Selasa, 7 Desember 21

HNW Tolak Mustafa Kemal Attaturk yang Islamophobia Dijadikan Nama Jalan di Jakarta

HNW Tolak Mustafa Kemal Attaturk yang Islamophobia Dijadikan Nama Jalan di Jakarta
*  Anggota Komisi VIII DPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW). (Foto: Humas MPR RI)

Jakarta, obsessionnews.com – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mendukung penguatan hubungan Indonesia dengan Turki. Tapi dia mengkritik dan menolak wacana penyematan nama tokoh anti demokrasi, islamophobia, dan bapak sekulerisme Turki Mustafa Kemal Attaturk menjadi nama jalan di Jakarta, karena selain tidak cocok dengan karakteristik Jakarta dan Indonesia yang religius dan demokratis, juga tidak sesuai dengan ketokohan Soekarno yang tidak anti Islam, tidak anti Arab, religius dan tidak sekuler, serta demokratis.

 

Baca juga:

Ketua MPR RI dan Ketua Parlemen Turki Minta PBB Keluarkan Resolusi Hentikan Agresi Israel ke Palestina

Turki Masuk Zona Merah Covid-19, Final Liga Champions Pindah ke Wembley atau Porto

Wow! Buka Puasa di Ambhara Hotel Jakarta Bisa dapat Hadiah ke Turki Gratis

 

 

HNW mengatakan, apabila wacana tersebut dihadirkan sebagai tata krama diplomatik karena Turki telah menyematkan nama proklamator Indonesia Ahmet Soekarno sebagai jalan di depan KBRI Ankara, maka Pemerintah Indonesia bisa mengusulkan nama-nama yang lain selain Attaturk.

“Yaitu nama-nama tokoh Turki yang tidak kontroversial dan yang bisa hadirkan penguatan hubungan karena nama-nama itu begitu harum diterima masyarakat luas di Indonesia, seperti Sultan Muhammad alFatih atau tokoh Sufi Jalaludin ar Rumi,” ujar HNW di Jakarta melalui siaran pers, Selasa (18/10/2021).

Menurutnya, masalah ini sudah menjadi perhatian masyarakat luas, yang mayoritas mutlaknya menyatakan menolak secara rasional dan argumentatif. Tercatat pihak pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Pengurus Pusat Muhammadiyah, Sekjen Pengurus Besar Nahslatul Ulama (PBNU), Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Ketua MUI DKI, Wakil Ketua MPR, Ketua BKSAP DPR RI, Wakil Ketua DPRD DKI dari PKS, telah menyampaikan penolakan mereka secara terbuka.

 

“Bahkan saya dalam tiga titik reses kemarin di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat juga menerima aspirasi dari tiga komunitas warga (para pimpinan RT&RW, pimpinan pengajian subuh, dan pimpinan Jawara Betawi), yang secara terus terang menyampaikan keberatan dan penolakan mereka atas wacana penamaan jalan di Menteng, Jakarta, dengan nama Mustofa Kemal Ataturk. Aspirasi dari banyak kelompok masyarakat yang menolak ini  tentunya juga sudah dibaca oleh pihak Turki, dan karenanya penting menjadi perhatian Pemerintah Indonesia, Pemprov DKI Jakarta dan pihak Kedubes RI di Ankara,” ungkapnya.

 

Ia menambahkan, semua pihak di Indonesia mendukung penguatan hubungan RI dengan Turki.

 

“Tetapi masih banyak nama-nama tokoh Turki yang terhormat dan tidak kontroversial, dan diterima umat Islam di Indonesia, seperti Sulaiman Al Qanuny, Muhammad Al Fatih, atapun penyair Islam dan tokoh sufi yang lama menetap di Turki,  Jalaludin Rumi, yang bisa menjadi simpul penguat hubungan kedua belah pihak,” tegasnya.

 

HNW menjelaskan, pemberian nama hendaknya memang dalam rangka  menghormati, saling menghormati, tetapi tidak harus beraroma resiprokal, timbal balik. Maroko misalnya, sudah memberikan nama Soekarno untuk jalan di Rabath, karena penghormatan mereka atas jasa Soekarno terhadap bangsa-bangsa di Asia-Afrika, dan Gerakan Non Blok, tanpa meminta nama Raja Maroko dijadikan sebagai nama jalan di Jakarta.

