Rabu, 22 Maret 23

Federasi Taekwondo Dunia Copot Sabuk Hitam Presiden Putin

Federasi Taekwondo Dunia Copot Sabuk Hitam Presiden Putin
* Presiden Putin saat hadiri latihan judo di kompleks olahraga dan pelatihan Yug-Sport. (Sputnik/RTR/VOA)

Federasi Taekwondo dunia menarik/mencopot sabuk hitam kehormatan milik Presiden Rusia Vladimir Putin menyusul keputusannya untuk menginvasi Ukraina. Sanksi yang diberikan secara individual ini menambahkan sejumlah sanksi-sanksi internasional di bidang ekonomi dan olahraga yang diberikan kepada Rusia.

Badan Taekwondo Dunia, mengutip moto “Perdamaian Lebih Berharga daripada Kemenangan,” mengutuk tindakan militer Rusia di Ukraina. Mereka mengatakan “serangan brutal terhadap nyawa tak berdosa” melanggar nilai-nilai olahraga, yaitu menghormati dan toleransi.

“Dalam hal ini, Badan Taekwondo Dunia telah memutuskan untuk menarik sabuk hitam dan kehormatan ke-9 yang dianugerahkan kepada Tuan Vladimir Putin pada November 2013,” kata badan itu dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Ia menambahkan bahwa mereka akan bergabung dengan Komite Olimpiade Internasional dalam melarang bendera dan lagu Rusia di acara-acaranya.

Keputusan itu muncul setelah Federasi Judo Internasional mengatakan pada Minggu (27/2) bahwa meraka akan menangguhkan status Putin sebagai presiden kehormatan dan duta besar “mengingat konflik perang yang sedang berlangsung di Ukraina.”

Organisasi olahraga lain, seperti FIFA dan UEFA, telah menangguhkan tim dan klub nasional Rusia dari kompetisi.

Putin telah menunjukkan teknik yang mumpuni saat tampil dalam seragam seni bela diri, menunjukkan citra kekuatan seperti yang ia miliki dalam acara-acara lain yang dipentaskan dengan seksama seperti saat dirinya menunggang kuda dengan bertelanjang dada atau bermain hoki es.

Pasukan Rusia membombardir kota terbesar kedua Ukraina, Kharkiv, pada Senin (28/2), menambah sanksi baru dari Amerika Serikat dan sekutunya sebagai bagian dari isolasi dunia internasional terhadap Rusia.

Rusia menyebut tindakannya di Ukraina sebagai “operasi khusus” yang dikatakan tidak dirancang untuk menduduki wilayah tetapi untuk menghancurkan kemampuan militer tetangga selatannya dan menangkap apa yang dianggapnya sebagai nasionalis berbahaya. (VOA Indonesia/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.