Rabu, 20 Maret 19

Jelas Hoax, Jokowi Heran 9 Juta Orang Percaya Pendidikan Agama akan Dihapus

Jelas Hoax, Jokowi Heran 9 Juta Orang Percaya Pendidikan Agama akan Dihapus
* Deklarasi dukungan untuk Jokowi dari Millennials Road Safety Festival di sekitar Jembatan Ampera, Palembang. (Foto: Twitter Jokowi)

Palembang, Obsessionnews.com – Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) merasa kerepotan dengan serangan hoax yang menyudutkan dirinya dalam Pilpres 2019. Jokowi kesal fitnah darin kabar hoax itu telah menyebar dan dipercayai masyarakat.

Salah satu fitnah yang beredar terkait penghapusan pelajaran agama jika ia terpilih lagi menjadi Presiden. Herannya kata Jokowi, 9 orang percaya dengan fitnah itu.

“Bahwa nanti pemerintah akan menghapus pendidikan agama. Hati-hati. Tapi di bawah itu ada, jangan ‘huuu, huuu’ dulu. Di bawah terjadi seperti itu dan 9 juta percaya mengenai ini,” kata Jokowi dalam acara Deklarasi Alumni Sriwijaya Bersatu di Palembang Sport and Convention Center, Sumatera Selatan, Sabtu (9/3/2019).

Isu lainnya yang diluruskan Jokowi adalah kriminalisasi ulama. Lalu Jokowi dituduh PKI. Fitnah keji itu selalu diulang-ulang. Berikutnya adalah larangan azan, seperti yang disampaikan ibu-ibu di Karawang. Di negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, kata Jokowi, mustahil azan akan dilarang.

“Tolong dijelaskan, tidak mungkin itu dilakukan karena Indonesia negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Harus dijelaskan ini hoax. Kalah mau dilarang, dulu-dulu kita larang, tapi masa ada presiden, nggak mungkin ada,” ujar Jokowi.

Jokowi juga menepis akan melegalkan LGBT. Jokowi meminta kepada pendukungnya untuk meluruskan semua isu itu. “Tolong jelaskan itu karena di sebuah provinsi, saya nggak jelaskan di mana, sampai anjlok 8 persen gara-gara ini. Hati-hati, jangan sampai di sini dikerjai dengan cara-cara yang tidak demokratis seperti itu,” bebernya.

Yang terakhir, Jokowi meminta pendukungnya menyampaikan capaian pemerintah selama ini dari pintu ke pintu. Jokowi menerima masukan apabila kebijakannya ada yang keliru.

“Katakan yang benar itu benar, yang salah itu salah, karena saya juga manusia biasa. Yang salah tolong dikoreksi, yang belum benar tolong dikoreksi karena ini akan kita pakai untuk menentukan kebijakan kita yang akan datang,” pungkasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.