 

Selain itu, kata HNW, meski sama-sama bergelar Bapak Bangsa, ada perbedaan yang mendalam antara Soekarno dan Attaturk.

“Bung Karno tidak memotong akar sejarah bangsa Indonesia dengan memaksakan ideologi impor. Bung Karno tidak menyekulerkan Indonesia. Beliau hadirkan Pancasila sebagai ideologi negara yang digali dari budaya dan sejarah Indonesia. Karenanya dalam Pancasila ada Ketuhanan Yang Maha Esa. Bung Karno juga tidak anti Islam/Arab, apalagi melarang bacaan sholat dan azan pakai bahasa Arab dan mengubahnya pakai bahasa Indonesia. Bung Karno menumbuhkan nasionalisme dengan menumbuhkan demokrasi  tapi bukan demokrasi sekuler liberal, karenanya Bung Karno tetap menghormati agama, bahkan merestui diadakannya Kementerian Agama. Bung Karno juga tidak menghapus kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Bung Karno malah mendapatkan dukungan dari kerajaan-kerajaan Islam Mataram, Siak, Pontianak dll. Sedangkan Ataturk justru melakukan sebaliknya,” jelasnya.

Oleh Karena itu kalau nama Soekarno akan dipakai di Ankara Turki, sebagaimana sudah dipakai di Rabath Maroko, wajar saja, karena jasa-jasa Bung Karno seperti dengan adanya Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non Blok.

 

“Kalaupun Kemal Ataturk dengan Kemalismenya yang sekuler liberal dan anti demokrasi itu dinilai banyak jasanya pada sejarah Turki modern, ya itu adalah untuk Turki, tapi tidak untuk Indonesia, karena Kemalisme (ajaran Ataturk) itu tidak sesuai dengan Pancasila dan warisan kenegarawanan Bung Karno, yang demokratis, menghormatis agama dan tidak sekuler liberal,” tandasnnya.

 

HNW kembali menegaskan dukungannya untuk penguatan hubungan Indonesia dengan Turki, tetapi seharusnya hubungan yang baik antara Turki dan Indonesia itu ditingkatkan dengan berbagai terobosan positif, tidak malah diciderai dengan wacana penamaan jalan yang kontroversial seperti ini.

“Karena saya juga tidak yakin bahwa pihak Pemerintah Turkilah yang mengusulkan nama Kemal Pasya Ataturk untuk nama jalan di Jakarta, ibu kota Indonesia. Karena pastilah Pemerintah Turki di bawah Erdogan menghormati Indonesia dan sejarah perjuangan Indonesia yang tidak sekuleristik liberal apalagi anti agama Islam, sebagaimana ditampilkan oleh Ataturk,” ujarnya.

 

Apalagi, tambah HNW, Presiden Turki Rajab Tayyib Erdogan justru adalah tokoh bangsa Turki yang di berbagai acara internasional selalu menyerukan penolakan terhadap Islamophobia, suatu perilaku yang tampak jelas dalam jejak sejarah Kemal Pasya Ataturk.

“Ini yang mestinya dipahami dan disampaikan oleh pihak Indonesia, seperti Wagub DKI, dubes di Ankara, dan lain-lain. Pemberian nama jalan hendaknya menjadi salah satu cara untuk dapat meningkatkan hubungan dan menguatkan kerjasa sama yang saling menguntungkan, maka  akan jadi kontraproduktif bila yang diajukan adalah nama yang  kontroversial, seperti Kemal Pasya Ataturk, dan jadi bahan polemik berkepanjangan. Apalagi yang sampai dirasakan sebagai mengabaikan aspirasi banyak pihak, termasuk tokoh-tokoh Betawi yang juga bisa menyakiti perasaan kolektif umat Islam di Jakarta (Indonesia), pihak yang telah turut berjuang menghadirkan kota Jakarta, yang menjadi Ibukota Republik Indonesia,” ujar HNW. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.