Senin, 23 Mei 22

Bankir Hebat di Balik Bank yang Kuat (Bagian 3)

Bankir Hebat di Balik Bank yang Kuat (Bagian 3)
* Direktur Utama Bank BRI Asmawi Syam, (Foto-foto: Sutanto/Men's Obsession & dok. Humas BRI).

Di belakang bank yang kuat, ada bankir yang hebat. Adagium ini tepat disematkan untuk BRI. Karena dalam perjalanannya, bank milik negeri ini lebih sering memperlihatkan kinerja yang mengkilat dan itu tentu tak lepas dari bankir-bankir hebat di belakangnya. Seperti sekarang, bank microfinance terbesar di dunia ini sekarang dinakhodai Asmawi Syam. Sosok bankir professional yang sudah kenyang ‘makan asam garam’ dunia perbankan nasional karena mengawali karir di bank ini mulai dari bawah.

7
Kinerja BRI mengkilat.

Tak heran kalau banyak staf dan karyawan BRI menilai Asmawi sebagai pemimpin yang penuh tanggungjawab serta pekerja keras. Baginya pekerjaan dan posisi yang diraihnya ini merupakan ibadah yang diamahkan kepadanya. Untuk itu, ia tak main-main. Sejak dulu ia selalu berusaha dan bekerja keras untuk bisa melampaui target yang diharapkan.

Seperti misalnya, sejak ia diberi amanah dan tanggungjawab sebagai Direktur Utama BRI, tugas dan tanggungjawabnya tak hanya membesarkan BRI semata, namun ia merasa memiliki tugas yang lebih besar lagi, yakni ia ingin seluruh masyarakat Indonesia bisa merasakan manfaat kehadiran BRI, “bagi saya adalah salah apabila saya hanya bertanggungjawab membesarkan BRI tanpa rakyat Indonesia merasakan manfaat kehadiran BRI,” tegasnya.

Ya, hingga saat ini kehadiran BRI memang telah dirasakan di seluruh pelosok negeri ini, tak hanya di kota-kota besar. Seperti yang masyarakat ketahui, BRI merupakan bank wong cilik yang kehadirannya sangat berarti bagi masyarakat kecil atau UMKM menengah ke bawah di negeri ini.

Untuk itu tak heran jika BRI telah hadir di seluruh pelosok negeri dengan unit Teras BRI-nya guna membantu serta menjawab semua kebutuhan mereka. Hingga Mei 2016, jumlah unit Teras BRI telah mencapai 2.544 unit. Sementara Teras BRI Mobile atau unit layanan perbankan keliling tercatat sebanyak 611 unit kendaraan dan Teras BRI Kapal satu unit.

Demi masyarakat Indonesia, Asmawi dan timnya bahkan harus rela melayani masyarakat dengan mengarungi ganasnya ombak di kepulauan Tahuna, menyusuri sungai-sungai di pedalaman Kalimantan serta menembus dinginnya pegunungan di daerah Papua. Semua dilakukan juga dengan kemampuan teknologi dalam rangka mewujudkan mimpi rakyat Indonesia terhadap layanan perbankan. “Bayangkan, tanpa tekad yang kuat dan niat yang ikhlas, semua ini mustahil dilakukan,” ucapnya.

Itulah Asmawi, pemimpin humble yang tak ingin bekerja setengah-setengah dalam mengemban amanah. Karena baginya, amanah tak hanya mengandung kepercayaan tapi juga hutang yang harus dibayar.

Sebagai seorang profesional, Asmawi tak hanya sibuk bekerja tanpa memiliki ‘me time’. Asmawi rupanya pandai betul membagi waktu untuk kehidupannya. Sebagai pelepas penat, ia memiliki hobi yang sudah digelutinya sejak masih muda, yakni berolahraga. “Hobi saya adalah olahraga. Hidup saya tidak pernah bisa dipisahka dari olahraga. Sejak sekolah, kuliah, bekerja, hingga sekarang saya bekerja di BRI, olahraga telah menjadi bagian dari gaya hidup saya,” ungkap Asmawi.

