Jumat, 27 Mei 22

Kronologis Detik-detik Kematian Siska

Kronologis Detik-detik Kematian Siska

Kisah Malpratik (22)
Kornologis Detik-detik Kematian Siska

WAFATNYA Allya Siska Nadya yang diduga sebagai korban malpraktik bisa menimpa siapa saja, jika pemerintah  tak segera bertindak tegas melakukan pengawasan dan pengetatan izin terhadap klinik-klinik yang menjamur di Indonesia.

“Saya berharap tidak ada lagi ‘Siska-Siska” lain yang jadi korban lagi,” tutur ayah Siska, Alfian Helmy Hasjim.

Allya Siska Nadya alias Siska atau akrab dipanggil Cica oleh keluarganya, wafat beberapa jam setelah melakukan  kali perawatan Chiropratic First, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Gadis cantik ini diduga menjadi korban malpraktik yang dilakukan dr Randall Cafferty, praktisi Chiropratic asal Amerika Serikat (AS). Sebelumnya korban membayar uang sejumlah Rp17 juta untuk pembayaran Therapy Adjustment sebanyak 40 kali sebagaimana direkomendasikan  Randall Cafferty.

Tempat Siska dimakamkan.
Tempat Siska dimakamkan.

Berikut ini kronologis detik-detik kematian Cica yang ditulis Obsessionnews berdasarkan keterangan dari ayah dan ibu korban, Alfian Helmy Hasjim dan Arnisda Helmy, serta tiga saudara korban yaitu Elvida Nataya, Elvira Nattya dan Elvita Natassa.

Pada 5 Agustus 2015 lalu, pukul 16.00 WIB, Cica melakukan kunjungan pertama di klinik Chiropratic First, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saat itu Siska ditawarkan 30-40 treatment oleh pihak klinik, namun Siska langsung berkata, pada 15 Agustus 2015 harus berangkat ke Paris. Sehingga, pada 6 Agustus klinik Chiropratic First menawarkan sehari 2 kali treatment.

Kunjungan keduanya 6 Agustus 2015 pukul 13.00 WIB terapi pertama dilakukan. Kemudian pukul 14.00 pasien kembali ke rumah. Setiba di rumah anak yang dikenal hidup mandiri itu, meminta tolong asisten rumah tangga orang tuanya untuk menurunkan barang-barangnya dari mobil dikenadarainnya, padahal Siska pada biasannya selalu membawa barang sendiri. Di hari yang sama pukul 15.45 WIB, pasien kembali ke klinik Chiropratic First untuk mengintreatment. Pasien pun kembali kerumah kurang lebih pukul 20.00 WIB.

Saat ayahnya naik ke ruangan atas untuk tidur, pukul 22.00 WIB Siska  masih terlihat main Iphone, namun raut wajahnya tidak seperti biasanya Sekitar pukul 23:15 WIB Siska memanggil ayahnya lewat intercom,“Cica kesakitan,” ucapnya.

Ayahnya pun langsung membangunkan istrinya. “Cica sakit, Cica kesakitan,” katanya panik.

Istrinya kaget. Dengan gerakan reflex, mereka langsung ke kamar Cica. Saat itu Cica ditemukan sedang duduk di pinggir tempat tidur merintih kesakitan.

Tanpa banyak tanya, orangtua Siska langsung menawarkan untuk pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD). Saat itu juga Siska mengiyakan. Padahal biasanya dia akan menahan diri, tapi sikapnya saat itu langsung sepakat saja. Pukul 23.55 WIB tiba UGD Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta Selatan, dan langusng diterima oleh tenaga medis, dibawa ke ruang sal UGD memakai kursi roda. Saat itu kedua orang tuanya  langsung bercerita ke tenaga medis mengenai kunjungan Siska 2 kali di klinik Chiropratic.

Bangku kesukaan Alya Siska Nadia pada saat santai sambil menonton TV
Bangku kesukaan Alya Siska Nadia pada saat santai sambil menonton TV

Cica terlihat kesakitan saat itu, dan dokter pun langsung memasang infus, memberi obat anti-sakit, yang katanya dapat bereaksi dalam seper dua jam. Tapi waktu yang ditentukan itu setelah satu per dua jam tidak ada pengurangan rasa sakit, malah korban terus menjerit kesakitan. Saat itu ibu Cica  kembali melapor ke petugas medis, dan mereka memberikan obat lagi.

Dengan panik ibu Cica bertanya pada dokter Rz. “Kalau tidak mampan bagaimana?”

Dokter langsung menjawab akan memberikan sejenis narkotik.

Tidak lama kemudian setelah pasien diberikan obat anti-sakit, salah seorang suster memasang alat penyangga leher ke Cica. Namun pasien terus menjerit kesakitan, seketika penyangga leher pun dibuka. Beberapa saat setelah dibuka penyangga, leher sebelah kiri bawah Cica terlihat bengkak besar. Ibu Cica kembali lagi melaporkan keadaan pasien ke dokter Rz,, namun respon dokter malah terlihat heran.

Saat itu dokter sedang menelepon seseorang. Tak lama kemudian datang dokter Chippy, yang langsung memeriksa korban. Usai pemeriksaan, dokter Chippy mencoba menenangkan keluarga Cica.

