Jumat, 9 Desember 22

Jaksa Tuntut Pelaku Kekerasan Seksual Secara Berlapis

Jaksa Tuntut Pelaku Kekerasan Seksual Secara  Berlapis
* Jaksa Agung HM Prasetyo.

Jakarta, Obsessionnews – Kematian Yuyun, bocah 14 tahun asal Bengkulu yang menjadi korban kekerasan seksual teman-teman sebayanya beberapa waktu lalu, membuat bangsa Indonesia terkejut dan prihatin. Kasus Yuyun hanyalah puncak gunung es kekerasan seksual di tanah air.

Data Komnas Perempuan menyebutkan 35 perempuan di Indonesia mengalami kekerasan seksual setiap hari. Artinya, setiap 2 jam ada 3 perempuan di Indonesia menjadi korban kekerasan seksual.

Presiden Joko Widodo memandang kekerasan seksual terhadap anak yang terus terjadi sebagai kejahatan luar biasa. Fenomena itu harus diakhiri dengan cara luar biasa pula. Pelaku akan diberi hukuman secara akumulatif.

“Kejar dan tangkap segera pelaku dan tuntut dengan hukuman yang seberat-beratnya,” kata Jokowi saat membuka rapat terbatas di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (11/5/2016).

Pemerintah, termasuk Kejaksaan Agung (Kejagung), berupaya membangun sistem perlindungan terhadap perempuan dan anak dari berbagai tindak kekerasan dan perlakuan salah lainnya dengan mengoptimalkan proses pencegahan, penanganan serta rehabilitasi.

Kejagung  mendorong perlindungan serta pengawasan penegakan hukum terkait kekerasan perempuan dan anak, serta keadilan restorasi bagi anak.

Program Jaksa Masuk Sekolah menjadi kanal bagi Kejaksaan Agung untuk memberikan pendidikan hukum bagi siswa SD hingga SMU.
Program Jaksa Masuk Sekolah menjadi kanal bagi Kejaksaan Agung untuk memberikan pendidikan hukum bagi siswa SD hingga SMU.

Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan, jajarannya akan segera mempelajari semua aturan hukum yang ada  untuk  menyiapkan tuntutan seberat-beratnya kepada pelaku kekerasan seksual terhadap anak, tulis akun resmi Twitter Kejagung, @KejaksaanRI, Rabu (11/5/2016).

Jaksa Agung mencontohkan, jaksa penutunt  umum (JPU) akan menuntut pelaku kekerasan seksual terhadap anak secara  berlapis  menggunakan UU No 35 Th 2014 tentang Perlindungan Anak dan KUHP dengan harapan hakim menjatuhkan vonis berat. Selain itu, hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku akumulatif.

Kejagung berupaya memberikan bantuan hukum bagi anak sebagai pelaku, korban atau saksi tindak kekerasan.

Sistem peradilan anak harus berjalan, antara lain dengan  meningkatkan jumlah jaksa spesialis anak dan ruang diversi anak.

Selain itu, efektivitas pelayanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan juga ditingkatkan. Pelayanan itu mencakup rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, penegakan dan bantuan hukum serta pemulangan dan reintegrasi sosial.

Kejagung mengungkapkan, penguatan sistem perundangan terkait perlindungan perempuan dan anak dari berbagai tindak kekerasan menjadi hal mutlak.

Peningkatan kapasitas SDM dalam memberikan pelayanan termasuk dalam perencanaan dan penganggaran.

Selain itu, dibutuhkan penguatan mekanisme kerjasama antar pemerintah, lembaga layanan, masyarakat dan dunia usaha dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Memberikan edukasi juga menjadi salah satu fokus Kejagung untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Program Jaksa Masuk Sekolah menjadi kanal bagi Kejagung untuk memberikan pendidikan hukum bagi siswa SD hingga SMU. Aspek hukum kekerasan seksual merupakan salah satu  materi yang disampaikan dalam Jaksa Masuk Sekolah.

Bila penindakan dan pencegahan bisa berjalan beriringan, maka diharapkan hukum bisa ditegakkan. Kenali hukum, jauhi hukuman. (arh, @arif_rhakim)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.