Bagi Asmawi, berolahraga memiliki sejuta manfaat. Selain untuk menjaga kebugaran tubuh, baginya olahraga merupakan sarana refreshing dalam menemukan komunitas baru sehingga tidak tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.

Sama halnya dalam mengemban amanah pekerjaan, dalam menekuni olahraga pun ia tak tanggung-tanggung. Asmawi total menekuni olahraga yang digemarinya, yakni Karate dan Golf. Asmawi menekuni olahraga beladiri asal Jepang ini, sejak muda. Selain menjaga kesehatan, baginya menekuni karate bisa membentuk karakter, disiplin serta memiliki nilai-nilai kehormatan dan selalu menjunjung tinggi nilai sportivitas.

Kecintaan Asmawi terhadap karate begitu besar, hingga sampai dengan hari ini dimana dirinya memiliki kesibukan tinggi sebagai seorang profesional, ia belum juga melepas sabuk hitam DAN VI dari Pengurus Besar Institut Karate Do Nasional (PB INKANAS) yang belum lama diraihnya. Asmawi mengakui, ia bahkan masih rajin berlatih di tengah-tengah kesibukannya sebagai Direktur Utama BRI.

Ya, ia begitu mencintai Karate hingga saat ini. Terlebih menurut Asmawi, secara tidak langsung olahraga tersebut juga telah mempengaruhi gaya kepemimpinannya sebagai seorang pemimpin, seperti ia menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa sportivitas, empati serta disiplin tinggi.

Seiring berjalannya waktu, ia menemukan satu passion baru di olahraga yang menurutnya cocok dengan jiwa dan karakternya, yakni Golf. Bagi Asmawi, Karate dan Golf memiliki kesamaan filosofi, yakni menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, integritas, toleransi, dan pengendalian diri. Tak ayal jika kedua olahraga ini telah mendarah daging dalam diri Asmawi, serta telah menjadi booster spirit Asmawi setiap saat.

Asmawi mengaku, ia menekuni kedua olahraga tersebut dengan totalitas tinggi. Ia bahkan pernah menjadi atlet nasional karate di masa mudanya, “Saya total menekuni kedua olahraga ini, tidak sekadar berlatih tapi juga saya menjadi atlet nasional bahkan saat ini saya menyandang tingkatan Sabuk Hitam Dan VI. Begitu juga untuk Golf, saya menekuninya dengan totalitas, saya pernah meraih single handycap. Meski di olahraga golf saya bukan atlit nasional, tapi dengan ketekunan berlatih saya pernah mencapai single handycap,” bebernya tanpa bermaksud membanggakan diri.

Sebagai seorang pemimpin yang bekerja penuh tanggungjawab dalam mengemban amanah, Asmawi memiliki mimpi jika kelak ia tak lagi bekerja untuk BRI, ia ingin mencetak dan meninggalkan pemimpin-pemimpin BRI masa depan yang memiliki kapasitas mumpuni. Hal tersebut dimulai dengan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan yang pantang menyerah, nilai-nilai memiliki rasa bangga terhadap perusahaan serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dalam mengemban amanah. “Itu semua akan menjadi kebanggaan dan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya bagi saya,” pungkasnya.

Lebih lanjut Asmawi menyampaikan bahwa asset yang paling berharga bagi sebuah bank bukanlah gedung yang mewah karena suatu saat gedung mewah bisa menjadi usang dan diruntuhkan untuk dibangun kembali, bukan juga mesin karena suatu saat akan bisa digantikan dengan mesin yang lebih canggih, tetapi manusia yang berintegritas yang tidak akan tergantikan. “Untuk itu saya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Henry Ford; you can take my factories, you can burn my buidling but give me back my people and i’ll built the business right back again,” ungkap Asmawi.

Di samping itu, Asmawi rupanya masih menyimpan mimpi dan obsesi besar tak hanya bagi perusahaan, namun juga bagi kemaslahatan rakyat di negeri ini. Ya, ia ingin para pelaku UMKM Indonesia bisa menjadi pemeran utama perekonomian di Indonesia, tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitas. (Sahrudi, Gyattri Fachbrilian, Suci Yulianita/Majalah Men’s Obsession Edisi Juli 2016/bersambung)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.