Kamis, 29 Oktober 20

Komunitas Waria Yogyakarta Peduli Kegiatan Sosial

Komunitas Waria Yogyakarta Peduli Kegiatan Sosial

Yogyakarta, ObsessionnewsPenyatuan pemikiran antar wanita tapi pria (waria) merupakan tujuan dari berdirinya sebuah komunitas. Terlebih Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo), tak hanya menyejahterakan anggota demi kepentingan bersama, tetapi juga pengakuan masyarakat terhadap keberadaan mereka.

Tahun 1982, perkumpulan waria di Yogyakarta sudah muncul apa adanya dengan nama kebesaran Iwayo tadi. Sempat mati suri pada tahun 1992. Kemudian menjadi Paguyuban Waria Mataram (Awama) dan sempat vakum. Hanya bertahan dua tahun lamanya.

Tampil dalam acara pentas seni
Tampil dalam acara pentas seni

Beberapa waria mengeluarkan ide untuk bangkit kembali dengan nama (Iwayo) pada tahun 2010. “Sempat vakum dan akhirnya kami sepakat untuk menaikkan Iwayo kembali. Dengan 10 komunitas tergabung di dalamnya, yaitu dari Bantul, Kotagede, waria kawasan Bank Indonesia (BI), Sidomulyo, Wates, dan lain-lainnya,” terang Shinta Ratri, Ketua Iwayo, kepada obsessionnews.com beberapa waktu lalu.

“Kami memiliki gagasan untuk berdirinya Iwayo lagi dengan tatanan yang baik. Dengan misi penurunan stigma masyarakat terhadap waria itu sendiri. Kami ingin menunjukkan, bahwa waria itu tak hanya dipandang sebelah mata. Kami juga bisa hidup seperti layaknya masyarakat pada umumnya,” ungkapnya.

Pada saat itu, tahun 1980-an, komunitas ini beranggotakan sebanyak 62 orang. Namun masing-masing memiliki kegiatan sendiri. Akhirnya saat itu juga seolah tak ada jejak maupun perkembangannya.

Lima tahun lalu, kata Shinta, menginginkan kebutuhan tentang pemberdayaan untuk para waria tentunya. Dengan keuletan dan kegigihan mempertahankan komunitas ini. Lahirlah sebuah komunitas waria dengan konsep baru.

Paling tidak dengan pelatihan kerja dan pekerjaan yang dapat membantu secara ekonomi juga untuk kepentingan hidup komunitas ini. Kini tergabung menjadi 200-an orang yang memiliki tujuan bersama untuk membangun komunitas waria di Yogyakarta yang sempat dilirik masyarakat dari sisi negatifnya saja.

“Dalam komunitas ini ada dewan penengah yang menangani setiap anggota yang terkena konflik. Membantu mereka yang terkena masalah. Baik dari pihak luar atau dari tanggapan masyarakat yang memandang dengan kesan negatif”, ucap Shinta.

Terbangun karena kebersamaan itu,beberapa komunitas waria ini juga menjadikan wadah bagi anggota yang menggemari bidang-bidang tertentu. “Seperti kelompok kami yang ada di Kotagede, khusus mereka yang menyukai kesenian. Untuk Sidomulyo, mereka yang hobi olahraga seperti voli. Kelompok yang berada di Jalan Solo fokus profesinya menjadi pengamen. Dan yang di kawasan BI dengan kegiatan kerja malam,” imbuhnya.

Di bidang kesenian, Iwayo sering mengadakan seni kethoprak. Sampai pernah mengisi acara-acara tertentu. Kegiatan mereka didukung oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. “Kami pernah mengisi acara HUT Kota Yogyakarta, Jogja Fashion Week (JFW), dan mengenang 100 tahun Sultan Hamengku Buwono IX kami ikut dalam karnaval,” ujarnya.

Komunitas ini tetap bersinggungan dengan masyarakat. Dengan kegiatan-kegiatan seperti itulah komunikasi kelompok terjalin baik dengan masyarakat luas. “Kami ingin menggeser pemahaman masyarakat dengan kegiatan-kegiatan kami yang positif tentunya,” tambahnya.

Beberapa kegiatan mendapat sambutan yang luar biasa dan penghargaan dari berbagai pihak. Iwayo pernah menjadi panitia dalam pertemuan nasional AIDS/HIV yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional pada tahun 2011 lalu.

Kemudian awal tahun 2012, menampilkan beberapa tarian tradisional seperti tari golek dari kelompok Iwayo bidang kesenian saat penutupan konferensi kesehatan reproduksi Asia-Pasific di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Di bidang olahraga, Iwayo sering mengadakan kegiatan seperti pertandingan voli, sepakbola, dan basket. Pernah juga menghadiri pertandingan persahabatan voli se-Nusantara di Iwaso Solo. Tak hanya itu, musyawarah nasional perihal AIDS diadakan dua tahun sekali. Untuk tahun 2013 lalu diselenggarakan di Bali.

Saat gempa melanda Padang, Sumatera Barat, tahun 2011 lalu, lanjut Shinta, Iwayo mengadakan bakti sosial dengan cara mengamen. Dan hasil dari mengamen tersebut disumbangkan ke lokasi yang terkena musibah gempa bumi.

Tak hanya itu, ketika peristiwa meletusnya Gunung Merapi, komunitas ini juga ikut berpartisipasi untuk korban Merapi. Salah satunya membuka area potong rambut gratis. “Seluruh anggota kami yang pandai di bidang salon ikut membantu mereka yang mejadi korban untuk potong rambut secara cuma-cuma. Paling tidak kami tetap punya kegiatan sosial. Ya, kami memang peduli pada kegiatan sosial. Sehingga masyarakat mangakui kami. Kami melakukan hal positif di mata mereka,” kata Shinta.

“Beberapa anggota Iwayo ada yang mengadopsi anak untuk dibiayai pendidikannya. Adanya pengajian rutin yang ada di pondok pesantren milik teman kami juga sangat membantu para anggota komunitas,” lanjutnya.

Pada November 2012, Iwayo bekerjasama dengan kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Yogyakarta membuka usaha peternakan ikan lele dan itik. “Untuk hal ini kami serahkan kepada kelompok yang ingin menanganinya waktu itu,” ceritanya.

Pada muaranya kembali kepada masyarakat mengenai tanggapannya terhadap waria. Di samping memiliki kegiatan sosial, dari beberapa anggota mereka ada yang memproduksi makanan, membuka toko jahitan, atau membuka salon kecantikan.

Bisa dibilang waria itu gender ketiga di dalam masyarakat luas. “Realistasnya kami berusaha untuk menjadi lebih baik di mata masyarakat. Semua tergantung masing-masing, ada yang baik ada pula yang tidak baik,” pungkasnya. (Nissa)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.