Minggu, 14 Agustus 22

Ini 2 Tersangka Korupsi Pengadaan Pesawat Garuda

Ini 2 Tersangka Korupsi Pengadaan Pesawat Garuda
* Jaksa Agung ST Burhanuddin. (Foto: Kejagung)

Jakarta, obsessionnews.comKejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan 2 orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat CRJ 1000 dan ATR 72-600 pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tahun 2011–2021.

Jaksa Agung ST Burhanuddin menjelaskan, kedua tersangka tersebut ditetapkan setelah Tim Jaksa Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) memeriksa 6 orang di antaranya dari direksi, komisaris, dan pejabat PT Garuda Indonesia pada hari ini. Dari 6 orang ini, dua di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.

“Pertama inisialnya SA, selaku  Vice President Strategic Management Office PT Garuda Indonesia 2011-2012 dan sebagai anggota tim pengadaan pesawat CRJ Garuda Indonesia serta anggota pengadaan pesawat ATR 72-600 PT Garuda. Sedangkan tersangka kedua, yakni AW selaku Executive Project Manager Aircraft Delivery PT Garuda Indonesia 2009-2014 dan sebagai anggota Tim Pengadaan Pesawat CRJ 1000 serta anggota Tim Pengadaan Pesawat ATR 72-600 PT Garuda,” ujar Burhanuddin dalam konferensi pers daring dari Kejagung, Jakarta, Kamis (24/2/2022).

Baca juga: Tim Tabur Kejagung Amankan Buronan Tindak Pidana Korupsi Kejati Maluku

Sebelumnya, Kejagung menaikkan kasus dugaan korupsi pengadaan atau sewa pesawat ATR 72-600 pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ini ke tahap penyidikan dan akan mengusut kasus-kasus lainnnya di maskapai pelat merah tersebut.

Ia menjelaskan, untuk tahap pertama, penyidik mengusut kasus dugaan korupsi pengadaan atau sewa pesawat ATR 72-600. Kemudian juga kasus-kasus sejumlah pengadaan lainnya. Menurutnya, ada beberapa pengadaan kontrak pinjam dan pengadaan lainnya, yakni pesawat jenis Bombardier, Air Bus, Boeing, dan Rolls Royce.

“Kita akan kembangkan dan tuntaskan di mana setiap penanganan, kami akan berkoordinasi dengan KPK karena ada beberapa yang telah tuntas di KPK dan juga untuk menghindari adanya tumpang tindih,” ucap Burhanuddin.

Sementara itu, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Ardiasyah, menyampaikan bahwa Jaksa Agung telah memerintah kepada jajaran Bidang Tindak Pidana Khusus (Pidsus) untuk melakukan penyidikan dalam proses melihat siapa yang bertanggung jawab di luar yang telah ditetapkan oleh KPK.

Agar tidak tumpang tindih dengan kasus korupsi pada PT Garuda Indonesia yang sedang ditangani KPK, lanjut Febrie, pihaknya intens melakukan koordinasi dengan pihak lembaga antirasuah tersebut.

Baca juga: Sambangi Kejagung, Menteri BUMN Laporkan Dugaan Kasus Korupsi di Garuda

Koordinasi dilakukan karena KPK telah lebih dahulu melakukan penyidikan kasus dugaan korupsi pada Garuda Indonesia tersebut. Koordinsi juga dilakukan mulai dari alat bukti maupun konstruksi pembuktian yang mungkin telah ada di KPK.

“Saat ini, perkara telah naik ke tahap penyidikan dan konsentrasi kami ada di pengadaan pesawat jenis ATR dan Bombardier. Untuk kerugian negara, kami tidak bisa sampaikan secara detail karena tetap akan dilakukan oleh auditor,” ujarnya.

Namun Febrie menyebutkan bahwa kerugian keuangan negaranya cukup besar, seperti contohnya untuk pengadaan sewa saja, indikasinya sebesar Rp3,6 triliun sehingga cara pandang penyidik di Kejagung sekaligus mengupayakan bagaimana kerugian yang terjadi di PT Garuda Indonesia.

“Akan kita upayakan pemulihannya. Kerugian di PT Garuda Indonesia terjadi pada saat dipimpin oleh Direktur Utama ES yang saat ini telah diproses oleh KPK dan masih menjalani hukuman,” ujarnya.

Seperti diketahui, Kejagung mulai menyelidiki kasus dugaan korupsi sewa pesawat ATR 72-600. Penyelidikan tersebut berdasarkan Surat Perintah Penyelidikan Nomor: Print-25/F.2/Fd.1/11/2021 tanggal 15 November 2021. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.