KJA Pangandaran Usung Teknologi Budidaya Modern Pertama di Indonesia

KJA Pangandaran Usung Teknologi Budidaya Modern Pertama di Indonesia
Pangandaran, Obsessionnews.com -  Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan  Karamba Jaring Apung (KJA) lepas pantai (offshore) di Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (24/4/2018). Peresmian tersebut ditandai dengan penebaran benih kakap putih (barramundi) oleh  Jokowi didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di lubang KJA offshore Pangandaran yang berjarak sekitar 7-8 mil dari Pangakalan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang. KJA offshore Pangandaran ini merupakan program percontohan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) yang mengusung teknologi budidaya modern pertama di Indonesia. Selain di Pangandaran, teknologi KJA offshore ini juga dibangun di Sabang, Aceh dan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. [caption id="attachment_243136" align="alignnone" width="640"] Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.[/caption] Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, selain memberikan bantuan teknologi, KKP juga akan melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan KJA offshore, salah satunya dalam hal penyediaan tambahan pakan berupa ikan rucah hasil tangkapan nelayan. Oleh karena itu, pengelolaan diserahkan pada Koperasi Unit Desa (KUD) yang merupakan anggota Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran. "Yang akan mengelola nanti adalah KUD Mina Sari, Mina Padi, dan Mina Rasa, Parigi, Batu Karas, dan Pangandaran," kata Susi saat memberikan sambutan seperti dikutip Obsessionnews.com dari keterangan tertulis Humas KKP, Rabu (25/4). Susi  mengungkapkan, jika KJA offshore percontohan ini menunjukkan hasil yang baik, diharapkan dapat menarik investor untuk melakukan usaha budidaya ikan dengan teknologi yang sama di wilayah lain. Hal ini untuk mengoptimalkan potensi perikanan budidaya lepas pantai Indonesia yang sangat besar. [caption id="attachment_243139" align="alignnone" width="640"] Presiden dan Jokowi bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.[/caption] Pasalnya, KJA offshore memiliki keunggulan dibandingkan KJA konvensional. KJA offshore memiliki kedalaman jaring hingga 15 meter sehingga dapat menampung lebih banyak benih. Satu unit KJA offshore yang terdiri dari 8 lubang dapat menampung hingga 1,2 juta benih per tahun sehingga produksi dapat lebih tinggi yaitu mencapai 816 ton per tahun. Sedangkan 8 lubang KJA konvensional hanya dapat memproduksi 5,4 ton per tahun. Menurut Susi, dari pengelolaan KJA ini nelayan akan memperoleh Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dilakukan bersama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Perum Perindo dan PT Perinus. "Jadi bersama-sama dengan masyarakat. Nanti hasilnya untuk dijual di sini atau pun untuk diekspor," tuturnya. Hal ini senada dengan keinginan Presiden untuk memasarkan hasil budidaya KJA offshore tak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. "Kita harapkan nanti juga bisa diekspor ke Timur Tengah, Australia, Eropa, atau lainnya karena produk ekspor juga harganya lagi baik. Apalagi saat ini banyak negara-negara yang sudah habis ikannya. Sedangkan kita masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan produksi," tutur Presiden. Kenyataan bahwa Pangandaran sebagai daerah wisata yang dikunjungi banyak turis juga  dapat dimanfaatkan untuk pemasaran hasil budidaya KJA offshore di dalam negeri. "Insya Allah KJA ini nanti hasilnya 100 ton per kolam per karamba. Jadi sekali panen 8 itu bisa 800 ton. Jadi kita mengembalikan kakap putih yang sudah hilang," kata Susi. Presiden juga mengingatkan bahwa 2/3 atau sekitar 70 persen wilayah Indonesia ini adalah perairan. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat menjaga dan memanfaatkan sumber daya laut secara bijak sehingga generasi mendatang dapat ikut menikmati kekayaan yang ada di dalamnya. Tak hanya peresmian KJA offshore, di Pangandaran KKP juga menyerahkan bantuan bagi nelayan seperti fasilitasi permodalan nelayan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) kepada 5 orang nelayan senilai Rp87 juta;bantuan 3,9 juta ekor benih ikan;1 unit excavator;1 paket revitalisasi saluran irigasi kawasan budidaya senilai hampir Rp2 miliar;dan 2 unit Chest Freezer kapasitas 300 Liter senilai Rp14 juta untuk kelompok pengolah dan pemasar ikan. (ali/arh)