Anne Patricia Sutanto, Perempuan Tangguh di Industri Tekstil

Jakarta, Obsessionnews.com - Kinerja positif salah satu owner dan vice chief executive officer PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto patut diacungkan jempol. Bagaimana tidak, perempuan tangguh ini mampu menaikkan pendapatan PT Pan Brothers Tbk pada semester I-2019. Untuk itu, semester II perseroan akan menargetkan pertumbuhan penjualan 15% dari produksi industri pakaian jadi. Hal itu dikarenakan meningkatnya permintaan negara-negara tujuan ekspor untuk menghadapi musim gugur dan dingin. “Pertumbuhan penjualan kami tahun ini bakal ditopang peningkatan ekspor yang diprediksi antara 15-20%. Ekspor perseroan diperkirakan akan terus meningkat, bahkan pertumbuhannya pada 2020 diperkirakan dapat mencapai 30%,” ujarnya. Seperti diketahui, kiprah Anne di industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) terbilang cukup lama. Berawal dari membantu bisnis keluarga, hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi saat ini. Keberhasilan memimpin perusahaan membawanya berada di peringkat 22 dalam daftar The Most Powerful Women in Asia 2015 versi Forbes Asia. Pada 2016, dia masuk sebagai salah satu finalis The Channel News Asia Luminary Award dan terpilih sebagai Indonesia Best Future Business Leader dari majalah SWA. Menekuni bisnis sebenarnya bukanlah cita-cita awalnya, tetapi tak disangka kini malah dijalaninya dengan sangat serius. Dia terpaksa mengambil alih bisnis keluarga, ketika sang ayah terkena serangan stroke. Halaman selanjutnya Meskipun tidak dipersiapkan menjadi penerus, perempuan lulusan Teknik Kimia dari University of Southern California, Amerika Serikat ini bersedia menerima tantangan. Sempat jatuh bangun membesarkan perusahaan keluarga, Anne menyadari bahwa selain pengalaman dibutuhkan pula ilmu yang mampu menunjang kariernya. Dia pun melanjutkan pendidikannya dan meraih gelar Master of Business Administration (MBA) di bidang keuangan dari Loyola Marymount University, Los Angeles, Amerika Serikat. Pada awal karier, dia sempat menjabat posisi di departemen pengembangan bisnis Kayu Lapis Group pada 1995 dan asisten direktur keuangan Grup Keris dari tahun 1997. Anne bercerita, ketika memutuskan untuk bergabung dengan Pan Brothers pada 1997, perusahaan ini sedang dalam kondisi menurun. Belum lagi krisis moneter yang tengah menyerang negara-negara di Asia. “Bersama tim, saya berjuang mencari rekanan, tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Rintangan pertama adalah menyamakan visi sesama anggota tim dalam merancang strategi,” ungkapnya. Lalu dirinya dan dewan direksi memberikan kebebasan kepada setiap tim dalam melaksanakan kegiatan operasional selama masih sesuai dengan strategi maupun policy perusahaan. Kalau target tidak terwujud, berarti setiap tim harus berusaha lagi, agar tercapai suatu solusi dan target. Dia mengungkapkan, penjualan PT Pan Brothers Tbk saat itu baru mencapai US$12 juta per tahun, namun terbukti lewat tangan dinginnya, sekarang sudah di atas US$600 juta. Dengan komposisi 97% produknya diekspor ke berbagai negara di Asia, Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Australia, New Zealand hingga Kanada. Terhitung sejak 22 Juni 2010, Anne pun resmi menjabat vice chief executive officer PT Pan Brothers Tbk. Selain itu, dia juga sukses dalam memimpin PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk., dan menjadi direktur PT Indo Veneer Utama, sebuah perusahaan yang bergerak di industri perkayuan. Ibu dua anak ini juga adalah presiden direktur PT Plymilindo Perdana maupun PT Pancaprima Eka Brothers. Dia ada pula di jajaran direksi PT Homeware International Indonesia, PT Nine Square Indonesia, dan PT Central Energy Pratama. Halaman selanjutnya Ekspansi Bisnis Laporan keuangan mencatat, hingga akhir 2018, pendapatan emiten dengan kode saham PBRX ini mencapai US$611,37 juta atau setara dengan Rp8,55 triliun. Terjadi kenaikan dari tahun 2017 sebesar US$549,36 juta. Laba bersih juga melonjak menjadi US$16,26 juta dari sebelumnya US$7,82 juta pada 2017. Sementara, market share TPT Indonesia baru 1,8% dari pasar dunia. Sehingga masih sangat banyak ruang untuk pengembangan dan merebutnya. TPT Indonesia bisa mencapai 5% bahkan sampai dengan 10% market share dunia dalam satu atau dua dekade ke depan, apabila semua lini dan stakeholders TPT Indonesia mau berkomitmen. Kuncinya adalah bersatu padu untuk tujuan tersebut. Dimulai dari pabrik kecil di Jalan Siliwangi, Tangerang, kini PT Pan Brothers Tbk telah memiliki sekitar 38.000 tenaga kerja, tersebar di 25 pabrik di seluruh Indonesia. “Kami terus merealisasikan dan merencanakan pengembangan, baik di dalam maupun di luar negeri. Bagi kami, rencana jangka pendek, menengah, dan panjang, semua menuju moto Clothing the World with Indonesia Heart,” paparnya. Dalam implementasi rencana dan strategi perusahaan harus adaptif sesuai dengan situasi pasar global maupun dalam negeri, sehingga momentumnya bisa lebih tepat, lalu realisasinya akan lebih jitu. Dengan demikian, risiko akan berkurang dan dapat diatasi dengan baik. Perusahaannya juga terus mempersiapkan SDM dan infrastruktur secara berkesinambungan, sehingga nilai tambah termasuk product compet PT Pan Brothers Tbk sudah mengadaptasi Industry 4.0. Langkah pertama yang dilakukan adalah digitalisasi. Kedua, otomatisasi sebagai bagian dari business process yang ada dalam garment making perusahaan. Anne menjelaskan, saat ini sedang dibangun pabrik tekstil kedua di Tasikmalaya dengan mengusung kedua sistem tersebut. Hal itu dilakukan untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi. “Kami mengalokasikan belanja modal sebesar US$10 juta untuk tahun 2019. Sekitar US$5 hingga 6 juta dari alokasi belanja modal tersebut akan digunakan untuk membiayai penyelesaian pembangunan pabrik kedua di Tasikmalaya,” jelasnya. Otomatisasi yang akan diterapkan adalah dalam proses pemotongan kain, penjahitan, dan meminimalisasi administrasi manual. Walaupun melakukan otomatisasi dan digitalisasi, dia menegaskan tidak akan mengurangi tenaga kerja, tapi justru akan menambah rekrutmen, karena produktivitas bisa digenjot melalui otomatisasi. (Nur Asiah) Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi September 2019





