Siska 12

Malam berganti dan waktu menunjukkan tanggal 7 Agustus 2015. Korban masih terbaring di rumah sakit. Dini hari pukul 01.07 WIB kakak Cica, Elvida Nataya, datang ke rumah sakit setelah ditelepon oleh ibunya. Melihat kondisi korban begitu parah, Cica kesakitan sambil meminta tolong, memegang tangan kakaknya sekuat tenaga menahan rasa sakit.

Kondisi Cica semakin parah, dia meminta bantu segera dipasangkan oksigen. Namun oksigen dilepaskan berselang seling sehingga kakaknya diminta untuk melakukan itu. Secara diam-diam ibu Cica membisik Elvida, menyampaikan kalau pasien sudah diberikan morfin (pengurangan rasa sakit) namun tidak ada efeknya, malah pasien kesakitan luar biasa.

Tepatnya Jumat (7/8/2015) pukul 02.35  WIB,  Cica mengalami kejang-kejang. Dokter UGD  langsung mengambil tindakan memompa jantung korban dan memasang ventilator. Saat itu dokter menyampaikan ke pihak keluarga bahwa pasien sedang tidak sadarkan diri dan harus bernafas dengan ventilantor.

Waktu menunjukkan pukul 02.37 WIB. Saat itu Dokter Vesailar datang, kemudian menyiapkan alat USG, sambil mengatakan,”Kita memasuki masa-masa sulit.”

Elvida langsung menghubungi saudaranya yang bernama Elvira yang saat itu masih ada di rumah. Ia meminta Elvira  untuk segera datang ke UGD Rumah Sakit Pondok Indah.

Elvira kakak ketiga pasien, saat itu sedang tidur, langsung dibangunkan oleh pembantu rumah tangga, sambil menyampaikan kalau kakaknya, Elvida, memintanya segera ke Rumah Sakit Pondok Indah. Sebab Cica lagi kritis, tidak sadarkan diri. Tepatnya pukul 03.35 WIB Elvira tiba di ruangan pengobatan pasien.

 Alya Siska Nadia (nomor 2 dari kanan) usia 13 tahun saat foto bersama keluarga di Bali tahun 1995
Alya Siska Nadia (nomor 2 dari kanan) usia 13 tahun saat foto bersama keluarga di Bali tahun 1995.

“Korban saat itu sedang tidak sadar. Terdapat bengkak disekitar bahu belakang sebelah kiri. Saat itu saya melihat ada dua suster sedang mempersiapkan insisi pada tubuh pasien yang bengkak. Sedangkan Ayah saat itu sedang berbicara dengan dokter Chippy,” tutur Elvida.

Saat itu dokter Chippy menyampaikan hasil diskusi bersama rekan dokter lainnya yang hadir di lokasi. Disimpulkan  telah terjadi pembuluh darah bagian leher pecah. Namun, menurut dokter itu pembuluh darah kecil, sehingga diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak yang besar. Namun  Chippy mengajukan perlu dilakukan MRI untuk menentukan yang pasti. Menurut Chippy hal itu perlu dilakukan mengingat kondisi pasien belum stabil.

Tak lama pasien sempat sadar sebentar, dengan meronta kesakitan sehingga alat ventilator yang dilepas dari mulut pasien. Namun Cica kembali ditidurkan supaya tenang, saat itu tekanan nadinya naik turun. Dokter pun meminta pihak rumah sakit menyiapkan ICCU. Sedangkan pihak keluarga diminta untuk mempersiapkan administrasinya. Ayah Cica langsung mengurusnya dan langsung melunasi pembayaran keperluan perawatan selama 10 hari.

Yang dapat diingat oleh keluarga detak nadinya 60-an per 20-an, 70-an per 30-an. Selang waktu singkat alat yang menunjukkan kondisi vital korban (yang menunjukan detak jantung) dimatikan. Keluarga korban tidak tahu kenapa dibuka, namun dokter di UGD menyampaikan kalau alat jantung yang paling maksimal akan diberikan apabila setelah detak jantungnya tidak naik, kalau tidak pasien akan sangat sulit ditolong.

Jarum jam menunjukan pukul 05.45 WIB, dokter meminta izin untuk memompa jantung pasien agar dapat bertahan. Keluarga pasien diminta untuk bersiap-siap. Kurang lebih 30 menit jantung pasien dipompa. Dokter memberikan pernyataan semua usaha sudah dilakukan namun tidak direspons oleh tubuhnya. Pasien  dinyatakan meninggal dunia.

Kurang lebih 10 menit korban dinyatakan meninggal, seorang dokter saraf datang dan dikenalkan pada keluarga korban. Dokter Sarah namanya. Dia  sejenak berbicara dengan salah satu suster di UGD. Keluarga Cica hanya mendengar percakapan mereka, “Itu yang tadi malam dok, yang dokter sempat ditelepon.”

Dokter Sarah melihat pasien dari meja suster di ruang UGD dan tak melakukan apa-apa. (Bersambung)

Baca juga:

Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah Terapi

Polisi Buru ‘Pembunuh’ Siska

Ahok Tutup Klinik Asing yang Menyebabkan Siska Meninggal

‘Pembunuh’ Siska Diduga Kabur, Polisi Sudah Proses Hukum

 

(Tim Obsessionnews)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.