Jumat, 22 Oktober 21

Kafilah Dakwah Parmusi Tembus Delapan Lokasi Pedalaman NTT

Kafilah Dakwah Parmusi Tembus Delapan Lokasi Pedalaman NTT
* Di sekolah nonformal di Pulau Kera Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam memberikan pertanyaan siapa anak-anak yang hafal surat-surat Al-Quran yang pendek.

Malaka, Obsessionnews.com – Sudah empat hari rombongan Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi) yang dipimpin Usamah Hisyam selaku Ketua Umum berada di perbatasan Nusantara Tenggara Timur (NTT) dengan Timor Leste untuk melakukan kafilah dakwah, tepatnya berada di empat Kabupaten, yaitu Malaka, Belu, Kupang, dan Rote Ndao.

Kafilah dakwah Parmusi ini dilakukan untuk menyerap aspirasi, mengetahui langsung bagaimana kondisi umat Islam di daerah perbatasan, apa tantangan dan dan hambatannya . Sehingga ke depan melalui program gerakan dakwahnya, Parmusi bisa membuat formulasi khusus tentang cara efektif pengembangan dakwah di perbatasan dengan pengiriman para dai.

Usamah Hisyam
Rombongan Parmusi di Pulau Kera dan disambut para warga.

“Program kafilah dakwah ini tidak lain untuk mengetahui kondisi langsung umat Islam dan keberagaman masyarakat di sana, karena prinsip dakwah Parmusi adalah menata, menyapa, dan membela umat,” ujar Usamah di Malaka, Selasa (28/11/2017).

Selain melihat kondisi langsung dan bercakap-cakap dengan warga, Parmusi juga mengadakan bakti sosial masyarakat bukan hanya untuk warga umat Muslim saja, tapi juga warga Katolik atau Protestan. Bakti sosial itu diwujudkan dengan pemberian tali kasih, sunatan masal, dan juga peresmian sumur bor.

Usamah Hisyam
Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam memberikan tali kasih kepada warga dalam kunjungannya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Perjalanan kafilah dakwah ini tidak mudah, dan Parmusi berhasil tembus di delapan lokasi di empat kabupaten paling ujung di provinsi NTT yaitu Malaka, Belu, Kupang, dan Rote Ndao. Di hari pertama Minggu (26/11), Usamah bersama rombongan berangkat dari Kupang menuju Atambua dan tiba di Bandar A. A. Bere Tallo pukul 10.00 WIT.

Setibanya di Atambua rombongan Parmusi langsung bergerak menuju Atapupu, Kabupaten Belu yang jaraknya kurang lebih 90 Km. Di sana Usamah meletakkan batu pertama pembangunan Gedung Parmusi Center sekaligus memberikan tali kasih kepada 85 warga miskin baik Muslim maupun non Muslim.

Setelah itu, perjalanan berlanjut ke dusun terpencil di Desa Aitaman, Kecamatan Tasifeto Timor. Warga di sini sebagai besar adalah pengungsi eks Timor Leste yang memilih bertahan menjadi warga Indonesia. Umat Muslim di tempat ini ada 24 orang, sedangkan warga lainnya beragam Katolik. Usamah pun memutuskan untuk membagikan tali kasih kepada kepada semua warga yang berjumlah 189 kepala keluarga.

“Memang berdakwah di sini tantangannya berat, tidak semudah di Jawa, butuh kesabaran, keberanian, dan keikhlasan bagi para dai Parmusi. Contohnya Ustadz Fajar setiap Minggu ia harus bolak-balik Atambua ke Aitaman hanya untuk mengajari anak-anak baca Al-quran. Padahal jaraknya jauh, tapi ia tetap mau menjalankan tugas mulia ini,” terang Usamah.

Setelah itu Usamah melanjutkan perjalanan menuju ke Desa Sukapitete, Kecamatan Raimanuk. Di sana Usamah disambut dengan riang gembira oleh warga yang sudah lama menanti kedatangan pengurus Parmusi. Begitu tiba di sore hari, Usamah langsung diajak ke tengah-tengah ladang untuk meresmikan sumur bor pemberian Parmusi sekaligus pemberian tali kasih.

