Minggu, 24 Maret 19

Bali Jadi Desa Film Pertama di Indonesia

Bali Jadi Desa Film Pertama di Indonesia
* Chief Executive Officer (CEO) Baliwood Land R. Arvin I. Miracelova. (foto: Edwin B/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.com‘Dari Bali untuk Indonesia, Dipersembahkan untuk Dunia’ ungkapan R. Arvin I. Miracelova selaku selaku Chief Executive Officer (CEO) Baliwood Land sebagai motto yang tengah membangun Baliwood Land sebagai desa wisata film di Desa Abiansemal Dauh Yeh Cani, Kabupaten Badung, Bali.

Di tangan dingin Arvin Bali akan dibangun menjadi desa film internasional berbasis budaya lokal sebagai desa wisata (ikon) dunia dan zona global industri konten digital. Baliwood Land hadir seiring pertumbuhan pesat digital media dunia tanpa batas dan perkembangan industri kontennya, dimana Baliwood akan menjadi pusat dunia.

“Dua tahun terakhir ini saya membuat sesuatu di Bali, selaras dengan program pemerintah, yaitu desa wisata film dunia,” ujar Arvin ketika berkunjung ke kantor Obsession Media Group (OMG), Jakarta, Selasa (26/2/2019).

 

Baca juga: Pengembangan Zona Wisata Film di Baliwood Land

 

Area Baliwood Land ini dibuat dengan multi zona, ada wisata film dunia, ada area global produksennya, dan ada juga area edukasi global dengan memberdayakan semua warga desa. “Jadi ini pemberdayaan sekala besar, dinamakan Baliwood Land,” tuturnya.

Pendiri STDC (ScreenTalentsDevelopmentCentre) ini mengungkapkan, untuk membuat Baliwood Land ini seluruh sanggar-sanggar desa tersebut ditransformasi semua menjadi sanggar budaya film.  Dia membuat kampus desa, wahana-wahana film universal, dan juga punya lab estate untuk PH (Produsen House) sekala komunitas berproduksi di Bali.

“Indonesia sebagai pintu gerbangnya. Ini menjadi desa film pertama di Indonesia,” ungkap Arvin yang juga sebagai pendiri Pusat Penyiaran Pengembangan Masyarakat (CDB) itu.

Platform atau rencana kerja ini dibuat mendunia. Kemudian di dalam platform itu ada promotion legent film park, seperti  universal studio luasnya 100 hektar. “Di bali ini sudah kita mulai, kalau secara infrastruktur sudah 20 persen, namun tahun depan sudah jadi semua,” kata Arvin.

Kalau di Baliwood Land itu dia membuat wahana-wahana film di tanahnya BUMNdes dan tanah warga. Jadi turis datang, dia (turis)bisa menjadi artis film dadakan, dibuatkan satu menit film seakan-akan seperti film sungguhan. Misalnya wahana diculik alien Bali. Terus wahana camp Bali travel, wahana Bali Stone.

“Nah itu kita buatkan universal studio versi desa. Playmakernya semua warga desa,” beber pendiri WorldPancasilaInstitute.com ini.

Salah satu Pemenang Pertama IYCE BritishCouncil Award 2011 dan Nokia, Kategori Int.Screen ini mengungkapkan, dirinya dalam merealisasikan Baliwood Land ini dirinya tengah membangun kotets film terluas di dunia. Jadi di setiap rumah warga itu dibuatkan satu sampai dua kamar, seperti hotel, tapi hotel nuansa film.

“Itu nanti ada di seluruh desa, lobinya tersentral satu. Ini wisata filmnya,” jelas  CEO Baliwood Camp, CBD Center, & Media TV Militer itu.

Selain itu, dia membuat kampus desa. Jadi semua sanggar di desa itu ditransform, asset budaya untuk asset produksi. Misalnya ada sanggar tari Bali, lalu dirikan studio koryofilm di tengah-tengahnya. Bagaimana mentrasformasikan tari Bali menjadi koryofilm, belajar music gamelan direkam itu ada adegan filmnya. “Jadi sanggar musiknya itu menjadi sanggar film,” ungkap Arvin.

Tak hanya sampai di situ, dia akan membangun work shop protektik silicon, seperti topeng-topeng karakter bali untuk di ekspor, jadi desa ekspor kerajinan juga. “Nah ini kita bilang desa Wisata. Jadi ada wisata film, kampus desa, dan area industrialnya,” pungkasnya.

Baliwood

Seperti diketahui, Bali akan memiliki wahana edukasi bernama Baliwood Land yang berlokasi di Abiansemal Dauh Yeh Cani, Kabupaten Badung, Bali. Baliwood Land adalah Pengembangan Desa Wisata Film bertaraf Internasional (pionir) yang sedang berjalan,  berbasis Budaya dan pemberdayaan  masyarakat berkesinambungan memiliki multizona yakni zona world tourism (wahana-wahana Film Adventures dikelola oleh warga desa filmmakers) , global community scale production (digital media/filmmaking worldwide) , world friendships (Baliwood TV prog) dan zona edukasi internasional  (cultural assets for film production assets).

Selain itu Baliwood Land membangun ekosistem globalnya melalui sejumlah inisiasi event-event internasionalnya serta global community production melalui cross collaboration cultures

Desa Abiansemal Dauh Yeh Cani ini memiliki nuansa alam mempesona sehingga dipilihlah sebagai lokasi Baliwood Land dan Pencanangan Desa Film Internasional berbasis Budaya Lokal. Selain alam yang masih sangat asri, Dauh Yeh Cani punya potensi besar wahana sport alam berkelas dunia dan jarang dijamah oleh wisatawan.

Desa itu tengah bertransformasi menjadi sebuah desa produksi global dengan mengubahnya menjadi sebuah kampung film. Secara otomatis akan menjadi pengembangan ekosistem non fisik setempat dan akan jadi ikon baru di Bali. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.