Cerita Arsitek Terkemuka Asal Belanda di Indonesia yang Masuk Islam

Cerita Arsitek Terkemuka Asal Belanda di Indonesia yang Masuk Islam
Jakarta, Obsessionnews.com - Kabar soal masuknya presenter Deddy Corbuzier sebagai seorang mualaf masih cukup ramai diperbicangkan di publik. Hal ini tentu bukan karena tidak ada alasan, sebab Deddy bukanlah orang biasa, dia adalah publik figur yang namanya sudah dikenal di jagad nusantara. Namun Deddy bukanlah orang katolik pertama yang menjadi mualaf di Indonesia.   Baca juga:Gus Miftah Pusing Selalu Ditanya Deddy Corbuzier Sudah Sunat Belum? Ini JawabannyaDeddy Corbuzier Sah Masuk Islam Disaksikan Kapolda DIYGus Miftah Pastikan Prosesi Pembacaan Syahadat Deddy Corbuzier di TV Batal   Cerita mengenai para mualaf sudah banyak bermunculan sejak dulu. Hanya saja di masa kolonial Belanda tidak banyak orang Eropa yang masuk Islam di Hindia Belanda (Indonesia). Dua nama dapat menjadi contoh dari yang sedikit itu, yakni Snouck Hurgronje dan Charles Prosper (C.P.) Wolff Schoemaker. Nama pertama mungkin sudah akrab di tellinga masyarakat Indonesia. Kisahnya kontroversial. Snouck adalah seorang mata-mata pemerintah kolonial, mantan penganut Protestan, kemudian menjadi seorang muslim. Dia fasih beragam bahasa dan ilmu-ilmu humaniora sehingga berhasil duduk di kursi profesor Universitas Leiden. Nama kedua tak begitu sohor seperti Snouck. C.P. Wolff Schoemaker adalah seorang arsitek berkebangsaan Belanda. Dia memberi kota Bandung wajah modern nan apik melalui bangunan rancangannya sepanjang periode 1920—1930-an.C.P. Schoemaker lahir di Banyubiru, Ambarawa, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1882. Ayahnya bernama Jan Prosper (J.P.) Schoemaker, seorang pensiunan kapten Koninklijk Nederlansch Indisch Leger (KNIL atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Keberadaan ayahnya dulu sangat dikwatirkan oleh pribumi karena akan membawa pengaruh kristen ke Indonesia. Namun ia tak menyangka justru anaknya malah masuk Islam. "Dengan alasan yang tidak diketahui, Wolff Schoemaker keluar dari agama Kristen Katolik sekitar 1915 dan menjadi seorang muslim,” tulis C.J. van Dullemen dalam Arsitektur Tropis Modern Karya dan Biografi C.P. Wolff Schoemaker, seperti dikutip Historia, Rabu (3/7/2017). Ada dua cerita mengapa Schoemaker masuk Islam. Pertama ia disebut sudah mencintai kebudayaan Islam sejak Direktur di Gemeentewerken Batavia. Gemeenterwerken adalah Dinas Pekerjaan Umum. Schoemaker menjabat direktur bagian Batavia selama 1914—1917 kala itu. Versi cerita kedua disebabkan bahwa mojang Priangan menjadi penyebab kepindahan agama Schoemaker. Namun ada beberapa pihak yang meragukan soal kabar ini. Sebab, versi lain menceritakan ia menikah empat kali baik sama-sama dengan orang Belanda dan juga satu lainnya orang Tionghoa. Keputusan Schoemaker menjadi seorang muslim tersebar luas baru pada 1930-an. Ketika itu dia telah menjabat sebagai asisten profesor dalam bidang sejarah arsitektur dan ornamen di Technische Hoogeschool Bandoeng (THB, sekarang Institut Teknologi Bandung). Dia mulai menggunakan nama Kemal untuk menunjukkan identitas Muslim. Banyak orang-orang di sekitar Schoemaker mulai bereaksi. Para mahasiswanya dari kalangan anak negeri menaruh hormat atas keputusan Schoemaker masuk Islam. Schoemaker seorang berpendidikan tinggi, mempunyai reputasi bagus sebagai arsitek, dan