Minggu, 9 Agustus 20

Kemenparekraf Yakinkan Industri Pariwisata Afrika Selatan Soal Penerapan Protokol Kesehatan

Kemenparekraf Yakinkan Industri Pariwisata Afrika Selatan Soal Penerapan Protokol Kesehatan
* Acara webinar bertopik ‘The Cost of COVID-19 for Global Tourism: How Indonesia and South Africa Responding’ yang digelar pada Selasa (28/7/2020). (Foto: Kemenparekraf)

Jakarta, Obsessionnews.comKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf )/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berupaya meyakinkan para pelaku industri pariwisata di Afrika Selatan terkait penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, and Environmental Sustainability) di destinasi-destinasi pariwisata Indonesia.

Plt Direktur Pemasaran Regional III (Eropa, Timur Tengah, Amerika, dan Afrika) Kemenparekraf/Baparekraf Raden Sigit Witjaksono mengatakan, sejak 2015 pertumbuhan jumlah wisatawan Afrika Selatan yang datang berkunjung ke Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. Dari 22.482 wisatawan di 2016 menjadi 47.657 wisatawan pada 2019.

Baca juga: Kemenparekraf Ajak Warga Bunaken Selalu Terapkan Protokol Kesehatan

“Hal ini membuktikan bahwa Afrika Selatan dan negara-negara Afrika lainnya telah mulai memperhitungkan Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata favorit,” kata Sigit dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/7/2020).

Dalam kesempatan itu, Sigit juga menuturkan Kemenparekraf terus berusaha meyakinkan khalayak internasional untuk berkunjung ke Indonesia dengan menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, and Environmental Sustainability).“Kami telah mengimplementasikan protokol CHSE,” ucapnya.

Seperti memberikan pelatihan CHSE terhadap pelaku wisata, simulasi penerapan protokol CHSE, kampanye protokol CHSE ke masyarakat dan pelaku pariwisata, dan juga menerapkan protokol CHSE di destinasi di daerah yang telah melewati masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Baca juga: Pulihkan Pariwisata, Kemenparekraf Ajak Masyarakat Tegal Ikut Gerakan BISA

Pernyataan Sigit diapresiasi oleh Chief Executive Officer South African Tourism, Sisa Nthsona. Sisa menuturkan penerapan protokol CHSE ini ternyata juga dipelajari dan diimplementasikan di berbagai destinasi wisata yang ada di Afrika Selatan.

“Pariwisata merupakan salah satu sektor yang tidak hanya menyumbang pendapatan di negara kami, tapi juga menyerap banyak tenaga kerja. Kami belajar dari Indonesia dan saat ini Afrika Selatan kini juga tengah mencoba menerapkan protokol kesehatan di destinasi wisata,” ujar Sisa.

Sisa juga menyarankan harus ada ketetapan protokol kesehatan secara global. Sehingga, tidak ada perbedaan standar protokol kesehatan di berbagai negara di dunia, termasuk di Afrika Selatan dan Indonesia.

Baca juga: DPR Dukung Kemenparekraf dalam Pemulihan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

“Jadi jangan sampai ketika kita bepergian ke suatu negara, ternyata negara itu punya standar protokol kesehatan yang berbeda dengan negara asal,” ucapnya.

Sementara itu, Pemilik sekaligus Managing Director Bhara Tours, Herman Rukmanahadi menuturkan banyak wisatawan yang menggunakan jasanya berasal dari Afrika Selatan.

Untuk itu, Herman mengajak agar seluruh pelaku wisata baik di Indonesia maupun di Afrika Selatan untuk terus mempromosikan potensi wisata yang ada di negara masing-masing.

“Kita harus tetap optimistis karena cepat atau lambat kita akan melalui pandemi ini dan saya selalu meyakinkan klien-klien saya di luar negeri untuk mencoba produk-produk yang kami tawarkan, di masa yang akan datang kita harus terus mempromosikan Indonesia,” ungkap Herman.

Seperti diketahui, penyataan narasumber ini disampaikan saat Kemenparekraf menggelar webinar bertopik ‘The Cost of COVID-19 for Global Tourism: How Indonesia and South Africa Responding’ yang digelar pada Selasa (28/7). (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.