Rabu, 18 September 19

“Eks Presiden Mursi Dibunuh Rezim Mesir”

“Eks Presiden Mursi Dibunuh Rezim Mesir”
* Muhammad Mursi

Kelompok Ikhwanul Muslimin Mesir menuduh pemerintah negara itu bertanggung jawab atas meninggalnya mantan presiden Mesir, Muhammad Mursi. Fars News (18/6/2019) melaporkan, kelompok Ikhwanul Muslimin Mesir, Senin (17/6) mereaksi kematian Muhammad Mursi dan menyebut meninggalnya mantan presiden negara itu karena dibunuh.

 

Baca juga:

Eks Presiden Mesir Mohammed Mursi Meninggal Dunia

Hukuman Mati Eks Presiden Mursi Dicabut MA

 

Para pendukung Ikhwanul Muslim Mesir yang hadir dalam sidang terakhir Mursi mengatakan, Ikhwanul Muslimin menganggap pemerintah Kairo (rezim Mesir) bertanggung jawab atas meninggalnya Mursi.

Salah satu anggota senior Ikhwanul Muslimin menuturkan, peristiwa meninggalnya Mursi di pengadilan adalah sebuah kejahatan dan pembunuhan yang disengaja.

Mursi dinyatakan meninggal dunia pada hari Senin (17/6) saat menjalani persidangan. Menurut para pejabat Mesir, mantan Presiden Mesir ini meninggal dunia pada usia 67 tahun setelah pingsan di balik kerangkeng terdakwa dalam ruang sidang di Kairo pada Senin (17/6).

Ia jatuh pingsan ketika disidang dalam kasus dakwaan mata-mata dan tak lama kemudian meninggal dunia. Stasiun televisi pemerintah Mesir mengatakan penyebab kematian Mursi adalah serangan jantung.

Organisasi Ikhwanul Muslimin, yang pernah dipimpin oleh Morsi, menuding kematian Mursi merupakan “sepenuhnya kasus pembunuhan”.

Para aktivis dan keluarganya sudah lama mengatakan bahwa Mursi tidak menerima perawatan secara serius terkait kesehatannya, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.

Mereka juga menganggap bahwa Mursi secara terus-menerus ditahan di dalam sel isolasi.

Pendukung Mohammed Morsi menggelar salat jenazah “in absentia” terhadap mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi pada 17 Juni 2019 di depan Konsulat Jendral Mesir di Istanbul, Turkei. 17 Juni 2019. (BBC)

Apa yang terjadi di ruangan sidang?
Mursi pingsan tidak lama setelah berpidato di pengadilan di Kairo dalam kasus mata-mata terkait dugaan kontaknya dengan kelompok Islam Palestina, Hamas, yang memiliki hubungan dekat dengan Ikhwanul Muslimin.

Dia berbicara selama sekitar lima menit dari dalam kerangkeng berdinding kaca kedap suara, yang menurut para pejabat dirancang untuk mencegahnya mengganggu proses persidangan.

Mursi dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit pada pukul 16:50 waktu setempat dan laporan awal tidak menunjukkan adanya tanda-tanda cedera pada tubuhnya, kata jaksa penuntut umum.

Pada bulan Mei lalu, keluarganya mengatakan pihak berwenang berulang kali menolak akses kepadanya dan mereka hanya mengetahui sedikit tentang kondisi kesehatannya.

Selama di penjara, Mursi hanya diizinkan tiga kali kunjungan dari keluarganya dan tidak diberi akses kepada pengacara atau tim dokternya, demikian kelompok hak asasi manusia, Amnesty International.

Putranya, Abdullah, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa dia tidak tahu lokasi jenazah ayahnya dan pihak berwenang menolak untuk mengizinkan Mursi dimakamkan di provinsi asalnya, Sharqiya di Delta Nil.

Mursi, yang menjadi pemimpin Mesir pertama yang terpilih secara demokratis pada 2012, telah dijatuhi hukuman lebih dari 45 tahun penjara dalam tiga persidangan terpisah, termasuk tuduhan memimpin kelompok terlarang, melakukan penahanan dan penyiksaan terhadap demonstran anti-pemerintah serta membocorkan rahasia negara.

