Israel Mata-matai Pengguna Facebook dan Twitter

Situs pembocor dokumen rahasia, WikiLeaks, menyatakan bahwa Israel telah membentuk sebuah pusat komando dunia maya di Tel Aviv untuk memantau aktivitas para pengguna media sosial di seluruh dunia. Seperti dilaporkan Klub Wartawan Muda Iran (YJC), Minggu (16/9/2018), WikiLeaks lewat video berdurasi dua menit menyampaikan bahwa pusat komando itu dipakai untuk melawan pandangan anti-Zionis dengan menggunakan kecerdasan buatan. Mereka akan memantau semua postingan dan pandangan pengguna Facebook dan Twitter secara rutin. Menurut laporan WikiLeaks, pusat komando tersebut akan mengidentifikasi kota dan negara pengguna medsos jika menyaksikan pandangan anti-Israel dan kemudian mengirim informasi itu kepada otoritas keamanan rezim Zionis. Pada April lalu, Facebook secara resmi mengakui bahwa total informasi pengguna Facebook yang bocor mencapai 87 juta. Sejumlah besar pengguna berasal dari luar Eropa dan banyak dari mereka dari negara-negara berkembang. [caption id="attachment_260487" align="alignnone" width="640"]
Husam Zomlot.[/caption] AS Usir Duta Besar Palestina dari Washington Duta Besar Palestina di Washington, Husam Zomlot diminta meninggalkan Amerika Serikat hanya beberapa hari setelah Presiden Donald Trump menutup Kantor PLO di negaranya. Zomlot pada hari Ahad (16/9/2018) mengatakan kepada televisi al-Mayadeen bahwa para pejabat Washington meminta dia dan keluarganya untuk segera meninggalkan Amerika. "Pemerintah AS telah membatalkan masa berlaku visa keluarga saya dan menutup rekening mereka," tambahnya. Keputusan Trump untuk menutup kantor PLO hanyalah salah satu dari beberapa langkah yang diambil untuk menekan Palestina agar menerima Kesepakatan Abad. Zomlot memberitahu rekan-rekannya bahwa ia dan keluarganya dihukum karena menolak proposal Trump yang disebut Kesepakatan Abad. (ParsToday/Red)
Husam Zomlot.[/caption] AS Usir Duta Besar Palestina dari Washington Duta Besar Palestina di Washington, Husam Zomlot diminta meninggalkan Amerika Serikat hanya beberapa hari setelah Presiden Donald Trump menutup Kantor PLO di negaranya. Zomlot pada hari Ahad (16/9/2018) mengatakan kepada televisi al-Mayadeen bahwa para pejabat Washington meminta dia dan keluarganya untuk segera meninggalkan Amerika. "Pemerintah AS telah membatalkan masa berlaku visa keluarga saya dan menutup rekening mereka," tambahnya. Keputusan Trump untuk menutup kantor PLO hanyalah salah satu dari beberapa langkah yang diambil untuk menekan Palestina agar menerima Kesepakatan Abad. Zomlot memberitahu rekan-rekannya bahwa ia dan keluarganya dihukum karena menolak proposal Trump yang disebut Kesepakatan Abad. (ParsToday/Red)




























