Rabu, 28 September 22

Breaking News
  • No items

Covid-19, Salat Tarawih Berjamaah Tetap Digelar di Aceh

Covid-19, Salat Tarawih Berjamaah Tetap Digelar di Aceh
* Di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. (Wikipedia)

Di tengah wabah Covid-19, salat tarawih berjemaah dan hukuman cambuk tetap digelar di Provinsi Aceh, bertentangan dengan imbauan pemerintah serta Majelis Ulama Indonesia agar salat tarawih dilakukan di rumah.

Kondisi seperti ini dinilai sangat berbahaya oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Aceh. Sementara Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, menilai Aceh masih belum dalam zona merah.

Ketua IDI Wilayah Aceh, dr. Safrizal Rahman, mengabaikan physical distancing memiliki risiko, karena penyebaran virus corona terjadi dari interaksi dan kedekatan sesama manusia.

“Tentu saja kita mengharapkan agar tidak terjadi hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah mengakibatkan penyebaran penyakit ini di Provinsi Aceh. Tapi saya menduga hanya masalah waktu sebelum kita mempunyai transmisi lokal,” kata Safrizal seperti dilaporkan BBC News Indonesia dari Aceh, Kamis (23/4).

Secara medis, Safril melanjutkan, saat ini Provinsi Aceh mencatat kasus positif virus corona dari luar provinsi, bukan transmisi lokal. Tapi melihat tingkat kepatuhan masyarakat Aceh, menurut Safrizal, transmisi lokal ini hanya menunggu waktu.

“Sebentara lagi dugaan saya kita akan memiliki transmisi lokal. Kalau sudah transimisi lokal, orang yang tidak keluar kota pun atau yang selalu berada di Aceh kondisinya sudah tertular dan ini agregatnya sangat mengkhawatirkan. Jika satu orang positif, artinya 10 sampai 20 orang lainnya di lapangan yang seharusnya positif,” jelas Safrizal Rahman.

Sampai Kamis (23/04), terdapat 1.729 Orang Dalam Pengawasan (ODP), 73 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan dua orang pasien positif Covid-19 di Provinsi Aceh.

Aceh belum zona merah
Akan tetapi, dalam Taushiyah nomor 5 tahun 2020, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh meminta kepada masyarakat yang berdomisili di kawasan yang masih terkendali, untuk melaksanakan ibadah salat di masjid dan meunasah dengan membatasi waktu pelaksanaannya.

Wakil Ketua MPU Aceh, Faisal Ali, mengatakan Aceh masih belum termasuk dalam kategori daerah merah, karena belum dikeluarkannya Surat Pembatasan Sosial Berskala Besar oleh pemerintah provinsi.

Karena alasan tersebut, MPU masih memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan salat secara berjemaah, baik salat tarawih maupun salat wajib, dengan catatan menjaga kebersihan serta menggunakan masker.

Hal ini bertentangan dengan imbauan pemerintah pusat dan Majelis Ulama Indonesia agar salat tarawih dan ibadah salat lima waktu dilakukan di rumah. Bahkan, pengurus Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Arab Saudi menangguhkan salat tarawih dan iktikaf.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua MPU Aceh, Faisal Ali, mengatakan: “Kalau seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dilarang pelaksanaan salat tarawih berjamaah itu wajar karena tingkat penularan Covid-19 yang tinggi, sebab banyak orang yang datang dari berbagai belahan negara.”

Faisal menambahkan, jika status darurat Covid-19 diberlakukan di Provinsi Aceh, MPU akan meminta pemerintah untuk menetapkan daerah mana yang terkendali atau tidak terkendali. Dengan begitu MPU juga akan menetapkan cara peribadatan sesuai dengan kondisi darurat sebuah daerah.

“Namun demikian untuk warga dalam kondisi yang tidak sehat kita anjurkan untuk melakukan ibadah secara sendiri di rumah, sementara yang sehat dapat melakukan ibadah tarawih dan ibadah wajib lainnya di masjid dan meunasah secara berjamaah agar kita bisa mendoakan wilayah lain,” kata Faisal Ali.

Salat tarawih dengan saf berimpitan
Di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Kamis (23/04) malam, jemaah mulai datang memadati area salat sejak azan berkumandang untuk melakukan ibadah salat tarawih berjemaah.

Banyak dari jemaah menunaikan salat tanpa menggunakan masker. Mereka juga tampak salat dengan saf yang berimpitan.

Salah seorang warga Banda Aceh, Putri Sarah, mengaku datang ke masjid dan salat tarawih berjamaah untuk meraih lebih banyak pahala. Apalagi salat tarawih berjemaah hanya berlangsung selama sebulan dalam satu tahun.

“Saya takut kalau kena virus corona sampai meninggal, tapi jangan sampai membuat kita stres dan takut beribadah. Yang terpenting tetap menjaga kebersihan seperti mencuci tangan serta menggunakan masker,” kata Putri Sarah.

Hal senada juga diutarakan oleh warga lainnya, Cut Nita. Menurutnya, bulan Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat Muslim sehingga dia memberanikan diri untuk tetap melaksanakan ibadah secara berjemaah.

“Karena ditunggu-tunggulah, makanya saya memberanikan diri. Insya Allah akan baik-baik saja. Soal saf yang rapat-rapat, saya ikut saja dengan peraturan dewan masjid, tapi saya akan salat tarawih di masjid ini sampai 30 hari puasa,” jelas Cut Nita.

Adapun Wahyuka mengaku pergi untuk salat berjemaah karena paksaan dari anak-anaknya. Dia sendiri sebenarnya lebih memilih untuk salat di rumah.

“Ini karena anak merengek-rengek minta salat ke Masjid Raya Baiturrahman. Kalau saya sendiri takut berjemaah, makanya saya dari tadi memilih salat jauh dari saf orang lain, malam selanjutnya saya akan melaksanakan tarawih sendiri di rumah,” kata Wahyuka.

Pengajar Ilmu Sosiologi Universitas Syiah Kuala, Marini Kristiani, mengatakan karakteristik masyarakat Aceh dalam memandang hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam masih bergantung pada fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh ulama lokal.

“Kalau ulama setempat mengeluarkan imbauan atau fatwa tidak apa-apa salat berjemaah walaupun sedang pandemi Covid-19, itu menjadi landasan atau pegangan bagi masyarakat Aceh untuk tetap salat berjemaah di masjid,” kata Marini.

“Sebaliknya, jika ulama di Aceh tidak membolehkan untuk salat tarawih berjamaah, barangkali masyarakat juga akan mendengarkan dan akan melakukan salat sendiri di rumah,” tambahnya. (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.