Dia selalu menolak otoritas pengadilan, dan para pendukungnya mengecam proses persidangan atas dirinya lebih dilatari motivasi politik.

Sebagian umat Islam menggelar salat jenazah “in absentia” di masjid Al-Aqsa, Jerusalem, Senin (17/6). (BBC)

Apa reaksi atas kematian Mursi?
Partai Kebebasan dan Keadilan, yang memiliki kedekatan dengan organisasi yang kini dilarang, Ikhwanul Muslimin, mengatakan kematian Morsi identik dengan “pembunuhan”, dan mendesak para pendukungnya berkumpul selama proses pemakaman dan berdemonstrasi di luar kedutaan besar Mesir di seluruh dunia.

“Mereka menempatkannya di ruangan tahanan khusus yang terisolasi selama penahanannya yang melebihi lima tahun, lalu menghalang-halangi pemberian obat-obatan dan menyediakan makanan yang buruk … Mereka mencegah dokter dan pengacaranya dan bahkan mencegahnya berkomunikasi dengan keluarganya. Mereka merampas hak asasi manusia yang paling sederhana.”

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang merupakan sekutu terdekatnya, menyalahkan pemerintah “tiran” Mesir atas kematian Morsi, sementara Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, yang merupakan sekutu terdekat lainnya, menyatakan “kesedihan mendalam”.

Crispin Blunt, anggota parlemen Inggris dari Partai Konservatif, yang sebelumnya telah memperingatkan tentang kondisi kesehatan Morsi, menyerukan “penyelidikan internasional yang independen dan terkemuka”, dan mengatakan pemerintah Mesir bertanggungjawab “untuk menjelaskan kematian Morsi”.

Wakil direktur organisasi Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Magdalena Mughrabi mengatakan: “[Morsi] ditahan di sel isolasi selama hampir enam tahun, yang berdampak besar atas kesehatan mental dan fisiknya … Dia secara efektif terputus dari dunia luar.”

Direktur Human Rights Watch untuk Timur Tengah, Sarah Leah Whitson, mengatakan bahwa kematian Morsi “mengerikan tetapi sepenuhnya dapat diprediksi”.

Siapakah Mohammed Mursi?
Morsi lahir di desa El-Adwah Provinsi Sharqiya di kawasan Delta Nil pada tahun 1951. Ia mendalami teknik sipil di Universitas Kairo pada tahun 1970-an sebelum pindah ke Amerika Serikat untuk merampungkan studi tingkat doktoral.

Ia dipilih sebagai kandidat presiden dari Ikhwanul Muslimin dalam pemilihan Mesir tahun 2012 setelah pilihan pertama yang ingin diusung organisasi itu mengundurkan diri.

Morsi menang dengan selisih suara tipis dan berjanji memimpin pemerintahan “bagi seluruh rakyat Mesir”.

Namun para penentangnya mengatakan Morsi gagal memerintah selama masa kekuasaan yang bergolak. Mereka menuduhnya membiarkan kelompok-kelompok berhaluan Islam mendominasi arena politik dan salah urus ekonomi.

Penentangan warga terhadap pemerintahannya bertambah besar dan jutaan orang turun ke jalan-jalan di seluruh Mesir untuk menggelar aksi bertepatan dengan peringatan satu tahun kekuasaan Morsi pada tanggal 30 Juni 2013.

Pada tanggal 3 Juli malam, militer membekukan sementara konstitusi dan mengumumkan pembentukan pemerintahan interim yang diisi oleh para teknokrat sebelum digelar pemilihan presiden baru.

Morsi menyebut langkah tersebut sebagai kudeta dan ia kemudian ditahan oleh militer. Sejak digulingkan, ia masuk tahanan dan menjalani hukuman penjara selama tujuh tahun dalam kasus pemalsuan permohonan pencalonan presiden tahun 2012.

Di bawah pemerintahan yang sekarang, Morsi menghadapi berbagai dakwaan termasuk spionase. Pihak berwenang juga menyasar para pendukungnya dan menggolongkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Kasus mata-mata itu dikaitkan dengan kontaknya dengan kelompok militan Palestina, Hamas. (ParsT/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.