Kamis, 29 September 22

Baru Ada dalam Sejarah, Golkar Dipermainkan

Baru Ada dalam Sejarah, Golkar Dipermainkan

Golkar yang kemudian berubah nama menjadi Partai Golkar, adalah partai tua, yang sarat pengalaman dan berisikan orang-orang pintar di negeri ini. Sehingga selama ini partai tersebut selalu diperhitungkan dalam jagad perpolitikan tanah air. Juga disegani lawan atau pun kawan. Jarang sekali Golkar diremehkan apalagi dipermainkan. Justeru Golkar-lah yang selama ini selalu memegang kendali permainan. Pertanyaan dan persoalannya apakah keadaan tersebut berlaku sekarang ini?

Bicara Golkar saat ini, sungguh sangat memprihatinkan, tidak saja terseok-seok saat Pemilu. Mereka pun gagal dalam beberapa hal. Seperti kita ketahui bahwa hasil Pemilu lalu, partai beringin hanya mampu meraih suara di bawah seratus kursi anggota DPR RI. Padahal sepanjang sejarah kiprahnya di dunia politik, Golkar selalu menyabet kursi anggota dewan di atas seratus, dan selalu menjadi pemenang Pemilu. Golkar hanya pernah kalah di Pemilu 1999, tetapi lima tahun berikutnya mereka kembali jadi pemuncak kontes partai politik.

Kegagalan partai warisan Orde Baru ini tidak hanya dalam mengumpulkan kursi anggota dewan, tetapi juga dalam mewujudkan impiannya untuk menjadi penguasa pemerintahan. Karena mereka gagal mengantarkan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie (ARB) atau yang dikenal dengan sebutan Ical menjadi calon Presiden (Capres). Bahkan untuk menjadi calon Wakil Presiden (Cawapres) pun tidak ada partai politik yang mau mendukungnya, Mengapa?

Bagi yang sekarang membentuk pengurus Partai Golkar tandingan atau yang lebih dikenal dengan sebutan kubu Agung Laksono atau kubu Munas Ancol Jakarta, menganggap bahwa semua keterpurukan itu adalah karena ARB dianggap tidak mampu mengurus partai. Ical dituding mengelola partai seperti mengelola perusahaan, jadi pantas gagal. Dan karenanya mereka berontak dan menuntut regenerasi untuk menyelamatkan Golkar.

Pertanyaannya, benarkah semua tudingan tersebut? Kita lihat rentetan peristiwanya, pertama saat Pilpres 2014 lalu, ARB dengan lincahnya mendekati semua partai atau kelompok, tujuannya tentu saja untuk mewujudkan impiannya menjadi orang nomor satu di Indonesia, toh, partainya adalah pemenang Pemilu kedua setelah PDIP sebagai pemuncak klasemen. Nyatanya tidak ada partai yang bersedia diajak kompromi mendukungnya. Bahkan untuk jabatan Cawapres sekalipun tidak mendapat tanggapan yang sepadan.

Karena itu, mau tidak mau partai besar itu harus berlabuh kepada partai politik yang lebih kecil, yakni Gerindra dan PAN. Golkar dipaksa oleh keadaan harus mendukung jago yang diusung kedua partai tersebut. Dalam pandangan umum tentu anggap hal tersebut seolah-olah Golkar telah dimainkan atau dipermainkan partai kecil. Dan meskipun dalam Koalisi Merah Putih (KMP) Ical ditunjuk sebagai koordinator, tetapi publik menilai bahwa jabatan itu diberikan sekedar menutupi rasa malu saja.

Kedua, pasca Munas Bali, di mana didalam Munas peserta memberikan rekomendasi dan mandat kepada Ketum terpilih ARB untuk memperjuangkan penolakan Perppu Pilkada langsung yang dikeluarkan mantan Presidem Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). ARB diminta berjuang melalui Fraksi Golkar di DPR RI menolak Perppu itu menjadi undang-undang. Dan saat Munas, kabarnya Ical menyanggupi melaksanakan rekomendasi itu. Namun kemudian sikap ARB itu berubah setelah Ketum Partai Demokrat (PD) yang mantan Presiden SBY membuat manuver politik dengan merapat ke Jokowi atau Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Dalam pernyataan selanjutnya, ARB tidak menolak Perppu, tetapi malah mendukungnya.

Ketiga, saat terjadi sengketa kepengurusan partai antara kubu Munas Bali melawan kubu Munas Jakarta. Ical dan kawan-kawan merasa yakin bahwa kelompoknyalah yang akan segera direstui atau disahkan pemerintah lewat Menteri Hukum Dan Hak Azasi Manusia (Menkum dan HAM). Nyatanya laporan dan pengajuan kepengurusan mereka ditolak. Padahal sepanjang sejarah jarang sekali keinginan Golkar tidak direspon positif pemerintah. Selama ini nyaris semua kebijakan dan keinginan partai beringin berhasil dicapai. Mengapa kali ini gagal?

Lagi-lagi publik menudingnya, karena faktor ARB. Benarkah? Kalau saya melihatnya dari hukum sebab akibat. “Sopo Nandur Bakal Ngunduh”. Semua tentu berasal dari sebab akibat, barangkali hukum alam berlaku pula bagi Golkar.Bahwa tidak ada pesta yang tidak berakhir. Hidup ini bergantian kadang di atas, suatu ketika harus di bawah. Dulu bisa mempermainkan, sekarang giliran dipermainkan. Jadi ini hal yang biasa. (Arief Turatno)

 

Related posts