Senin, 18 November 19

BUMN Genjot Pembangunan Bandara JB Soedirman

BUMN Genjot Pembangunan Bandara JB Soedirman
* Menteri BUMN Rini Soemarno saat meninjau pembangunan Bandara JB Soedirman, Sabtu (11/5/2019). (foto: twitter @kementerianbumn)

Jakarta, Obsessionnews.com – Tampaknya Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bakal mengenjot pembangunan Bandara Jenderal Besar (JB) Soedirman di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng), selesai dalam 12 bulan ke depan. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah tersebut.

Bandara JB Soedirman tadinya merupakan Pangkalan Udara Militer type C yang terletak di Purbalingga. Lanud Jenderal Besar Soedirman merupakan bandara militer yang dikelola oleh TNI Angkatan Udara. Pangkalan Udara TNI AU Jenderal Besar Soedirman bermarkas di bandara ini.

Pada 24 Maret 2015 bersama dengan Pangkalan Udara Sugiri Sukani dan Pangkalan Udara Harry Hadisoemantri berubah status dari type D menjadi type C dilaksanakan di Lanud Wirasaba. Upacara peresmian dilaksanakan di lapangan apel Lanud Wirasaba. Selaku Inspektur Upacara Panglima Komando Operasi TNI AU I Marsekal Muda TNI A. Dwi Putranto pada saat itu.

 

Baca juga: BUMN Diminta Bantu Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Miskin di Jateng

 

Pada HUT TNI Angkatan Udara Ke-69 tahun 2015, Lanud Wirasaba mendapat penghargaan sebagai Lanud Tipe C terbaik di bawah jajaran Komando Operasi Angkatan Udara I. Pada 7 November 2016, Lanud Wirasaba berganti nama menjadi Lanud Jenderal Besar Soedirman.

Sejarah Singkat Pangkalan TNI AU Wirasaba

Pada 1938 pangkalan udara ini dibangun oleh Belanda, Tahun 1942-1945 dikuasai oleh Jepang, sedangkan 1945-1947 dengan bertekuk lututnya Jepang, Pangkalan Udara Wirasaba dikuasai oleh pemerintah RI (TNI AU) dengan komandan yang pertama adalah Sersan Mayor Udara Soewarno.

1947-1950 setelah Jepang bertekuk lutut, maka Belanda kembali akan merebut Republik Indonesia. Dengan tidak adanya pasukan Pertahanan Pangkalan di Pangkalan Udara Wirasaba, maka dengan mudah pangkalan dikuasai Belanda.

Tahun 1950, dengan takluknya Belanda pada waktu itu, maka Pangkalan udara Wirasaba diserahkan kembali kepada Pemerintah RI (TNI AU) dengan Komandan yang kedua (yang menerima penyerahan dari Belanda) adalah Opsir Muda Oedara (OMO) Warim. Pada Juni 1946 Opsir Udara II H.Sujono bersama KASAU Komodor Udara Suryadi Suryadarma terbang ke Wirasaba (Purwokerto) untuk membuka secara resmi lapangan udara tersebut.

Nama Pangkalan Udara ‘“Wirasaba”’ diambil dari nama seorang pangeran yaitu “Pangeran Wirasaba”. Pangeran Wirasaba adalah Bupati Banyumas dan pendiri Daerah Tingkat II Purbalingga yang sangat berkharisma.

Pergantian Nama Pangkalan TNI Angkatan Udara

Pangkalan TNI AU Wirasaba, di Kabupaten Purbalingga, secara resmi berganti nama menjadi Pangkalan Udara TNI AU Jenderal Besar Soedirman. Hal itu dikarenakan, Panglima Besar Jenderal Soedirman terlahir di Purbalingga, pada 24 Januari 1916. Pada saat itu, peresmian nama baru tersebut dilakukan oleh Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I TNI AU, Marsekal Muda TNI Yuyu Sutisna, di Pangkalan Udara TNI Jenderal Besar Soedirman, Purbalingga. Penggantian nama dimaksudkan agar seluruh jajaran TNI AU dan masyarakat sekitar Lanud dapat meniru semangat besar Panglima Besar Jenderal Soedirman.

 

Baca juga: Bandara Kertajati Sepi Penumpang, Menhub: Itu Ide Pemprov Jabar

 

Selain memberi keuntungan dalam meningkatkan perekonomian daerah, kehadiran bandara ini dapat mendukung tugas TNI dalam melaksanakan operasi militer.

Untuk itu, Menteri BUMN Rini Soemarno meminta pembangunan Bandara JB Soedirman di Purbalingga dapat dirampungkan pada 2020. Hal itu dikatakan Rini saat meninjau pembangunan Bandara JB Soedirman, Sabtu (11/5/2019).

“Jadi pokoknya targetnya puasa tahun depan semua sudah selesai, sudah bisa testing runway, jadi pas waktunya mudik, pesawat komersial sudah bisa operasi,” kata Rini.

Dia membandingkan, pembangunan Yogyakarta International Airport yang memiliki runway sepanjang 3.000 meter selesai dalam waktu 12 bulan. Oleh karena itu, dalam kurun waktu yang sama, pembangunan Bandara JB Soedirman yang memiliki runway lebih pendek yakni 1.600 meter diharapkan dapat selesai.

“Kalau pendanaan tidak ada masalah, alhamdulillah pembebasan lahan sampai dengan 1.600 runway-nya sudah selesai. Kita juga harus menyiapkan emergency area untuk pemadam kebakaran dan sebagainya sudah ada tempatnya. Kalau itu sudah semua, insya Allah kita bisa selesai cepat,” ujar Rini.

Keberadaan Bandara JB Soedirman sangat diperlukan untuk mengembangkan perekonomian di wilayah Jateng bagian selatan. Pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut dinilai sangat baik.

“Presiden juga kan sudah menekankan betul mengenai Bandara Wirasaba (JB Soedirman) ini. Ini kan bagian selatan yang pertumbuhan ekonominya sangat baik. Jadi kalau nantinya ada bandara, kami yakin akan lebih baik lagi,” ujar Rini.

Selama ini banyak investor asing yang menanamkan modalnya di Purbalingga. Namun, salah satu kelemahan di wilayah Jateng Selatan ini adalah soal konektivitas. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.