“Kami mencermati warga binaan Parmusi di kampung ini mayoritas adalah petani, dan sebagian besar wilayah NTT daerahnya itu kering karena minimnya curah hujan. Karena itu, solusi umat untuk membantu mereka dalam bertani adalah dengan membuat sumur bor,” ujar Usamah menutup perjalanan dakwah Parmusi di hari Minggu.

Sehari setelah itu, Senin (27/11) Kafilah Dakwah Parmusi berlanjut ke Kabupaten Malaka jarak dari Atambua ke Malaka kurang lebih 3 jam lebih jauh dari Atambua ke Belu. Di kabupaten ini, Parmusi sama memberikan tali kasih kepada umat Muslim di tiga tempat yaitu. Pertama di Desa Kletek Kecamatan Malaka Tengah. Kedua Desa Weoe, Kecamatan Wewiku, Ketiga Desa Metamauk, Kecamatan Kobalim.

“Setelah saya amati memang hampir setiap kecamatan di NTT ada umat Muslim, tapi jaraknya jauh-jauh dengan jumlah yang sedikit. Ada yang satu kecamatan cuman dua orang. Ini yang sedang kita pikirkan bagaimana strategi dakwah Parmusi yang tepat untuk mereka ke depan. Apakah untuk memudahkan para dai dalam berdakwah perlu di kumpulkan satu tempat atau bagaimana. Ini harus kita kaji bersama,” terangnya.

Pada saat kunjungan Parmusi ke Kletek warga tengah mengadakan acara sunatan masal dengan jumlah anak 12 orang. Selain memberikan tali kasih kepada warga, Parmusi juga memberikan santunan kepada masing-masing anak sebesar Rp 500 ribu.

Keesokan harinya Selasa (28/11) Kafilah Dakwah Parmusi berlanjut ke Pulau Kera di Kupang, dari kota Kupang jaraknya kurang lebih 30 mil.  Perjalanan Parmusi ke pulau itu menggunakan kapal ikan dengan jarak tempuh 45 menit. Sesampainya di sana, Parmusi melihat kondisi umat Muslim sangat memprihatinkan.

Umat Muslim di daerah itu masuk dalam kategori masyarakat di bawah garis kemiskinan dengan penghasilan rata-rata kurang dari Rp 1 juta per bulan. Disetiap mata memandang  yang terlihat hanya ada gubuk-gubuk reod yang terbuat dari kayu dan dedaunan. Kondisi ini diperparah dengan hak-hak sipil mereka yang tidak terpenuhi, yaitu hak pendidikan, kesehatan dan hak hidup layak.

Setelah mendengarkan aspirasi langsung dari masyarakat Usamah memutuskan kampung ini dijadikan sebagai desa madani atau desa binaan Parmusi sama dengan kampung di Desa Sukapitete. Di Pulau Kera ini Parmusi membantu pembelian 10 prahu motor untuk kemadirian ekonomi masyarakatnya sekaligus pemberian tali kasih kepada 130 kepala keluarga.

Perjalanan kafilah dakwah Parmusi berakhir dengan mengunjungi Kabupaten Rote Ndao di pulau Rote Rabu sampai Kamis 29-30 November 2017. Perjalanan ditempuh 3 jam dengan menggunakan perahu cepat. Di pulau terluar ini, Usamah menemui dai Parmusi yang terpilih untuk pergi ibadah umroh Ustadz Zulkifli Harun. Ia diberangkatkan ke tanah suci karena dianggap berhasil menyebarkan Islam di Rote Ndao.

Ustadz Harun menceritakan, kondisi umat Islam di sana harmonis jauh dari konflik sosial. Menjadi kaum minoritas ia bersyukur saat ini di tiap kecamatan di Pulau Rote ada satu masjid/mushola. Selain ada pribumi umat Islam di sana banyak dari pendatang Jawa dan Sumba. Mayoritas mereka bekerja sebagai petani, dan pedagang. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.