Lebih 100 Pastor Katolik Terlibat Kejahatan Seksual

Skandal gereja Cile: 'Saya dilecehkan pastor selama berpuluh tahun' Di Cile, lebih dari 100 rohaniwan Katolik tengah diselidiki atas dugaan kejahatan seksual dan upaya untuk menutupinya. Ini adalah skandal yang menghantui kepemimpinan Paus Fransiskus dan telah menggiring gereja Katolik di Cile terjerembab ke dalam krisis. Skandal itu dimulai beberapa dasawarsa lalu ketika seorang pria bernama Fernando Karadima, seorang pastor di Santiago, menjadi predator seksual paling terkenal di Cile. "Ia menawarkan visi tentang panggilan dari Tuhan. Ia menunjukkan kepada Anda sebuah dunia yang sangat indah," kenang Dr James Hamilton, seorang ahli bedah lambung yang sekarang berusia 50-an tahun. "Ia selalu mengatakan kepada kami bahwa ia dianugerahi kelebihan khusus - semacam keajaiban - yang bisa ia lihat di setiap anak muda, jika mendapat panggilan dari Tuhan. Ia nyaris bagaikan orang suci." Pada awal 1980-an, Pastor Fernando Karadima menawarkan perlindungan kepada James Hamilton yang kala itu masih remaja. Saat itu, Cile sudah 10 tahun berada di bawah kediktatoran Jendral Augusto Pinochet. Di masa yang sarat akan pembunuhan dan penghilangan paksa itu, Karadima mendirikan komunitas gereja di kawasan elite Kota Santiago, El Bosque, yang memberikan jaminan keamanan. "Bagi seorang remaja, tawaran itu bak lebah dan madu - terasa manis kala berada di dunia yang dirundung kesulitan, ketika Anda berjuang dengan keluarga Anda," kata James Hamilton. 119 kasus pelecehan seksual Sekitar 119 kasus pelecehan seksual ini terjadi di Cile di bawah kediktatoran Pinochet. Pastor Fernando Karadima adalah seorang pendukung Pinochet - ia berteman dengan semua mantan jenderal Pinochet. Ia memiliki kekuatan besar - sampai saat ini." Kini, Fernando Karadima berusia 88 tahun. Ia tinggal di sebuah biara dengan sebuah taman luas yang terletak di kawasan mewah Santiago. Pada tahun 2011 Vatikan menyatakan ia bersalah atas pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, kadang-kadang dengan kekerasan. Ia dijatuhi hukuman dengan menyendiri sembari berdoa, dan dilarang berhubungan dengan mantan anggota-anggota paroki, atau melakukan pelayanan publik. Tapi mengapa pemrosesan kasus ini begitu lama? Apa yang menghambat Uskup Agung Santiago, Kardinal Francisco Javier Errazuriz, dalam melakukan penyelidikan gerejawi terhadap perilaku Karadima, padahal ia sudah menerima laporan pertama tentang pelecehan seksual setidaknya tujuh tahun sebelumnya? "Sayangnya, saya menilai bahwa tuduhan itu tidak kredibel pada saat itu," katanya kepada media pada 2010. Kasus Karadima ini mengguncang Cile. Kekesalan terhadap Gereja Katolik makin membara pada 2015. Kala itu, Paus Fransiskus menunjuk salah satu pemuka gereja, Juan Barros, sebagai uskup - seorang pria yang diduga melindungi Karadima. [caption id="attachment_260293" align="alignnone" width="640"]
Uskup Juan Barros memimpin misa Minggu Palem pada bulan Maret 2018. (BBC)[/caption] Warga Cile sangat berang Para pengunjuk rasa menyambut kedatangan Paus ketika ia mengunjungi Cile pada Januari 2018. Sikap Paus yang menyebut tuduhan terhadap Uskup Barros sebagai "fitnah" menimbulkan kemarahan yang sangat besar. Setelah ia meninggalkan Santiago, Paus Fransiskus dipaksa untuk menanggapi para pemrotes, dan mengirim dua utusan ke Cile untuk menyelidiki kasus pelecehan seksual ini. Sejak saat itu krisis parah terjadi di Gereja Katolik. Utusan Vatikan membuat laporan sebanyak 2.300 halaman, dan Paus mengakui, "budaya pelecehan" di Cile. Lima uskup mengundurkan diri - termasuk Juan Barros. Sementara itu, untuk pertama kalinya di Cile, jaksa sipil menyita dokumen gereja dalam serangkaian penggerebekan. Kini, aparat Cile sedang menyelidiki 119 kasus pelecehan seksual dan upaya yang ditutup-tutupi oleh gereja. Sejauh ini sudah ada 178 korban yang teridentifikasi, hampir separuhnya adalah anak di bawah umur pada saat tuduhan pelecehan itu terjadi. Uskup Agung Santiago, Kardinal Ricardo Ezzati, dipanggil oleh jaksa untuk bersaksi. Meskipun penyelidikan telah diperluas tak hanya pada Fernando Karadima dan orang-orang kepercayaannya, komitmen otoritas Cile untuk memberi keadilan terhadap korban kekerasan seksual malah membuat korban-korban Karadima lainnya terus bermunculan. Bulan lalu, Romo Francisco Javier Ossa Figueroa memberikan kesaksiannya selama dua jam kepada jaksa tentang apa yang terjadi padanya di El Bosque sejak akhir 1980-an dan seterusnya. (BBC) Sumber: bbc.com
Uskup Juan Barros memimpin misa Minggu Palem pada bulan Maret 2018. (BBC)[/caption] Warga Cile sangat berang Para pengunjuk rasa menyambut kedatangan Paus ketika ia mengunjungi Cile pada Januari 2018. Sikap Paus yang menyebut tuduhan terhadap Uskup Barros sebagai "fitnah" menimbulkan kemarahan yang sangat besar. Setelah ia meninggalkan Santiago, Paus Fransiskus dipaksa untuk menanggapi para pemrotes, dan mengirim dua utusan ke Cile untuk menyelidiki kasus pelecehan seksual ini. Sejak saat itu krisis parah terjadi di Gereja Katolik. Utusan Vatikan membuat laporan sebanyak 2.300 halaman, dan Paus mengakui, "budaya pelecehan" di Cile. Lima uskup mengundurkan diri - termasuk Juan Barros. Sementara itu, untuk pertama kalinya di Cile, jaksa sipil menyita dokumen gereja dalam serangkaian penggerebekan. Kini, aparat Cile sedang menyelidiki 119 kasus pelecehan seksual dan upaya yang ditutup-tutupi oleh gereja. Sejauh ini sudah ada 178 korban yang teridentifikasi, hampir separuhnya adalah anak di bawah umur pada saat tuduhan pelecehan itu terjadi. Uskup Agung Santiago, Kardinal Ricardo Ezzati, dipanggil oleh jaksa untuk bersaksi. Meskipun penyelidikan telah diperluas tak hanya pada Fernando Karadima dan orang-orang kepercayaannya, komitmen otoritas Cile untuk memberi keadilan terhadap korban kekerasan seksual malah membuat korban-korban Karadima lainnya terus bermunculan. Bulan lalu, Romo Francisco Javier Ossa Figueroa memberikan kesaksiannya selama dua jam kepada jaksa tentang apa yang terjadi padanya di El Bosque sejak akhir 1980-an dan seterusnya. (BBC) Sumber: bbc.com




