berselera tinggi terhadap seni dan budaya. Maka keputusan Schoemaker menjadi muslim dianggap turut mengangkat marwah Islam di mata kolonialis. Lazim pada masa itu, kolonialis memandang Islam sebagai agama terbelakang dan umat muslim adalah orang-orang anti-ilmu pengetahuan. Tetapi Schoemaker enggan repot dengan pendapat orang. Dia terus giat menggali Islam dan bergabung ke organisasi Islam seperti Persatoean Islam Barat di Bandung. Atas nama organisasi itulah dia menulis sebuah pengantar di buku Cultuur Islam karya Mohammad Natsir (kelak menjadi tokoh Masyumi) pada 1937. Dalam pengantar buku termaksud, Schoemaker memuji Islam sebagai pendorong maujudnya semangat dan peradaban ilmiah di Eropa pada abad pertengahan. Menurutnya, orang-orang Eropa berutang kepada ikhtiar filsuf dan ilmuan muslim dalam mengkaji kembali karya-karya pemikir Yunani dan Romawi di bidang filsafat, kebudayaan, dan sastra. “Semangat ini dengan lekas masuk ke benua Eropa (terutama dengan melalui Spanyol) dan terus mendirikan persediaan untuk Kebangkitan (Renaissance) pada akhir-akhir Abad Pertengahan,” tulis Schoemaker. Meski memuji peranan Islam di Eropa, Schoemaker juga mengakui adanya degradasi peradaban pada sebagian besar umat muslim pada abad ke-20. Dengan kata lain, munculnya Renaissance di Eropa justru tidak dibarengi dengan kemajuan Islam di negara-negara lain. “Kemunduran Kebudayaan Islam yang tadinya amat luhur itu, antara lain, disebabkan oleh percampuran bangsa, dan karena orang-orang Islam di zaman belakangan itu tidak sanggup menjalankan semua ajaran agama yang semulia ini, dengan sempurna, yang pada hakikatnya amat keras mendorong kepada kemajuan dan kemenangan dunia,” ungkap Schoemaker. Merancang Masjid Schoemaker berani mengatakan arsitektur di kalangan umat Islam tengah merosot setelah melihat bentuk-bentuk masjid di Hindia Belanda. Menurutnya masjid-masjid di Indonesia tidak ada yang menarik yang mengandung nilai budaya. “Demikianlan di seluruh tanah Jawa ini, boleh dikatakan tidak ada satu pun masjid yang menarik perhatian dan membangunkan semangat. Tidak ada satu pun yang mempunyai arti sebagai buah arsitektur, baik tentang bangunnya ataupun tentang buatan bagian-bagiannya yang terkecil,” demikian Schoemaker memberikan penilaian. Lima tahun sebelum kritik Schoemaker muncul di buku Cultuur Islam, dia telah merancang sebuah masjid berdasarkan gagasannya tentang arsitektur Islam. Masjid ini terletak di Nijlandweg (sekarang Jalan Cipaganti), Bandung. [caption id="attachment_285219" align="alignnone" width="640"] Masjid Cipaganti Bandung karya Schoemaker.[/caption] Masjid ini menampilkan pengaruh Arab, Eropa, dan tradisional Hindia Belanda. Pengaruh Arab tersua dalam lengkung tapal kuda di pintu masuk dan hiasannya, yaitu keramik masjid dengan teks huruf Arab. Pengaruh Eropa muncul dalam denah simetris berbentuk salib Yunani. Gaya ini biasa Schoemaker pakai dalam bangunan rancangannya seperti Gereja Bethel dan Jaarbeurs. Bentuk atap masjid menyerupai atap gereja Bethel dengan bertumpu pada konstruksi baja modern. Konstruksinya sangat mirip dengan pendopo Jawa. Inilah masjid pertama dan terakhir rancangan Schoemaker. Dia tak pernah lagi mewujudkan gagasannya tentang bagaimana seharusnya arsitektur Islam. Dia lebih banyak merancang bangunan swasta untuk fungsi profan sampai akhirnya Schoemaker wafat di Bandung pada 22 Mei 1949. (Albar)