Minggu, 24 Maret 19

BPH Migas Kerja Keras Mengawal Kebijakan BBM 1 Harga

BPH Migas Kerja Keras Mengawal Kebijakan BBM 1 Harga
* Road Map dan Progress BBM Satu Harga
Dr. Ir. M. Fanshurullah Asa,M.T

Jakarta, Obsessionnews.com – Kiprah Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di bawah nakhoda Dr. Ir. M. Fanshurullah Asa,M.T. dalam melakukan pengaturan pengawasan terhadap penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas bumi telah menorehkan banyak kesuksesan.

Dalam melakukan pengaturan agar ketersediaan dan distribusi BBM yang ditetapkan pemerintah dapat terjamin di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), BPH Migas harus mengawal penerapan program BBM 1 Harga di seluruh NKRI khususnya pada daerah 3 T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) sesuai arahan Presiden RI yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 36 Tahun 2016.

BBM 1 Harga merupakan kebijakan menyeragamkan harga jual resmi BBM jenis Premium sebesar Rp6.450 per liter dan Solar Rp5.150 per liter hingga ke daerah-daerah pelosok Indonesia. Kebijakan ini mengikuti pencabutan subsidi BBM jenis premium dan pemberian penugasan kepada Pertamina dan badan usaha swasta untuk menyalurkan BBM ke daerah terpencil melalui pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di tempat tersebut dan mengatur penyalurannya secara rutin baik melalui darat, laut, maupun udara.

Menteri ESDM Ignasius Jonan merasa bangga karena Program BBM 1 Harga merupakan satu-satunya program strategis Nasional yang berhasil dilaksanakan 100%. Ia menghimbau agar BPH Migas untuk tetap fokus dalam mengawal dan mengawasi pelaksanaan BBM 1 Harga. Selain sebagai perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, penerapan Program BBM 1 Harga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi meski masih dirasakan dalam lingkup terbatas. Pasalnya, titik-titik penerapan program ini menyasar daerah 3T yang harga BBM sebelumnya di wilayah tersebut lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya, seperti di Pulau Jawa.

Dengan adanya program BBM 1 Harga, masyarakat dapat memperoleh harga BBM yang terjangkau sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk memperbaiki taraf hidup perekonomiannya. Karena itu, salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penerapan Program BBM 1 Harga adalah Papua. Karena harga BBM di wilayah Papua kerap jadi sorotan lantaran lebih tinggi ketimbang harga yang berlaku di Pulau Jawa dan wilayah lainnya yang bisa mencapai Rp40.000,- hingga Rp100.000,-/ liter.

Banyak harapan masyarakat di daerah terpencil ditumpukan kepada BPH Migas dalam penyaluran BBM 1 harga ini. Seperti diutarakan warga Nabire, Papua melalui Asisten II Bidang Administrasi Pembangunan Sekda Kabupaten Nabire, Aif Syarifudin yang berharap penerapan BBM 1 Harga bisa berlangsung dengan lancar dan aman. Nabire, kata Aif, butuh percepatan penerapan BBM 1 Harga mengingat letak geografis daerah ini strategis, diapit beberapa kabupaten baik dari pegunungan, terdiri dari empat sampai lima kabupaten juga di pesisir.

“Kami berharap, ke depan penyaluran BBM bisa dirasakan seluruh masyarakat. Dengan distribusi BBM secara merata akan meningkatkan aspek ekonomi,” lanjutnya.

Sementara pengamat ekonomi Universitas Cendrawasih Ferdinand Risamasu menyatakan, Program BBM 1 Harga berdampak positif bagi perekonomian wilayah di Papua dan Papua Barat. Dampak terasa pada sektor logistik dan membantu kelancaran transportasi warga. Ia menyatakan program tersebut berdampak baik pada usaha dan bisnis transportasi, terlebih, yang berada di wilayah pegunungan. Manfaat program ini juga dirasakan petani bawang di Desa Raekore, Sabu Barat, Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Salah satunya, Octovianus Alexander Rajariwu.

Ia menuturkan, sebelum ada program BBM 1 Harga, para petani bawang di desanya, harus berpikir dua kali untuk membajak sawah. Selain harga BBM mahal, untuk mendapatkannya penuh perjuangan dengan jarak tempuh hingga 6 kilometer (km). “Harga bensin kisaran Rp100.000 sampai Rp200.000 per liter. Kami dijatah 1,5 liter seukuran botol air mineral,” katanya.

Bahan bakar tersebut, sambungnya, tidak cukup untuk menggerakkan mesin traktor secara maksimal. Alex dan petani lainnya pun terpaksa patungan membeli BBM berharga mahal ke pengecer agar sedikit bisa membantu menggerakkan traktor. “Tapi sejak akhir Agustus lalu, BBM 1 Harga sudah masuk di wilayah kami. Harga bensin sudah sama dengan di Jawa, Rp6.450 per liter. Jadi, saya bisa gunakan traktor semaksimal mungkin. Pasokannya BBM-nya juga lancar,” jelasnya.

Tak hanya panen yang meningkat, kemudahan mendapatkan bahan bakar melalui program tersebut, membuat masyarakat mendapatkan harapan baru untuk menggarap sawah dan ladangnya. Kehadiran titik penyalur BBM 1 Harga di wilayah 3T ini telah terbukti membawa dampak positif bagi masyarakat setempat. Karena, dengan pengeluaran transportasi makin menurun, produksi mereka bisa makin meningkat sehingga denyut nadi ekonomi warga bergerak cepat. (Rudi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.