Rabu, 30 September 20

Indonesia Akan Proses PTA Bersama Mozambik, Tunisia, dan Maroko

Indonesia Akan Proses PTA Bersama Mozambik, Tunisia, dan Maroko
* Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bersama Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menggelar Konferensi Pers Indonesia-Africa Forum 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Rabu (11/4). (Foto: Kemendag)

Jakarta, Obsessionnews.com – Perluasan akses pasar di negara-negara tujuan ekspor non tradisional, khususnya di wilayah Afrika telah menjadi fokus kebijakan perdagangan Indonesia.

Ini sejalan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah bertemu dengan beberapa kepala negara di wilayah Afrika pada Indian Ocean Rim Asociation (IORA) Summit bulan Maret 2017.

Tak heran, di sela-sela perhelatan Indonesia Africa Forum (IAF) tanggal 10-11 April 2018 di Bali lalu Indonesia telah sepakat untuk segera memulai perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) bersama tiga negara di benua Afrika, yaitu Mozambik, Tunisia, dan Maroko.

Sebagai tindak lanjut Kementerian Perdagangan RI yang didukung oleh Kementerian Luar Negeri RI memanfaatkan momen IAF 2018 untuk bergerak maju dan membahas rencana kerja sama PTA dengan ketiga negara tersebut.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Perindustrian Mozambik Ragendra de Sousa telah melakukan  pertemuan bilateral di sela-sela IAF, Rabu (11/4). Kedua menteri melakukan Joint Statement dan sepakat untuk meluncurkan secara resmi dimulainya proses perundingan Indonesia–Mozambik PTA.

“Indonesia dan Mozambik sepakat untuk mengawali pembahasan PTA guna mengembangkan hubungan ekonomi yang lebih terstruktur serta meningkatkan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan pertukaran informasi,” ucap Enggar dalam keterangan tertulis yang diterima Obsssionnews.com, Jumat (13/4).

PTA Indonesia–Mozambik nantinya, lanjut Enggar, dapat memfasilitasi para pelaku usaha, termasuk usaha kecil dan menengah. Selain itu, kami percaya bahwa perdagangan kedua negara akan meningkat dengan PTA, karena saat ini masih jauh dari potensi yang dapat digali.

Total perdagangan Indonesia–Mozambik tahun 2017 sebesar USD 82,2 juta. Nilai ini terdiri atas ekspor Indonesia sebesar USD 54,1 juta dan impor Indonesia sebesar USD 28,1 juta. Dengan demikian, Indonesia surplus sebesar USD 26 juta.

Sebelumnya, Selasa (10/4), Enggar juga melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Luar Negeri Maroko Mounia Boucetta. Pada pertemuan tersebut, Wamen Boucetta mewakili pemerintah Maroko menyampaikan dukungannya atas rencana PTA yang diusulkan Indonesia.

“Maroko mendukung usulan Indonesia untuk melakukan kerja sama PTA. Untuk itu, diharapkan sebelum kunjungan misi dagang Indonesia ke Maroko bulan Juni 2018, delegasi Indonesia diundang ke Maroko untuk melakukan pembahasan persiapan peluncuran PTA,” jelas Enggar.

Maroko merupakan salah satu pasar ekspor non tradisional yang menjadi hub ke pasar Afrika. Total perdagangan Indonesia-Maroko pada 2017 mencapai USD 154,8 juta. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia ke Maroko sebesar USD 86 juta, dan impor Indonesia dari Maroko sebesar USD 68,8 juta. Dengan demikian, Indonesia memperoleh surplus perdagangan USD 17,1 juta.

Pada saat yang bersamaan dengan peluncuran perundingan PTA Indonesia–Mozambik, di ruangan berbeda dilakukan juga pertemuan pendahuluan antara delegasi teknis Indonesia dan Tunisia untuk membahas PTA.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Perundingan Bilateral Kemendag Ni Made Ayu Marthini bersama Direktur Hukum dan Perjanjian Ekonomi Kemlu Amrih Jinangkung. Sedangkan, Delegasi Tunisia dipimpin oleh Duta Besar Tunisia Mourad Bellhassen. Dubes RI untuk Tunisia, Ikrar Nusa Bhakti turut hadir pada pertemuan ini.

“Pertemuan persiapan di Bali berlangsung baik dan lancar dan kedua delegasi merekomendasikan untuk segera memulai pembahasan PTA antara Indonesia–Tunisia. Kami percaya bahwa PTA ini dapat memfasilitasi dan mendorong para pelaku usaha kedua negara untuk meningkatkan perdagangan. Tunisia merupakan mitra yang strategis dan dapat menjadi pintu masuk ekspor ke negara-negara di kawasan Afrika Utara,” ungkap Made.

Total perdagangan Indonesia-Tunisia tahun 2017 sebesar USD 88 juta. Nilai ini terdiri atas ekspor Indonesia ke Tunisia sebesar USD 55,2 juta dan impor Indonesia dari Tunisia sebesar USD 32,8 juta. Dengan demikian, Indonesia surplus sebesar USD 22,4 juta.

“Agar dapat segera memulai perundingan, delegasi Tunisia mengundang Delegasi RI untuk memulai putaran pertama pada bulan Juni 2018 dan kedua delegasi berharap perundingan dapat diselesaikan tahun ini juga,” pungkas Made. (Popi)

 

Baca juga:

Indonesia-Africa Forum 2018 Dorong Ekspor dan Kerja Sama

JK dan Luhut Hadiri Indonesia Africa Forum di Bali

Mendag Sebut Produk Sarung Indonesia Dikenal di Somalia

Mendag Minta Dukungan Nigeria Soal PTA

Mendag: Misi Dagang ke Maroko Dilaksanakan Juni

Aljazair, Pasar Non Tradisional, Potensi yang Tak Tersentuh

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.