Kamis, 2 Desember 21

BPH Migas Dukung Optimalisasi Pelabuhan Terminal Kijing

BPH Migas Dukung Optimalisasi Pelabuhan Terminal Kijing
* Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa saat meninjau pelabuhan Terminal Kijing Mempawah, Kalimantan Barat, pada Selasa (18/5/2021). (Foto: Istimewa)

Jakarta, obsessionnews.com – Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) M Fanshurullah Asa meninjau pelabuhan Terminal Kijing Mempawah, Kalimantan Barat, pada Selasa (18/5/2021). Dalam kunjungannya, Fanshurullah didampingi oleh Sekda Kabupaten Mempawah Ismail dan SAM Pertamina Kalbar Weddy Surya Windrawan.

Fanshurullah mengungkapkan, terminal Kijing diproyeksikan akan menjadi kawasan pelabuhan terbesar di Kalimantan serta akan menjadi salah satu pelabuhan strategis di Indonesia.

Luas total kawasan ini mencapai 200 hektare dengan trestle sepanjang 3,45 km serta dirancang mampu melayani kapal kontainer dengan kapasitas di atas 10 ribu TEUs (twenty-foot equivalent unit), yang menggambarkan ukuran sebesar container 20 feet, yang 40 feet berarti 2 TEUs.

“Terminal peti kemas di Kijing dibangun dengan kapasitas 2 juta TEUs per tahun. Tentu saja potensi tidaklah sebatas peruntukan peti kemas, yang lain termasuk Storage maupun jaringan pipa layak untuk bisa dimanfaatkan secara optimal,” ujar Fanshurullah dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/5).

Untuk itu, BPH Migas dengan Pertamina, AKR, sedang berupaya memaksimalkan utilisasi di sektor Hilir Migas untuk Terminal Kijing. Saat ini dengan Untan juga sudah MoU, bekerja sama untuk melakukan kajian akademik memaksimalkan utilisasi sektor Hilir Migas di pelabuhan ini.

“Terminal Kijing adalah pelabuhan yang orisinil dibangun PT. Pelindo mulai dari nol, karena itu, pemanfaatannya mesti dimaksimalkan,” ucap Fanshurullah.

Sebagai contoh upaya pemanfaatan, bagaimana TBBM Siantan yang draf kedalaman cuma 4 m karena sedimentasi disarankan segera dipindahkan. Setiap bongkar harus dipindahkan dulu ke kapal-kapal kecil yang membuat hi cost, berdasarkan kajian akademik agar bisa dipindahkan di Kijing sehingga ada efisiensi.

Selain itu elpiji PT. Gemilang Asia Sejahtera, walaupun masih luas dan punya tongkang, meski saat ini masih bisa masuk, tapi penting juga pertimbangkan bergeser ke Kijing. Demikian pula AKR, mereka lagi lelang untuk chemicalnya ke BAI, jika menang maka probabilitas untuk pindah besar, karena mobilitas akan lebih cepat.

“Karena itu Pertamina mesti siap, jangan sampai kalah dengan swasta,” ucapnya.

Kemudian LNG, lanjut Fanshurullah, meskipun gas tidak ada di Kalbar, namun ada peluang dari Natuna diangkut dengan kapal LNG, diarahkan untuk kawasan industri.

“Nanti akan kita lelang jaringan untuk kawasan industri. Tahap awal bisa disiasati dengan menggunakan isotank,” katanya.

Kalau LNG bisa dimanfaatkan dengan membangun storage , maka masyarakat Kabupaten Mempawah bisa menggunakan jargas berbasis LNG, dan ini bisa menjadi percontohan, ini bisa menjadi yang pertama kali di Indonesia .

Selama ini yang ada karena gas bumi sudah ada di lokasi tersebut. Karena itu agar Kabupaten Mempawah terus koordinasi dengan Komisi VII DPR RI, agar bisa segera diwujudkan.

“Pipa trans Kalimantan itu rencana jangka panjang, tetapi jangka pendeknya penting dibangun storage, skema boleh APBN, boleh investasi,” ujarnya.

Di Natuna, kata dia, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik gas mengalir dari Natuna blok B ke Singapura dan Malaysia, setidaknya 200 MMSCFD, padahal jarak Natuna ke Kalbar hanya 500 km. Di dalam rencana induk jaringan transmisi gas bumi nasional tahun 2012 sudah ada Kepmen nomor 1033, pipa akan dibangun dari sana kesini.

“Sekarang disini saja dibuat landbase dan gunakan isotank,” ungkapnya.

Sementara itu, Ismail menyampaikan, Mempawah komitmen dan mendukung penuh yang disampaikan Kepala BPH Migas. Selain sudah menyurati, juga berharap dukungan penuh dari Kementerian ESDM, demikian pula Komisi VII DPRRI.

“Apresiasi untuk BPH Migas yang kesekian kalinya menegaskan dan menguatkan untuk Terminal Kijing, terlebih untuk upaya perwujudan jargas di Kabupaten Mempawah. Semoga ini bisa menjadi daya ungkit untuk perekonomian Mempawah,” ujar Ismail.

Selanjutnya Manajer Kawasan Terminal Kijing PT Pelindo Helmi M. Yusuf menjelaskan bahwa saat ini pembangunan Terminal Kijing sudah mencapai progress 90%.

“Direncanakan akan diresmikan Presiden 17 Juni nanti atau paling lambat setelah perayaan HUT kemerdekaan,” ujar Helmi.

Lebih jauh secara interaktif menyampaikan bahwa peluang kerja sama terbuka untuk kalangan dunia usaha, baik yang dekat akses maupun yang diluar, termasuk Wilmar ataupun pecahannya yang rencananya akan memasang jaringan pipa, posisi disiapkan dengan memanfaatkan akses yang memungkinkan.

Ada juga beberapa perusahaan CPO yang siap masuk disini. Tentu statusnya menyewa dengan perhitungan yang rasional saling menguntungkan, biasanya ton m3. Demikian pula pipa lainnya, BBM ataupun gas sangat memungkinkan. Pipa nanti dipasang menyeberangi bawah trestle.

Weddy menyampaikan, Pertamina memang sudah melakukan beberapa kali kajian untuk kemungkinan pemindahan TBBM Siantan ke tempat lain dalam hal ini Kijing.

Mengingat kondisi alam di sekitar Siantan sudah tidak kondusif, sekarang sudah banyak resiko, adanya pendangkalan sehingga harus dilakukan ship to ship yang tentu cost besar.

“Sementara ini yang paling mendesak untuk relokasi sepertinya TBBM,” ujar Weddy. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.