HK Immigration Tower dengan Exit A4 dari Stasiun MTR Wanchai. Dia telah mengenakan rompi warna mencolok dengan tulisan “PRESS”, helm pelindung dengan tulisan “PRESS”, dan kartu identitas jurnalis yang dikalungkan di lehernya.

Berdasarkan keterangan Michael Vidler di Vidler & Co Solicitors yang mewakili Veby, proyektil tersebut menghantam kaca mata pelindung yang dikenakan Veby dari jarak sekitar 12 meter. Kuatnya benturan mengakibatkan cedera parah di mata kanannya, luka sayat di dekat mata kanan, yang harus dijahit dan cedera di mata kirinya.

Menurut perkiraan, dokter akan bisa melakukan pemindaian pada mata kanan Veby dalam tujuh hari untuk dapat melakukan penilaian lebih mendetil terhadap tingkat keparahan dari cederanya.

Mengomentari kejadian tersebut, Michael Vidler yang mewakili Vebi mengatakan: “Veby sangat beruntung masih hidup dan jika tidak dilindungi oleh kacamata pelindung, dia pasti sudah mengalami kebutaan karena tembakan tersebut. Pada saat ini, masih tetap ada kemungkin adanya kerusakan penglihatan yang parah.”

Perayaan 70 tahun RRC
Di Beijing, China menggelar perayaan besar-besaran untuk menandai 70 tahun berdirinya Republik Rakyat China (RRC).

Pada 1 Oktober 1949, Mao Zedong memproklamirkan RRC di Lapangan Tiananmen, Beijing, setelah pasukan komunis memenangi perang sipil yang berdarah.

Di tempat yang sama, Presiden Xi Jinping menegaskan “tiada kekuatan” yang mampu menggentarkan China.

“Tiada kekuatan yang bisa menghentikan rakyat China dan bangsa ini untuk bergerak maju,” cetus Xi.

Keberadaan Xi didampingi oleh dua pendahulunya, Jiang Zemin dan Hu Jintao. Memakai kacamata hitam, Jiang yang kini berusia 92 tahun duduk diam selagi Xi menyampaikan pidatonya.

Jiang, yang menjabat presiden dari 1993 sampai 2003, jarang tampil di hadapan publik dan kerap dispekulasikan terkait kesehatannya.

Selain Jiang Zemin, Hu Jintao yang tampil dengan rambutnya yang putih. Adalah Hu yang menginspeksi parade militer pada 2009 ketika RRC merayakan hari jadi ke-60.

Pada parade militer kali ini, sebagaimana dipaparkan Kementerian Pertahanan Nasional China, sekitar 15.000 personel, 580 perangkat militer, dan 160 pesawat ikut berpartisipasi.

Beragam persenjataan terbaru China dipamerkan, seperti tank, helikopter, hingga rudal balistik antarbenua DF-41.

Sejumlah pesawat turut meramaikan parade dengan membentuk angka ’70’ saat terbang melesat di atas Lapangan Tiananmen. Akan tetapi, perayaan ini dibayangi oleh demonstrasi di Hong Kong.

Wartawan BBC di Hong Kong, Grace Tsoi, melaporkan polisi telah menembakkan gas air mata ke kawasan permukiman Wong Tai Sin.

Tembakan itu dilesatkan selagi ribuan demonstran berbaju hitam berupaya memblokade jalan-jalan utama.

Di Causeway Bay, para demonstran menutupi jalan sembari mengangkat telapak tangan dan memekik “Lima tuntutan, tidak kurang satu pun.”

Demonstran lainnya mengibarkan bendera simbol Hong Kong dengan warna hitam bercorak merah darah. Warna hitam itu merujuk pada matinya demokrasi dan “kejahatan” pemerintah China.

Veby Mega saat mendapat perawatan pertama, Minggu (29/9). (BBC)

 

Wartawan Indonesia Ditembak Polisi Hingga Buta Matanya
Veby Mega Indah, jurnalis asal Indonesia, mengalami kebutaan pada mata kanannya setelah terkena tembakan polisi saat meliput demonstrasi di Hong Kong, pada Minggu (29/9). Kepastian itu dikemukakan pengacara Veby, Michael Vidler, kepada wartawan BBC Chinese, Cho Wai.

Keterangan yang sama diperoleh Jerome Taylor, wartawan kantor berita AFP di Hong Kong, dalam cuitannya yang mengutip Vidler.

“Para dokter yang merawat Veby hari ini menginformasikan kepadanya bahwa cedera yang dialami akibat terkena tembakan polisi menyebabkan kebutaan permanen pada mata kanannya. Dia telah diinformasikan bahwa pupil matanya robek akibat kuatnya benturan. Persentase kerusakannya hanya dapat dinilai setelah operasi,” sebut Vidler.

Vidler juga mengklaim bahwa telah menerima bukti dari pihak ketiga yang mengindikasikan proyektil yang membutakan Veby adalah peluru karet.

Pada Minggu (29/09), Veby yang merupakan seorang jurnalis dari media Suara berbahasa Indonesia di Hong Kong, sedang berada di posisi di jembatan pejalan kaki yang menghubungkan HK Immigration Tower dengan Exit A4 dari Stasiun MTR Wanchai.

Dia telah mengenakan rompi warna mencolok dengan tulisan “PRESS”, helm pelindung dengan tulisan “PRESS”, dan kartu identitas jurnalis yang dikalungkan di lehernya.

Berdasarkan keterangan pengacara Michael Vidler di Vidler & Co Solicitors yang mewakili Veby, proyektil tersebut menghantam kaca mata pelindung yang dikenakan Veby dari jarak sekitar 12 meter. Kuatnya benturan mengakibatkan cedera parah di mata kanannya, luka sayat di dekat mata kanan, yang harus dijahit dan cedera di mata kirinya. (*/BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.